Raih Gelar Doktor di UI, Bamsoet Puji Kedalaman Filsafat Disertasi Yusril Ihza Mahendra
Jakarta – Kiprah akademik Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, kembali menjadi sorotan publik setelah ia berhasil meraih gelar Do
Jakarta – Kiprah akademik Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, kembali menjadi sorotan publik setelah ia berhasil meraih gelar Doktor Ilmu Filsafat dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (UI). Pencapaian ini turut menuai apresiasi dari berbagai kalangan, salah satunya dari anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15, Bambang Soesatyo atau yang akrab disapa Bamsoet.
Bamsoet menilai, disertasi yang diangkat oleh Yusril bukan sekadar syarat formalitas akademik, melainkan sebuah sumbangsih intelektual yang relevan untuk membuka kembali ruang diskursus publik. Menurutnya, bangsa ini membutuhkan kajian-kajian mendalam yang mampu merekatkan kembali hubungan antara Islam, demokrasi, konstitusi, dan kebangsaan di tengah dinamika politik kontemporer.
Pendekatan Hermeneutika dan Relevansi Pemikiran Natsir
Yusril dinyatakan lulus setelah menjalani Sidang Terbuka Doktor dengan mempertahankan disertasi berjudul 'Penafsiran Kembali Pemikiran Mohammad Natsir Tentang Relasi Islam Dengan Negara: Sebuah Telaah Filsafat Dengan Pendekatan Hermeneutika Fenomenologis-Eksistensial'. Bamsoet menyoroti bahwa ketajaman analisis dalam disertasi tersebut menunjukkan bahwa perdebatan tentang relasi agama dan negara di Indonesia masih sangat cair dan memerlukan perenungan filosofis yang berkelanjutan.
Dalam keterangan tertulis yang diterima Terdepan.id, Senin (14/4/2026), Bamsoet menyatakan bahwa prestasi Yusril menepis anggapan bahwa para pejabat tinggi negara tidak memiliki waktu untuk mendalami ilmu pengetahuan secara serius. "Beliau membuktikan bahwa tanggung jawab eksekutif yang berat tidak menghalangi seseorang untuk terus menggali kearifan dan menghasilkan karya akademik berbobot," ungkap Bamsoet kepada tim media kami.
Integritas Intelektual di Tengah Praktik Kekuasaan
Lebih lanjut, Bamsoet menekankan pentingnya meneladani sosok Mohammad Natsir sebagai negarawan yang mampu menyelaraskan keislaman dan keindonesiaan secara elegan. Melalui pendekatan hermeneutika fenomenologis-eksistensial yang digunakan Yusril, publik diajak untuk tidak melihat relasi agama dan negara secara dikotomis. "Disertasi ini mengingatkan kita bahwa fondasi republik ini dibangun di atas sintesis nilai-nilai ketuhanan dan kebangsaan. Kajian seperti ini menjadi reservoir pemikiran yang sangat berharga di tengah krisis ideologi global," tegas Bamsoet.
Senada dengan itu, Bamsoet juga menyebut bahwa capaian koleganya tersebut merupakan bukti integritas intelektual yang patut diapresiasi. Di saat sebagian elit politik lebih sibuk dengan manuver kekuasaan jangka pendek, Yusril justru mampu merampungkan studi doktoral yang mensyaratkan ketelitian dan kedisiplinan tinggi. Kondisi ini, menurut pantauan Terdepan.id, selaras dengan komitmen Yusril terhadap pengembangan hukum dan konstitusi di Indonesia. Dengan gelar akademik tertinggi di bidang filsafat yang kini disandangnya, publik berharap kinerja di Kemenko Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan akan semakin diwarnai oleh kebijakan berbasis data dan perenungan etis, bukan sekadar pendekatan legal-formalistik semata.
Comments (0)