Kisah Pedagang Daging di Pasar Senggol Rawa Belong Bertahan Hadapi Zaman
Jakarta - Gelombang modernisasi di sektor keuangan kini menyentuh hampir setiap sudut kehidupan, termasuk pasar-pasar tradisional. Di tengah derasnya arus perubahan itu, potret ketangguhan terpancar
Jakarta - Gelombang modernisasi di sektor keuangan kini menyentuh hampir setiap sudut kehidupan, termasuk pasar-pasar tradisional. Di tengah derasnya arus perubahan itu, potret ketangguhan terpancar dari 'pasar senggol' Rawa Belong, Jakarta Barat. Salah satu sosok yang menjadi saksi bisu pergeseran zaman adalah Arif, seorang penjual daging sapi yang telah menggeluti usaha ini sejak usia remaja.
Arif memulai langkahnya di dunia perdagangan daging saat berusia 16 tahun. Hingga kini, ia setia menempati lapaknya di sepanjang Jalan Ayub, Gang Yahya, Sukabumi Utara, Kebon Jeruk. Setiap pagi, jalanan di kawasan itu menjelma menjadi pasar senggol yang ramai oleh aktivitas jual beli. Di lokasi tersebut, Arif bukanlah satu-satunya penjual daging sapi. Ia dikelilingi oleh sejumlah kompetitor yang turut menawarkan dagangan serupa, menciptakan persaingan bisnis yang cukup ketat.
Saat tim jurnalis Terdepan.id menyambangi lapaknya pada Minggu (21/6) sekitar pukul sepuluh pagi, suasana pasar sudah tidak sesibuk saat subuh. Arif terlihat sedang melepas penat di sela-sela aktivitasnya. Ia duduk di dekat lapak, sesekali mengobrol santai dengan rekan sesama pedagang yang berada di sampingnya. Di tangannya, tergenggam sebuah ponsel pintar yang sesekali ia usap layarnya.
"Toko kami sudah buka dari jam setengah enam pagi. Sampai jam segini, daging saya baru laku tiga kilogram saja," ujar Arif kepada Terdepan.id kala itu.
Ucapannya mencerminkan realita perjuangan para pedagang kecil di tengah perubahan peri laku konsumen. Meski begitu, Arif tidak tinggal diam. Ia terus mencoba menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman. Salah satu bentuk adaptasi yang ia lakukan adalah mengikuti perkembangan transaksi digital. Kini, selain menerima uang tunai, Arif juga melayani pembayaran non-tunai demi mempermudah para pelanggannya. Langkah ini menjadi bukti bahwa di balik kesederhanaan pasar senggol, para pedagang seperti Arif tetap berusaha bergerak maju mengikuti modernitas tanpa kehilangan identitas tradisionalnya.
Comments (0)