Universitas Trilogi Pecahkan Rekor MURI dengan Sketsa Soeharto Terbanyak, Hadirkan Lebih dari 1.000 Peserta
Jakarta, Terdepan.id — Suasana di kampus Universitas Trilogi, Kalibata, Jakarta Selatan, berubah menjadi ajang kreativitas dan nostalgia pada Rabu (24/6/2026). Kampus yang memiliki kedekatan hist
Jakarta, Terdepan.id — Suasana di kampus Universitas Trilogi, Kalibata, Jakarta Selatan, berubah menjadi ajang kreativitas dan nostalgia pada Rabu (24/6/2026). Kampus yang memiliki kedekatan historis dengan Presiden RI ke-2 itu sukses memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) untuk kategori pembuatan sketsa Soeharto terbanyak. Acara ini digelar sebagai puncak peringatan hari ulang tahun ke-105 Soeharto, yang jatuh pada 8 Juni lalu.
Lebih dari 1.000 peserta ambil bagian dalam lomba sketsa yang digelar secara serentak di aula utama kampus. Mereka terdiri dari mahasiswa, dosen, hingga masyarakat umum yang memiliki minat terhadap seni rupa dan sejarah bangsa. Panitia menyediakan kanvas dan alat gambar bagi peserta yang tidak membawa perlengkapan sendiri, memastikan tidak ada yang terhalang untuk berpartisipasi.
Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Trilogi, Muhammad Husni, dalam sambutannya mengatakan bahwa acara ini bukan sekadar mengejar rekor, tetapi juga untuk menanamkan nilai-nilai sejarah kepada generasi muda. “Melalui goresan pensil dan tinta, kami ingin anak-anak muda hari ini memahami siapa Pak Harto secara lebih manusiawi, bukan sekadar nama dalam buku pelajaran. Ini adalah cara kami merajut ingatan kolektif tentang pembangunan bangsa,” ujarnya.
“Melalui goresan pensil dan tinta, kami ingin anak-anak muda hari ini memahami siapa Pak Harto secara lebih manusiawi, bukan sekadar nama dalam buku pelajaran. Ini adalah cara kami merajut ingatan kolektif tentang pembangunan bangsa.”
Peserta tampak serius menuangkan interpretasi mereka terhadap sosok Soeharto. Ada yang menggambar dengan gaya realis, menonjolkan detail wajah dan seragam militer, sementara yang lain memilih pendekatan pop-art dengan warna-warna kontemporer. Selain lomba, panitia juga menghadirkan pameran arsip foto dan kliping koran lama yang menggambarkan perjalanan Indonesia di era Orde Baru, menambah suasana reflektif di lokasi acara.
Pihak MURI mencatat, rekor sebelumnya untuk sketsa tokoh nasional secara massal belum pernah masuk dalam daftar mereka. Dengan 1.023 karya yang terkumpul dan diverifikasi dalam satu waktu dan tempat yang sama, Universitas Trilogi kini resmi memegang titel tersebut. Setelah divalidasi, seluruh sketsa direncanakan akan disusun menjadi mosaik raksasa dan dipamerkan di lobi kampus selama satu pekan ke depan.
Namun, euforia pemecahan rekor ini tidak lepas dari perbincangan. Sementara sebagian peserta mengapresiasi upaya mengingat sejarah melalui seni, beberapa kalangan mempertanyakan relevansi glorifikasi masa lalu di tengah dinamika politik kontemporer. Menanggapi hal tersebut, Husni menegaskan bahwa kegiatan ini murni inisiatif kampus yang berdiri di atas tanah wakaf keluarga Soeharto. “Kami tidak sedang mengadakan deklarasi politik. Ini ruang ekspresi kultural,” tegasnya.
Acara ini mendapat sambutan dari tokoh-tokoh yang dekat dengan keluarga besar Soeharto. Beberapa perwakilan yayasan yang menaungi universitas ikut hadir dan memberikan apresiasi terhadap antusiasme anak muda. Mereka berharap, ke depan Universitas Trilogi bisa rutin mengadakan kegiatan serupa yang menyatukan unsur kreativitas, pendidikan sejarah, dan pemikiran kritis.
Dengan tercapainya rekor MURI ini, Universitas Trilogi menggenapkan posisinya bukan hanya sebagai institusi pendidikan, tetapi juga ruang alternatif untuk merawat memori sejarah melalui pendekatan yang lebih relevan bagi generasi milenial dan Gen Z. Ke depan, kampus ini berencana menjadikan koleksi sketsa Soeharto sebagai koleksi permanen yang bisa diakses publik.
Suksesnya acara ini menjadi bukti bahwa seni rupa tetap menjadi medium efektif untuk memantik diskusi sejarah, terlepas dari setuju atau tidaknya seseorang terhadap warisan suatu masa. Bagi para peserta, yang terpenting bukan siapa yang paling mirip menggambar wajah Soeharto, melainkan bagaimana mereka bisa berdialog dengan masa lalu lewat goresan di atas kertas.
Laporan: Terdepan.id, Jakarta
Comments (0)