Bandara Husein Uji Rekayasa Lalu Lintas Antisipasi Lonjakan 21 Penerbangan

Sebuah proyek rekayasa lalu lintas berskala penuh akan segera digelar di kawasan Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung. Dinas Perhubungan (Dishub) Kota

Jul 08, 2026 - 06:51
0 0

Sebuah proyek rekayasa lalu lintas berskala penuh akan segera digelar di kawasan Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung. Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung memimpin inisiatif ini sebagai respons preventif terhadap potensi lonjakan aktivitas penerbangan yang diproyeksikan mencapai 21 penerbangan dari berbagai maskapai. Simulasi lapangan yang melibatkan koordinasi erat antara kepolisian, pengelola bandara, Lanud Husein Sastranegara, BPJN, dan Dishub Provinsi Jawa Barat ini bukan sekadar uji teknis, melainkan sebuah audit sistemik untuk memvalidasi asumsi-asumsi desain dalam kondisi operasional sesungguhnya. Fokus utamanya adalah memastikan aksesibilitas dan mencegah potensi kemacetan yang dapat melumpuhkan konektivitas penumpang, terutama dengan bertambahnya volume kendaraan seiring peningkatan jadwal penerbangan.

Mengurai Arsitektur Simulasi dan Desain Intervensi

Secara teknis, simulasi ini mengadopsi pendekatan stress testing pada infrastruktur eksisting. Skenario utama yang diuji adalah ekspansi kapasitas akses dari pintu utama di Jalan Pajajaran. Jika sebelumnya hanya mengandalkan satu jalur sebagai single point of failure, kini skema uji coba membuka dua jalur akses secara paralel. Ini adalah intervensi paling kritis untuk melipatgandakan laju kendaraan yang dapat masuk per satuan waktu, langsung menyasar potensi kemacetan di gerbang depan. Selain itu, tim teknis akan memetakan secara presisi pola sirkulasi di area self drop off — sebuah titik yang kerap menjadi bottleneck karena waktu berhenti kendaraan yang bervariasi — termasuk mengevaluasi penempatan optimal titik putar balik (U-turn) dan efektivitas akses keluar melalui Pintu 4 menuju Jalan Abdul Rahman Saleh sebagai jalur distribusi alternatif.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Bandung, Rasdian Setiadi, menekankan bahwa simulasi lapangan bersifat esensial untuk mengungkap variabel-variabel yang tidak terakomodasi dalam perencanaan teoretis. "Kalau di atas kertas memang mudah. Tapi saat diuji di lapangan akan terlihat titik penyempitan, antrean kendaraan, atau bottleneck yang harus dibenahi," ujarnya. Pendekatan ini menggarisbawahi prinsip dasar rekayasa lalu lintas: model matematis harus divalidasi oleh data empiris di lapangan, terutama di area dengan interaksi kompleks antara kendaraan pribadi, angkutan daring, dan pejalan kaki.

AspekSkema Saat IniSkema Uji Coba (Intervensi)
Akses Masuk UtamaSatu jalur (Jalan Pajajaran)Dua jalur paralel (mengurangi potensi antrean)
Sirkulasi Drop OffPola eksisting tanpa pengaturan U-turn optimalEvaluasi U-turn dan aliran eksklusif
Akses KeluarTerfokus pada jalur utamaDiuji melalui Pintu 4 ke Jalan Abdul Rahman Saleh
Manajemen ParkirDi bawah kewenangan LanudOptimasi sirkulasi internal oleh Dishub

Konektivitas Infrastruktur dan Integrasi Transportasi Publik

Selain rekayasa arteri, Dishub melakukan audit terhadap elemen passive safety dan navigasi visual. Evaluasi mencakup kebutuhan rambu penunjuk arah, rambu lalu lintas, hingga marka jalan. Jika teridentifikasi kebutuhan, pemasangan marka akan dilakukan secara on-site untuk menata ulang ruang jalan secara taktis. Sementara itu, manajemen parkir tetap berada di lahan yang dikelola oleh Lanud Husein Sastranegara, namun Dishub bertindak sebagai konsultan operasional untuk mengoptimalkan sirkulasi internal — menghindari konflik antara arus kendaraan masuk dan keluar yang dapat menimbulkan penumpukan di dalam kawasan parkir.

Menariknya, strategi ini juga menyentuh lapisan integrasi multimoda. Pemerintah Kota Bandung mengusulkan agar salah satu trayek angkutan kota (angkot) dapat melintasi kawasan bandara sebagai bagian dari kerangka pengembangan Bus Rapid Transit (BRT). Ini adalah langkah progresif untuk menghubungkan simpul transportasi udara dengan jaringan massal berbasis jalan. Namun, Rasdian menegaskan bahwa otoritas pengaturan shuttle, taksi daring, dan ojek online tetap berada di bawah kewenangan pemerintah pusat dan provinsi, memisahkan peran teknis kota dari regulasi operasional yang lebih tinggi.

Proyeksi kapasitas hingga 21 penerbangan menuntut bandara ini bertransformasi menjadi sistem yang lebih resilient. Hasil uji coba ini akan menjadi blueprint bagi penyempurnaan rekayasa lalu lintas, memastikan bahwa ketika lonjakan operasional itu tiba, infrastruktur akses telah siap berfungsi sebagai penopang mobilitas yang lancar, bukan menjadi penghambat pertumbuhan konektivitas udara di Jawa Barat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User