Gadi Eisenkot Luncurkan Kampanye Resmi, Siap Tantang Netanyahu dalam Pemilu Israel
Yerusalem, Terdepan.id — Mantan Kepala Staf Umum Militer Israel (IDF), Gadi Eisenkot, secara resmi memulai kampanye politiknya pada Selasa (30/6) waktu setempat. Langkah ini menandai babak baru per
Yerusalem, Terdepan.id — Mantan Kepala Staf Umum Militer Israel (IDF), Gadi Eisenkot, secara resmi memulai kampanye politiknya pada Selasa (30/6) waktu setempat. Langkah ini menandai babak baru persaingan menuju kursi Perdana Menteri Israel, dengan Eisenkot muncul sebagai kandidat terdepan yang berpotensi mengakhiri kekuasaan panjang Benjamin Netanyahu.
Dengan mengusung slogan "Israel harus menang", Eisenkot menyampaikan pidato pembuka kampanye yang penuh kritik terhadap pemerintahan saat ini. Ia secara tegas menyebut kabinet Netanyahu sebagai sumber "kekacauan" yang telah mengguncang fondasi keamanan dan persatuan negara.
"Oktober mendatang, pemerintahan Oktober yang mengerikan akan berakhir," ujar Eisenkot dalam deklarasinya, menyinggung serangan mendadak Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menjadi titik balik politik dan keamanan Israel.
Janji Persatuan dan Keamanan
Eisenkot, yang pernah menduduki posisi tertinggi dalam hierarki militer Israel, memposisikan diri sebagai figur pemersatu di tengah polarisasi politik yang semakin tajam. Pidatonya menekankan bahwa pemilihan mendatang bukan sekadar kompetisi kekuasaan, melainkan pertaruhan eksistensial bagi negara Yahudi tersebut.
"Kita akan membuka babak baru dan jauh lebih baik dalam sejarah Israel. Kita akan menulisnya bersama," tegasnya, dilansir media setempat, Rabu (1/7/2026).
Mantan jenderal bintang empat ini memiliki rekam jejak panjang di IDF, termasuk memimpin operasi-operasi besar selama masa jabatannya sebagai kepala staf umum. Kredibilitas militernya menjadi modal utama untuk menantang Netanyahu yang masih bergulat dengan dampak politik dari kegagalan intelijen dan keamanan pada Oktober 2023.
Persaingan Politik Memanas
Pemilu Israel kali ini diproyeksikan menjadi salah satu kontestasi paling krusial dalam sejarah modern negara tersebut. Serangan 7 Oktober telah mengubah lanskap politik secara fundamental, menciptakan ketidakpuasan luas terhadap pemerintahan Netanyahu yang dinilai gagal melindungi warganya.
Eisenkot diperkirakan akan mendapatkan dukungan signifikan dari pemilih yang menginginkan pendekatan keamanan yang lebih tegas namun tetap pragmatis. Namun, tantangan dari sayap kanan dan sekutu tradisional Netanyahu tetap kuat.
Dengan deklarasi ini, peta politik Israel menjelang pemilu dipastikan semakin dinamis. Pertanyaan besarnya adalah apakah sosok berlatar belakang militer mampu memobilisasi cukup dukungan untuk mendobrak dominasi Netanyahu yang telah bertahan lebih dari satu dekade.
Comments (0)