Tewaskan 3 Warga Sipil di Lebanon, Israel Berdalih Targetkan Hizbullah
BEIRUT, Terdepan.id — Sebuah serangan drone Israel menghantam kendaraan yang melintas di kawasan selatan Lebanon pada Kamis (25/6), menewaskan tiga orang dan mencederai beberapa lainnya. Insiden in
BEIRUT, Terdepan.id — Sebuah serangan drone Israel menghantam kendaraan yang melintas di kawasan selatan Lebanon pada Kamis (25/6), menewaskan tiga orang dan mencederai beberapa lainnya. Insiden ini langsung memicu gelombang kemarahan karena terjadi di tengah gencatan senjata yang masih rapuh antara Tel Aviv dan Beirut. Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) mengonfirmasi bahwa serangan udara itu menyasar sebuah mobil pribadi di sekitar jalan utama yang menghubungkan kota perbatasan, menewaskan tiga penumpang di tempat.
Klaim Militer Israel: Target Hizbullah
Pihak militer Israel segera merilis pernyataan yang mengklaim bahwa serangan tersebut diarahkan kepada anggota kelompok Hizbullah. Menurut mereka, kendaraan yang dihantam diduga membawa pejuang Hizbullah yang terlibat dalam aktivitas militer melawan Israel. Dalam pernyataan resminya, seperti dikutip Terdepan.id, juru bicara militer Israel menyebut operasi itu sebagai “serangan presisi terhadap ancaman teroris yang nyata”.
“Kami bertindak berdasarkan intelijen yang sah bahwa kendaraan itu digunakan oleh anggota Hizbullah untuk memindahkan senjata. Kami menekankan bahwa semua tindakan kami bertujuan melindungi warga Israel,” bunyi pernyataan tersebut.
Hizbullah Bantah, Sebut Korban Warga Sipil
Namun, Hizbullah dengan keras membantah klaim Israel. Dalam pernyataan resminya yang disiarkan melalui media lokal, kelompok itu menegaskan bahwa ketiga korban adalah warga sipil biasa yang tidak memiliki afiliasi militer. Hizbullah menyebut serangan Israel sebagai “kejahatan perang” dan pelanggaran terang-terangan terhadap gencatan senjata yang berlaku. Identitas korban belum diungkap sepenuhnya, tetapi sumber keamanan Lebanon mengatakan mereka adalah dua pria dan satu wanita yang sedang dalam perjalanan menuju rumah mereka di desa perbatasan.
Kantor berita NNA juga melaporkan bahwa tim penyelamat dan ambulans Palang Merah Lebanon segera diterjunkan ke lokasi kejadian. Namun, kondisi kendaraan yang hancur dan terbakar membuat proses evakuasi berlangsung dramatis. Sejumlah saksi mata di sekitar lokasi mengatakan drone Israel masih terlihat berputar-putar di udara setelah serangan, menambah ketegangan di kawasan yang seharusnya damai.
Gencatan Senjata di Ujung Tanduk
Gencatan senjata antara Israel dan Lebanon—yang diprakarsai oleh PBB dan mulai berlaku sejak awal tahun 2026—semula diharapkan dapat mengakhiri rentetan konflik bersenjata yang memuncak pada akhir 2025. Namun, insiden ini menjadi pukulan telak bagi upaya perdamaian tersebut. Sejak kesepakatan diberlakukan, telah terjadi sejumlah pelanggaran kecil, tetapi serangan mematikan terhadap warga sipil kali ini dianggap sebagai eskalasi paling serius.
Misi Penjaga Perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL) menyatakan “keprihatinan mendalam” atas kejadian tersebut dan mendesak semua pihak untuk menahan diri. “Kami sedang menginvestigasi laporan ini dan menyerukan penghormatan penuh terhadap gencatan senjata yang telah disepakati,” kata juru bicara UNIFIL dalam pernyataan singkat yang diterima Terdepan.id.
Di Beirut, kemarahan publik mulai memuncak. Sejumlah warga menggelar demonstrasi kecil di depan kantor pemerintah, menuntut respons tegas atas apa yang mereka sebut “serangan brutal Israel terhadap warga tak bersenjata”. Pemerintah Lebanon hingga berita ini diturunkan belum mengeluarkan pernyataan resmi, tetapi sumber diplomatik menyebutkan bahwa Beirut sedang mempertimbangkan untuk mengajukan pengaduan resmi ke Dewan Keamanan PBB.
Sementara itu, situasi di perbatasan semakin memanas. Militer Israel dilaporkan meningkatkan patroli udara dan darat di sepanjang garis demarkasi, sementara Hizbullah memperingatkan bahwa “kesabaran memiliki batas”. Analis keamanan yang diwawancarai Terdepan.id menilai bahwa serangan drone ini berpotensi membuka kembali konflik berskala penuh jika tidak segera diredakan melalui saluran diplomasi. Ketiga korban jiwa ini pun menjadi simbol betapa rapuhnya perdamaian di kawasan yang telah lama dilanda pertumpahan darah.
Comments (0)