Cerita Rahmad Dapat Hidayah di Nusakambangan: Diajari Ngaji dan Bekerja di Tambak Udang

Cilacap – Rahmat Hidayat (32), seorang warga binaan pemasyarakatan (WBP) di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, berbagi kisah perjalanan spiritualnya selama menjal

Jul 08, 2026 - 05:18
0 0
Cerita Rahmad Dapat Hidayah di Nusakambangan: Diajari Ngaji dan Bekerja di Tambak Udang

Cilacap – Rahmat Hidayat (32), seorang warga binaan pemasyarakatan (WBP) di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, berbagi kisah perjalanan spiritualnya selama menjalani pembinaan di pulau yang dikenal ketat tersebut. Pria yang sudah mendekam 2,5 tahun akibat kasus narkotika ini mengaku mendapat banyak hidayah sejak dipindahkan dari Lapas Bentiring, Bengkulu, ke Lapas Nusakambangan.

Saat pertama kali menjejakkan kaki di Lapas Nusakambangan, Rahmat dihantui rasa takut. Dengan kaki yang masih dipasangi GPS sebagai alat pemantau, ia harus beradaptasi dengan lingkungan yang jauh dari keluarga dan kerasnya stigma sebagai narapidana. Namun, jauh dari bayangan suram, di balik jeruji itulah ia justru menemukan titik balik dalam hidupnya.

"Saya takut sekali waktu pertama masuk ke sini. Tapi lama-lama saya sadar, ini mungkin cara Tuhan menuntun saya," ujar Rahmat kepada Terdepan.id, beberapa waktu lalu.

Hidayah itu datang perlahan melalui program pembinaan yang dijalaninya. Salah satunya adalah kegiatan belajar mengaji. Rahmat yang sebelumnya mengaku jauh dari ajaran agama, kini dengan tekun mempelajari huruf hijaiyah dan mendalami bacaan Al-Qur’an bersama para WBP lain di masjid lapas. Para pembimbing, yang merupakan ustaz binaan Lapas Nusakambangan, dengan sabar mengajarinya dari nol hingga ia mampu membaca dengan lancar.

Selain mendalami ilmu agama, Rahmat juga dilibatkan dalam program ketahanan pangan nasional yang digagas oleh Kementerian Imipas (Imigrasi dan Pemasyarakatan). Setiap hari, ia bekerja di tambak udang vaname milik lapas yang terletak di bagian timur Pulau Nusakambangan. Di lahan tambak seluas beberapa hektare itu, Rahmat dan puluhan WBP lainnya dibekali keterampilan budidaya udang secara modern, mulai dari pengelolaan kualitas air, pemberian pakan, hingga panen.

Bagi Rahmat, mencangkul dan merawat tambak bukan sekadar rutinitas pembinaan, melainkan media untuk merenung dan mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Ia seringkali melantunkan doa-doa sederhana di sela-sela kesibukannya, mensyukuri hidayah yang ia terima meski di tempat yang terbatas.

"Setiap pagi saya bangun, salat subuh, lalu mengaji. Habis itu ke tambak. Di tambak itulah saya banyak berpikir, menyesali perbuatan saya dulu, dan bertekad jadi orang yang lebih baik. Saya ingin kembali ke anak dan istri saya sebagai pribadi yang baru," katanya penuh haru.

Program budidaya udang ini sendiri merupakan bagian dari upaya pemenuhan ketahanan pangan dan kemandirian lapas, sekaligus bekal keterampilan bagi WBP agar siap kembali ke masyarakat nanti. Rahmat berharap, ilmu yang didapatnya di balik jeruji bisa menjadi modal untuk membuka usaha sendiri selepas bebas nanti, menjauhkan dirinya dari lingkaran narkotika yang pernah menjeratnya.

Kisah Rahmat menjadi bukti bahwa hukuman penjara, terutama di Nusakambangan yang kerap dianggap menakutkan, justru bisa berubah menjadi ladang hidayah dan kesempatan kedua bagi mereka yang sungguh-sungguh ingin berubah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
lidia-susanto

Editor Ekonomi Digital. Editor transformasi digital dan ekonomi digital.

Comments (0)

User