New Delhi — PM India Mainkan Lagu Kuch Kuch Hota Hai dengan Angklung Hadiah Prabowo

Di sebuah ruangan berlapis karpet merah di Hyderabad House, New Delhi, alunan nada yang tidak asing tiba-tiba memecah keheningan diplomatik. Bukan gamelan

Jul 08, 2026 - 07:12
0 0
Di sebuah ruangan berlapis karpet merah di Hyderabad House, New Delhi, alunan nada yang tidak asing tiba-tiba memecah keheningan diplomatik. Bukan gamelan atau sitar, melainkan getar bambu yang bersahut-sahutan: angklung. Perdana Menteri India, Narendra Modi, tampak tersenyum lebar saat jemarinya dengan hati-hati menggoyang instrumen tradisional Indonesia itu, memproduksi melodi Kuch Kuch Hota Hai—sebuah lagu Bollywood legendaris yang seolah menjembatani dua peradaban dalam satu tarikan nada. Hadiah itu sendiri baru saja diserahkan oleh Presiden Indonesia Prabowo Subianto dalam sebuah kunjungan kenegaraan yang sarat simbol, namun tak satu pun hadirin menduga bahwa angklung akan langsung “berbicara” dengan bahasa yang begitu universal: musik cinta dari Mumbai yang dimainkan di jantung Delhi.

Angklung: Dari Pertemuan Bilateral ke Panggung Diplomasi

Pemberian cendera mata kenegaraan seringkali hanya berakhir di lemari kaca museum kepresidenan. Namun Prabowo memilih sebuah artefak yang menuntut interaksi. Angklung, dengan konstruksi bilah bambu yang digantung dalam bingkai, hanya akan berbunyi ketika goyangan tangan manusia menciptakan resonansi. Ini adalah instrumen yang secara filosofis menolak pasivitas. Setiap angklung hanya menghasilkan satu nada tunggal, sehingga harmoni hanya tercipta melalui kolaborasi banyak pemain—sebuah metafora diplomasi yang tidak diucapkan, melainkan dibunyikan. Momen ketika Modi menerima angklung itu bukanlah sekadar seremoni pertukaran hadiah. Seorang asisten protokol yang mendampingi prosesi menuturkan, suasana berubah cair seketika:
“Kami memperkenalkan angklung sebagai alat musik yang perlu digoyang. Begitu Presiden Prabowo menyebut lagu Kuch Kuch Hota Hai sebagai lagu India yang sangat populer di Indonesia, PM Modi langsung tertarik. Beliau bertanya, ‘Bisa saya mainkan sekarang?’ dan kami semua terkejut melihat ketertarikan itu,” ujar seorang diplomat Indonesia yang enggan disebutkan namanya.
Tanpa partitur, tanpa latihan, Modi mulai menggoyang angklung bernada dasar itu, dibantu beberapa orang di sekitarnya memegang angklung lain untuk melengkapi tangga nada. Lagu yang tercipta tidak sempurna secara teknis, tetapi kehangatan momen itu begitu terasa, seolah-olah kedua negara sedang berkomunikasi dalam bahasa yang lebih tua daripada kata-kata.

Kuch Kuch Hota Hai dan Memori Kolektif Indonesia

Pilihan lagu Kuch Kuch Hota Hai bukanlah kebetulan. Film Bollywood tahun 1998 itu adalah fenomena budaya yang menjangkau jauh melampaui batas negaranya. Di Indonesia, lagu ini menjadi soundtrack generasi—dinyanyikan di pesta pernikahan, diputar di radio-radio lokal, hingga dilantunkan oleh pengamen jalanan. Memori kolektif ini rupanya tertangkap oleh tim protokol Indonesia. Alih-alih menyodorkan lagu daerah Sunda yang “wajar” untuk angklung, mereka justru memilih jalur emosional yang menyentuh nostalgia bersama. Data dari Spotify menunjukkan bahwa lagu-lagu Bollywood klasik seperti Kuch Kuch Hota Hai masih mendominasi playlist “Bollywood Hits 90-an” dengan lebih dari 3,2 juta streaming global per bulan, dan Indonesia konsisten masuk dalam lima besar pendengar terbanyak. Realitas ini menegaskan bahwa selera pop kultur adalah soft power yang sering kali lebih ampuh daripada dokumen perjanjian bilateral.

Ketika Bambu Menjadi Bahasa Universal

Angklung bukanlah sekadar instrumen. Ia adalah sistem sosial yang diwujudkan dalam bentuk bunyi. UNESCO pada tahun 2010 menetapkan angklung Indonesia sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity, mencatat bahwa tradisi ini mengandung nilai kerja sama, disiplin, dan kehormatan terhadap harmoni. Dalam konteks kunjungan kenegaraan, nilai-nilai tersebut selaras dengan pesan diplomasi Indonesia: inklusivitas, gotong royong, dan keseimbangan. Prabowo, yang dalam beberapa forum internasional kerap menekankan pentingnya “dialog peradaban,” tampaknya memahami bahwa simbol-simbol budaya sering kali lebih tajam menusuk kesadaran daripada negosiasi alot soal tarif dagang. PM Modi, yang dikenal sebagai pemimpin dengan sentuhan cultural nationalism yang kuat, memberikan respons yang melampaui basa-basi diplomatik. Ia tidak hanya menerima hadiah itu, ia mengaktifkannya. Ada semacam kegembiraan yang tulus di wajah Modi saat ia berhasil menyelesaikan penggalan lagu itu, sejenis kebanggaan masa kecil yang muncul kembali dalam balutan bambu yang sederhana.

Jejak Instrumen Nusantara di Mata Dunia

Peristiwa ini menambah panjang daftar diplomasi budaya Indonesia yang memanfaatkan angklung. Pada 2017, misalnya, angklung menjadi bagian dari pertunjukan di Istana Buckingham. Pada 2022, Google Doodle merayakan angklung sebagai ikon budaya interaktif. Namun apa yang terjadi di Hyderabad House ini berbeda karena sifatnya yang spontan dan personal. Tidak ada panggung besar, tidak ada latihan panjang. Hanya dua pemimpin yang sedang menguji apakah bambu bisa menyatukan hati. Kedekatan budaya antara Indonesia dan India sesungguhnya sudah berakar sejak era kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara. Candi Prambanan dan epik Ramayana menjadi saksi bisu. Kini, di abad ke-21, hubungan itu “dibunyikan” kembali lewat angklung dan sebuah lagu cinta. Menurut Kementerian Luar Negeri RI, India adalah mitra strategis dengan total perdagangan bilateral mencapai USD 32 miliar pada tahun 2024. Namun angka itu akan mudah dilupakan. Yang akan terus dikenang adalah getaran angklung yang sempat membuat Perdana Menteri negara adidaya terlarut dalam melodi. Diplomasi, pada akhirnya, adalah seni menyentuh. Dan kali ini, Prabowo memilih menyentuh dengan getaran bambu yang membawa pesan tanpa perlu diterjemahkan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User