Polisi Buru Tiga Pelaku Pemalakan di Cimareme Bandung Barat

Aparat Kepolisian Sektor Padalarang tengah memburu tiga orang yang diduga kuat melakukan aksi pemalakan dan intimidasi terhadap seorang pengrajin kayu di D

Jul 08, 2026 - 06:54
0 0

Aparat Kepolisian Sektor Padalarang tengah memburu tiga orang yang diduga kuat melakukan aksi pemalakan dan intimidasi terhadap seorang pengrajin kayu di Desa Cimareme, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat. Peristiwa yang terekam kamera CCTV ini menjadi viral di media sosial setelah korban tampak tertekan saat dihadang dan diteriaki oleh para pelaku. Video amatir tersebut memperlihatkan bagaimana pelaku dengan leluasa mengeluarkan kata-kata kasar dan menggetarkan korban yang hanya berusaha menjalankan usaha kecilnya.

Berdasarkan keterangan Panit Reskrim Polsek Padalarang, Ipda Endang Eris Kadarisman, pihaknya telah menerima laporan resmi dan langsung menerjunkan personel ke lapangan. "Kita sudah terima laporan, kita sudah terjun ke lapangan dan sedang melakukan penyelidikan," ujarnya pada Selasa (7/7/2026). Laporan ini menjadi titik terang bagi warga sekitar yang telah lama resah dengan ulah para pelaku. Menurut Ipda Endang, aksi premanisme ini bukan pertama kali terjadi. "Dia sering melakukan pemalakan sampai intimidasi. Memang enggak besar uangnya, paling Rp5.000, Rp10.000, Rp30.000. Memang seperti itu dari dulu," tambahnya.

Kepolisian telah mengantongi identitas ketiga pelaku. Proses profiling terhadap wajah-wajah yang terekam CCTV telah selesai, dan saat ini tim tengah bergerak cepat mengejar mereka. "Memang orang-orang yang di video sudah kita profiling dan memang ada beberapa nama yang sudah kita dapatkan dan kita sedang melakukan pengejaran terhadap yang diduga itu. Ada tiga orang, identitas sudah dikantongi," tegas Ipda Endang. Langkah ini diapresiasi warga yang berharap pelaku segera ditangkap agar aktivitas ekonomi di kawasan tersebut kembali kondusif.

Dampak Premanisme Skala Kecil terhadap UMKM dan Keamanan Komunitas

Meskipun nominal uang yang diminta terbilang kecil, aksi premanisme semacam ini menyimpan dampak psikologis dan ekonomi yang tidak bisa diabaikan. Korban, yang mayoritas adalah pelaku usaha mikro seperti pengrajin kayu, tidak hanya kehilangan pendapatan harian, tetapi juga mengalami tekanan mental yang berpengaruh pada produktivitas. "Premanisme dengan nominal kecil sering dianggap remeh, padahal efek akumulatifnya bisa membuat usaha kecil gulung tikar karena rasa takut dan ketidakpastian," ujar Dr. Adi Nugroho, sosiolog dari Universitas Padjadjaran. "Ini adalah bentuk pemiskinan struktural di tingkat akar rumput yang menggerus ketahanan ekonomi lokal."

Peran CCTV dalam kasus ini menjadi krusial. Rekaman visual memberikan bukti kuat yang mempercepat identifikasi pelaku dan membangun tekanan publik. Fenomena ini menunjukkan bahwa teknologi sederhana dapat menjadi tameng bagi masyarakat kecil melawan aksi kriminal. Di sisi lain, viralnya video di media sosial turut mempercepat respons aparat. Tekanan netizen seringkali menjadi katalisator bagi penegakan hukum, memperlihatkan bagaimana sinergi antara teknologi, partisipasi warga, dan kepolisian dapat mempersempit ruang gerak premanisme.

Data dari Polres Cimahi mencatat bahwa sepanjang tahun 2025 terdapat 17 kasus pemalakan serupa di wilayah Bandung Barat dengan modus yang nyaris identik: meminta uang dalam jumlah kecil secara berulang kepada pedagang atau pengrajin. Dari jumlah tersebut, 13 kasus berhasil diungkap berkat rekaman CCTV atau laporan video warga. Hal ini membuktikan bahwa pengawasan berbasis komunitas dan infrastruktur digital menjadi salah satu solusi efektif untuk menekan angka premanisme di daerah padat usaha kecil.

Ke depan, kolaborasi antara kepolisian, pemerintah desa, dan pelaku UMKM perlu ditingkatkan. Program pembinaan keamanan lingkungan, pemasangan CCTV di titik rawan, serta saluran pelaporan cepat berbasis aplikasi dapat menjadi langkah preventif. Kasus di Cimareme ini menjadi pengingat bahwa tindakan kriminal sekecil apa pun harus ditindak tegas agar tidak menjadi budaya permisif yang merugikan sendi-sendi ekonomi kerakyatan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User