Zohran Mamdani Ucapkan Sumpah Jabatan di Stasiun Old City Hall
Cahaya remang lampu kuning menimpa dinding ubin Guastavino yang melengkung anggun. Di peron sepi yang telah berhenti melayani penumpang sejak 1945, Zohran
Cahaya remang lampu kuning menimpa dinding ubin Guastavino yang melengkung anggun. Di peron sepi yang telah berhenti melayani penumpang sejak 1945, Zohran Mamdani mengangkat tangan kanannya, mengucapkan sumpah jabatan sebagai Wali Kota New York City. Stasiun kereta bawah tanah Old City Hall, yang biasanya hanya bisa diintip dari balik jendela kereta yang berputar di loop akhir jalur 6, pada Kamis (1/12/2026) menjelma menjadi saksi bisu momen politik yang tak biasa. Di hadapan para tamu undangan yang berdiri di antara lampu gantung antik dan papan nama stasiun berwarna perunggu, Mamdani resmi memimpin kota delapan juta jiwa tersebut—sebuah pelantikan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam 400 tahun sejarah New York.
Panggung Kereta: Lebih dari Sekadar Lokasi
Pemilihan stasiun bawah tanah yang dibuka pada 1904 ini bukanlah keputusan estetika semata. Bagi Mamdani, yang dikenal sebagai advokat transportasi publik selama masa kampanyenya, Old City Hall adalah metafora sempurna tentang potensi yang sering terlupakan. “Kita memiliki permata arsitektur ini tepat di bawah kaki kita, tetapi hanya sedikit warga yang pernah menginjakkan kakinya di sini kecuali melalui tur terbatas,” ujar Mamdani dalam pidato singkatnya. “Seperti halnya kota ini: penuh keindahan dan kapasitas yang belum sepenuhnya diaktifkan untuk semua orang.” Dengan menempatkan sumpah jabatan di ruang bawah tanah yang megah ini, ia mengirimkan sinyal tegas: infrastruktur publik adalah fondasi keadilan sosial—tema yang menggaung sepanjang karier politiknya.
“Saya berdiri di sini untuk menegaskan bahwa masa depan New York harus dimulai dari akar sejarahnya. Kereta bawah tanah adalah tulang punggung kota ini, dan pelantikan ini adalah penegasan bahwa kita akan berinvestasi kembali pada hal-hal yang benar-benar menggerakkan New York.” — Zohran Mamdani, dalam pidato pelantikan.
Jejak Sejarah di Bawah Tanah
Stasiun Old City Hall dirancang oleh arsitek Heins & LaFarge sebagai mahakarya dari era Beaux-Arts. Langit-langitnya dihiasi skylight kaca patri yang dulunya membiaskan cahaya alami ke peron, meskipun kini lebih sering terlihat dalam dokumentasi fotografi. Stasiun ini ditutup karena panjang peronnya terlalu pendek untuk menampung rangkaian kereta modern—sebuah ironi yang mencerminkan bagaimana kebutuhan mobilitas perkotaan terus berkembang jauh melampaui rancangan awal. Kini, di bawah kepemimpinan Mamdani, simbol itu dibalikkan: ruang yang dulu ditinggalkan justru menjadi titik awal babak baru.
Komitmen Transportasi yang Terintegrasi
Para analis politik melihat lokasi pelantikan ini sebagai kelanjutan dari platform kampanye Mamdani yang ambisius: menggratiskan bus kota, memperluas rute kereta komuter, dan mengintegrasikan sistem pembayaran antar moda transportasi. Mamdani adalah Wali Kota pertama dalam sejarah New York yang menjadikan keadilan mobilitas sebagai isu utama, menyamakan akses transportasi dengan akses terhadap lapangan kerja dan pendidikan. “Jika Anda melihat peta keterjangkauan hunian dan jarak ke stasiun kereta, Anda akan menemukan korelasi yang sangat jelas,” kata Dr. Liana Torres, pakar tata kota dari Columbia University. “Pelantikan ini adalah pesan visual yang sangat kuat bahwa pemerintah kota akan menangani transportasi sebagai hak dasar.”
Detik-detik Sumpah di Ruang Sunyi
Tepat pukul 11.00 waktu setempat, Ketua Mahkamah Agung Negara Bagian New York memandu pengucapan sumpah. Para hadirin—terdiri dari aktivis komunitas, pemimpin serikat pekerja transportasi, dan mantan rekan Mamdani di legislatif negara bagian—berdiri tanpa kursi di sepanjang peron marmer. Tak ada dentuman konfeti atau terompet; hanya gemuruh rendah kereta yang kadang terdengar dari jalur aktif di dekatnya. Setelah mengucapkan kalimat terakhir sumpah, Mamdani mencium arsip keluarga yang ia bawa, lalu menatap lensa kamera Associated Press yang diwakili oleh Yuki Iwamura, yang mengabadikan momen itu dalam bidikan yang kini tersebar ke seluruh dunia. Seorang saksi mata yang hadir, pensiunan masinis MTA, berbisik, “Ini pertama kalinya saya melihat stasiun ini sehidup ini.”
Masa Depan yang Berangkat dari Masa Lalu
Dengan pelantikan ini, Mamdani mengajak warga New York untuk memikirkan kembali hubungan mereka dengan ruang publik. Stasiun tua itu menjadi titik temu antara nostalgia arsitektur dan urgensi urban kontemporer. Sinyalnya jelas: di kota yang terus merombak dirinya, warisan sejarah tidak harus menjadi museum bisu; ia bisa menjadi katalis untuk gerakan baru. Entah rencana ambisius transportasi Mamdani akan berjalan mulus seperti kereta ekspres atau berhenti di tengah terowongan, satu hal pasti—hari ini, Old City Hall kembali mencatatkan namanya dalam peta hidup New York, bukan hanya sebagai kenangan, melainkan sebagai tempat lahirnya komitmen politik yang berani.
Comments (0)