BANDUNG — Pemkot Bandung Percepat Penertiban Bangunan Liar di Drainase
Di tengah terik kemarau yang masih membekap Kota Bandung, para petugas Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) justru bergerak lebih cepat dari biasa
Di tengah terik kemarau yang masih membekap Kota Bandung, para petugas Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) justru bergerak lebih cepat dari biasanya. Bukan menyiram tanaman atau mengatur irigasi, melainkan menyusuri satu per satu saluran air yang tersembunyi di balik deretan lapak pedagang dan bangunan semipermanen. Di bawah permukaan kota yang sibuk, urat nadi pengendali banjir itu ternyata banyak yang sekarat—tertutup, tersumbat, dan terlupakan.
Temuan Lapangan yang Mengejutkan di Musim Kering
Inspeksi yang digelar sepanjang awal Juli mengungkap fakta yang kontras: meski hujan belum turun, genangan siap mengintai. Saluran drainase di sejumlah titik strategis dilaporkan tidak berfungsi optimal karena tertutup bangunan liar dan lapak pedagang kaki lima (PKL). Beton-beton yang seharusnya mengalirkan air malah menjadi fondasi bagi aktivitas ekonomi informal. Jika hujan deras turun tiba-tiba, air tak punya jalan pulang—dan perkampungan padat di sekitarnya bakal menjadi kolam raksasa.
“Banyak drainase kita tertutup oleh bangunan liar dan PKL yang berada di atas saluran air,” ujar Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, Selasa (7/7/2026).
Pernyataan itu bukan sekadar keluhan. Ia adalah titik awal dari akselerasi penertiban yang digelar secara terukur. Pemkot Bandung sadar: kemarau adalah jendela emas untuk membenahi infrastruktur drainase sebelum siklus hujan kembali membasahi dataran tinggi Parahyangan.
Pendekatan Persuasif: Tiga Lapis Peringatan
Jauh dari kesan arogan, penertiban kali ini mengedepankan pendekatan yang humanis. Tidak ada buldoser yang tiba-tiba merangsek di pagi buta. Wali Kota Farhan menekankan bahwa pemerintah memberi ruang komunikasi sebelum bertindak.
“Kita tidak langsung datang dan membongkar. Sudah ada surat peringatan pertama, kedua, dan ketiga,” katanya.
Strategi tiga tahap ini dirancang agar pemilik bangunan mendapat kesempatan untuk menata ulang usahanya secara mandiri. Bagi pedagang, proses ini mungkin terasa pelik—harus memindahkan lapak dari lokasi strategis yang telah menjadi tumpuan rezeki. Namun di sisi lain, Farhan menegaskan bahwa keselamatan warga dari ancaman banjir tidak bisa ditawar. Setiap peringatan adalah undangan dialog, tetapi bila diabaikan, penertiban menjadi opsi terakhir yang tak terelakkan.
Peringatan BMKG dan Skenario Ekstrem
Langkah antisipatif ini lahir bukan dari spekulasi, melainkan hasil rapat koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Data menunjukkan peluang hujan berintensitas tinggi hanya sekitar enam persen. Angka itu tampak kecil—hampir bisa diabaikan. Namun jangan tertipu. Dalam ilmu iklim, probabilitas kecil bukan berarti risiko rendah.
BMKG memperingatkan bahwa jika hujan ekstrem benar-benar turun, dampaknya berpotensi besar karena kondisi drainase yang rusak. Enam persen itu, kata para ahli, adalah “enam persen yang dapat memicu banjir dengan dampak yang signifikan”. Maka Pemkot Bandung memilih untuk tidak berjudi. Ketika langit cerah, justru saatnya menguatkan barikade di bawah tanah.
Normalisasi Titik Rawan: Lebih dari Sekadar Bongkar
Penertiban bangunan liar hanyalah separuh dari cerita. Di lokasi yang sama, petugas bahu-membahu membersihkan sedimentasi, sampah, dan material yang menghambat aliran air. Lumpur tebal yang mengeras selama berbulan-bulan diangkat, tumpukan sampah plastik yang menyumbat lubang-lubang kecil dikeluarkan dengan telaten. Proses ini bukan sekadar pembenahan kosmetik, melainkan upaya mengembalikan kapasitas saluran ke spesifikasi aslinya.
Normalisasi diprioritaskan pada titik-titik yang selama ini rawan genangan. Peta genangan musim-musim sebelumnya menjadi panduan. Setiap gorong-gorong yang dibersihkan adalah satu langkah lebih dekat menuju kota yang lebih tangguh menghadapi cuaca ekstrem. Seolah Pemkot sedang membangun infrastruktur pertahanan banjir dari titik nol—di musim yang bahkan belum mengirimkan setetes hujan.
Mitigasi Kolektif: Tugas yang Tak Bisa Sendirian
Di ujung rangkaian upaya ini, Farhan menyimpan satu pesan kunci: pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Warga diminta untuk tidak lagi mendirikan bangunan di atas saluran air dan berhenti membuang sampah sembarangan. Tindakan kecil kolektif ini, bila dijalankan, dapat memperkuat seluruh strategi mitigasi banjir secara fundamental.
Ketika saluran air kembali lega dan kesadaran komunal tumbuh, risiko genangan saat cuaca ekstrem melanda dapat diminimalkan. Kota Bandung mungkin masih akan basah ketika hujan turun, tetapi ia tak harus lagi tenggelam.
Comments (0)