Serangan Israel ke Lebanon Berimbas ke Pasar Kripto
Jakarta - Meningkatnya tensi konflik antara Israel dan Lebanon turut mengguncang pasar aset digital. Sejumlah token utama kripto melemah signifikan setelah serangan militer Israel ke wilayah Lebano
Jakarta - Meningkatnya tensi konflik antara Israel dan Lebanon turut mengguncang pasar aset digital. Sejumlah token utama kripto melemah signifikan setelah serangan militer Israel ke wilayah Lebanon memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap eskalasi geopolitik di Timur Tengah.
Berdasarkan laporan Terdepan.id, pada perdagangan Jumat (19/6), harga bitcoin sempat anjlok nyaris 5% secara intraday dan menyentuh level US$62.601 atau setara dengan Rp1,11 miliar (dengan asumsi kurs Rp17.826 per dolar AS). Tekanan jual yang cukup dalam ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap dampak konflik terhadap stabilitas pasar keuangan global.
Namun, menjelang penutupan sesi, bitcoin mampu memangkas sebagian kerugian. Harga aset kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar itu kembali naik ke posisi US$63.628, atau menguat sekitar 1,65% dalam 24 jam terakhir. Pergerakan ini menunjukkan bahwa meski sempat terpukul sentimen negatif, minat beli pada level rendah masih cukup kuat untuk menopang harga.
"Ketegangan geopolitik, terutama yang melibatkan kawasan Timur Tengah, sering kali memicu aksi risk-off di pasar keuangan, termasuk aset kripto. Bitcoin yang saat ini makin dianggap sebagai aset berisiko ikut tertekan seiring investor beralih ke safe haven tradisional," ujar seorang analis pasar yang dihubungi Terdepan.id.
Data dari CoinGlass menunjukkan bahwa total likuidasi di pasar kripto pada sesi perdagangan yang sama sempat mencapai US$579,43 juta. Posisi long mendominasi dengan nilai likuidasi sekitar US$496,62 juta, sedangkan posisi short tercatat sebesar US$82,81 juta. Dominasi likuidasi posisi beli ini menandakan bahwa banyak pelaku pasar yang sebelumnya bertaruh pada kenaikan harga justru terjebak ketika bitcoin mendadak terperosok.
Fenomena ini mengingatkan kembali pada episode serupa di masa lalu, ketika ketegangan geopolitik—seperti perang Rusia-Ukraina dan konflik Hamas-Israel pada tahun-tahun sebelumnya—memicu volatilitas tajam di pasar kripto. Analis menilai bahwa meskipun bitcoin sering disebut sebagai ‘emas digital’, dalam jangka pendek pergerakannya masih sangat dipengaruhi oleh sentimen risiko global.
Selain bitcoin, sejumlah altcoin utama juga turut mencatat pelemahan. Pasar kripto secara keseluruhan menunjukkan korelasi yang cukup erat dengan pergerakan indeks saham global yang juga terpengaruh oleh ketidakpastian geopolitik. Investor disarankan untuk tetap waspada terhadap perkembangan lebih lanjut dari konflik Israel-Lebanon, karena potensi eskalasi dapat kembali memicu gejolak di aset-aset berisiko.
Hingga berita ini diturunkan, Terdepan.id terus memantau perkembangan harga bitcoin dan dinamika pasar kripto di tengah memanasnya situasi keamanan di Timur Tengah.
Comments (0)