Harga Gas Dunia Naik Tajam Sepanjang 2026, Begini Dampaknya di Indonesia
Jakarta, Terdepan.id – Harga gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) di pasar global mencatat lonjakan signifikan sepanjang 2026. Dinamika geopolitik yang terus memanas menjadi pemicu utam
Jakarta, Terdepan.id – Harga gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) di pasar global mencatat lonjakan signifikan sepanjang 2026. Dinamika geopolitik yang terus memanas menjadi pemicu utama kenaikan ini, mengingat gangguan pasokan dari sejumlah negara produsen, peningkatan permintaan musim dingin di belahan bumi utara, serta persaingan pembelian kargo spot antarnegara yang semakin ketat. Kondisi ini turut mempengaruhi biaya energi di berbagai sektor industri di dalam negeri.
Berdasarkan pantauan Terdepan.id, indeks harga LNG acuan Asia, Japan Korea Marker (JKM), sempat menyentuh level tertinggi dalam dua tahun terakhir. Kenaikan harga ini terutama didorong oleh ketegangan di kawasan Timur Tengah yang mengganggu rute pengiriman, sehingga biaya logistik dan asuransi kargo ikut terdongkrak. Di sisi lain, kebijakan diversifikasi energi di Eropa pasca-krisis energi beberapa tahun lalu semakin mendorong permintaan global yang tidak segera diimbangi oleh tambahan produksi baru.
Praktisi minyak dan gas bumi, Widhyawan Prawiraatmadja, menjelaskan bahwa pergerakan harga LNG sangat bergantung pada skema pembelian yang digunakan oleh konsumen. “Harga perolehan LNG tergantung dari apakah berdasarkan kontrak atau beli spot (dadakan). Spot bisa lebih murah atau lebih mahal seperti kondisi sekarang. Kalau mengikuti harga pasar ya naik turun harga adalah hal yang biasa, dan itu yang dihadapi oleh seluruh pengguna LNG,” ujarnya dalam wawancara dengan Terdepan.id. Ia menambahkan bahwa pengguna dengan porsi kontrak jangka panjang umumnya lebih terlindungi dari fluktuasi harga spot yang tajam.
“Harga perolehan LNG tergantung dari apakah berdasarkan kontrak atau beli spot (dadakan). Spot bisa lebih murah atau lebih mahal seperti kondisi sekarang. Kalau mengikuti harga pasar ya naik turun harga adalah hal yang biasa, dan itu yang dihadapi oleh seluruh pengguna LNG.”
Di Indonesia, kenaikan harga LNG global ini berpotensi menekan biaya operasional sektor-sektor strategis seperti pembangkit listrik, industri pupuk, dan petrokimia. Beberapa perusahaan pelat merah yang selama ini mengandalkan pasokan dari kontrak jangka panjang masih relatif aman, namun industri yang terpaksa membeli kargo dadakan demi menjaga kelangsungan produksi terpaksa mengeluarkan biaya lebih besar. Kondisi ini pada akhirnya dapat merembet ke harga produk akhir dan inflasi jika tidak diantisipasi dengan kebijakan mitigasi yang tepat.
Pemerintah melalui kementerian terkait dikabarkan tengah mengkaji sejumlah opsi, mulai dari penjadwalan ulang impor, optimalisasi pasokan domestik dari lapangan-lapangan gas dalam negeri, hingga memperkuat skema kerja sama antarpelaku industri agar pembelian dilakukan secara kolektif. Dengan begitu, beban kenaikan harga gas dunia diharapkan tidak sepenuhnya dibebankan pada industri strategis yang menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Terdepan.id akan terus memantau perkembangan situasi ini dan dampaknya bagi kestabilan energi di Tanah Air.
Comments (0)