Dolar AS Sempat Sentuh Rp 18.000

Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada perdagangan awal pekan ini, Senin (6/7). Berdasarkan data yang dihimpun Terdepan.id dari pasar valuta asing, dolar Amerika Serikat (AS) menyentuh level psikol

Jul 08, 2026 - 00:20
0 0
Dolar AS Sempat Sentuh Rp 18.000

Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada perdagangan awal pekan ini, Senin (6/7). Berdasarkan data yang dihimpun Terdepan.id dari pasar valuta asing, dolar Amerika Serikat (AS) menyentuh level psikologis Rp18.000 secara intraday, menguat tajam sejak pembukaan pagi. Pergerakan ini menandai titik terendah rupiah dalam beberapa tahun terakhir di tengah sentimen global yang kembali menguat terhadap aset-aset berdenominasi dolar AS.

Mata uang Paman Sam tercatat sempat melonjak hingga Rp18.009 sekitar pukul 14.12 WIB, tepatnya saat tekanan beli dolar mencapai puncaknya. Setelah menyentuh level tersebut, dolar AS sedikit terkoreksi dan ditutup di posisi Rp17.995, menguat 0,18% dibandingkan posisi akhir pekan lalu. Sejak awal sesi, dolar AS sudah menunjukkan kekuatan dengan naik 0,17% ke level Rp17.993, mengindikasikan bahwa tekanan terhadap rupiah sudah terasa bahkan sebelum pasar benar-benar ramai.

Faktor Pendorong Penguatan Dolar AS

Lonjakan dolar AS terhadap rupiah ini dipicu oleh kombinasi sejumlah faktor eksternal dan internal. Dari sisi global, ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS, The Federal Reserve, akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan kembali memicu aliran modal ke aset dolar. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga meningkatkan permintaan terhadap mata uang safe haven, sementara data ekonomi AS yang tetap solid—seperti pertumbuhan lapangan kerja dan belanja konsumen—memberi amunisi tambahan bagi penguatan dolar.

“Tekanan terhadap rupiah saat ini jauh lebih didorong oleh faktor eksternal daripada kondisi domestik. Selera risiko investor global sedang rendah, dan dolar AS menjadi pilihan utama,” ujar Ekonom Senior Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) kepada Terdepan.id dalam sesi wawancara siang ini.

Dampak bagi Perdagangan dan Inflasi

Sentuhan level Rp18.000 ini membawa dampak langsung pada sektor perdagangan, terutama bagi importir yang harus menyiapkan lebih banyak rupiah untuk pembayaran kewajiban dalam dolar. Lonjakan harga bahan baku impor seperti jagung, kedelai, dan komponen elektronik berpotensi menekan margin usaha dan mendorong inflasi di tingkat konsumen. Bank Indonesia sendiri diperkirakan akan terus melakukan intervensi di pasar valas dan pasar surat berharga negara untuk meredam volatilitas berlebihan, sesuai dengan takaran pencegahan yang telah ditempuh dalam sepekan terakhir.

Pantauan Terdepan.id di beberapa pelaku usaha menengah di Jakarta menunjukkan kekhawatiran yang meningkat. Sejumlah pengusaha menyatakan telah mengamankan kebutuhan dolar untuk dua sampai tiga pekan ke depan melalui kontrak forward, namun jika pelemahan berlanjut, penyesuaian harga barang akhir hampir tak terhindarkan. Di sisi lain, eksportir justru berharap momentum ini dapat meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global, meskipun keuntungan tersebut masih dibayangi oleh kenaikan biaya logistik global.

Dengan prospek suku bunga AS yang masih menjadi sentimen dominan, pelaku pasar dalam negeri bersiap menghadapi fluktuasi lanjutan. Terdepan.id akan terus memantau pergerakan nilai tukar dan langkah otoritas moneter dalam merespons dinamika ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
grace-winata

Editor Investasi. Editor panduan investasi dan produk finansial.

Comments (0)

User