Warga Israel Ramai-ramai Demo Netanyahu, Tuntut Pengunduran Dirinya
Tel Aviv — Gelombang protes kembali mengguncang sejumlah kota di Israel saat ratusan warga turun ke jalan untuk menyuarakan penolakan terhadap pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Aksi
Tel Aviv — Gelombang protes kembali mengguncang sejumlah kota di Israel saat ratusan warga turun ke jalan untuk menyuarakan penolakan terhadap pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Aksi yang berlangsung pada Sabtu (20/6) ini terpusat di Tel Aviv, pusat politik dan budaya Israel, di mana massa berkumpul dengan spanduk dan yel-yel lantang mengecam kebijakan pemimpin kontroversial tersebut. Demonstrasi serupa juga dilaporkan terjadi di kota-kota lain, menandai eskalasi ketidakpuasan publik yang kian meluas.
Para demonstran secara terbuka menuntut agar Netanyahu segera meninggalkan jabatannya. Mereka menilai kepemimpinannya telah menyeret Israel ke dalam situasi perang berkepanjangan tanpa strategi politik yang jelas. Sebagian peserta aksi membawa poster bertuliskan “Netanyahu Harus Pergi” dan “Kami Ingin Perdamaian, Bukan Perang Abadi”. Suasana di Tel Aviv semakin memanas ketika orator dari berbagai elemen masyarakat—aktivis, mantan perwira militer, hingga tokoh oposisi—bergantian menyampaikan kecaman di mimbar darurat.
Laporan Terdepan.id yang dihimpun dari berbagai sumber menyebutkan bahwa ketegangan ini dipicu oleh kebuntuan diplomatik yang berkepanjangan. Israel masih terlibat dalam konfrontasi bersenjata di beberapa front, namun di mata para pengkritik, operasi militer tersebut berjalan tanpa tujuan akhir yang terukur. “Kami tidak melihat peta jalan yang masuk akal. Perang ini hanya memperkaya segelintir orang dan mengorbankan anak-anak kami di medan tempur,” ujar salah satu demonstran yang enggan disebutkan namanya.
“Kami tidak melihat peta jalan yang masuk akal. Perang ini hanya memperkaya segelintir orang dan mengorbankan anak-anak kami di medan tempur.”
Unjuk rasa kali ini bukanlah yang pertama. Dalam beberapa bulan terakhir, gerakan anti-Netanyahu telah berulang kali menggelar demonstrasi besar-besaran, terutama terkait isu korupsi yang membelit sang perdana menteri serta kegagalannya membebaskan sandera yang masih ditahan. Namun kali ini narasi yang dominan adalah kekecewaan terhadap manajemen perang. Para pengamat menilai bahwa memperpanjang konflik tanpa kerangka politik akan terus menggerus legitimasi Netanyahu di mata publik.
Pihak kepolisian Israel tampak berjaga-jaga di sekitar lokasi aksi, namun tidak ada laporan bentrokan berarti. Beberapa jalan utama di Tel Aviv sempat dialihkan untuk mengakomodasi massa yang terus membesar. Hingga berita ini diturunkan, pihak kantor Netanyahu belum mengeluarkan pernyataan resmi menanggapi gelombang protes tersebut. Juru bicara pemerintah hanya menyebut bahwa perdana menteri “fokus pada keamanan nasional”.
Situasi politik di Israel kini semakin terbelah. Kubu oposisi memanfaatkan momentum aksi ini untuk mendesak pemilihan umum lebih awal. Sementara itu, koalisi pemerintahan Netanyahu terlihat mulai goyah seiring mundurnya beberapa tokoh kunci. Pengamat politik di Tel Aviv menyebut bahwa jika tekanan ini terus berlanjut, Israel bisa menghadapi krisis konstitusional yang lebih dalam.
Gelombang ketidakpuasan ini menjadi cerminan dari keretakan internal yang nyata. Bagi warga Israel yang turun ke jalan, pesan mereka tunggal dan tak terbantahkan: pemerintahan Netanyahu telah kehilangan arah, dan sudah waktunya untuk perubahan.
Comments (0)