Akankah Mundurnya PM Inggris Kendurkan Keamanan Eropa?

LONDON — Keir Starmer secara mengejutkan mengumumkan pengunduran dirinya sebagai Perdana Menteri Inggris pada Senin (22/06). Keputusan ini datang di tengah merosotnya popularitas Partai Buruh di da

Jul 06, 2026 - 13:42
0 0
Akankah Mundurnya PM Inggris Kendurkan Keamanan Eropa?

LONDON — Keir Starmer secara mengejutkan mengumumkan pengunduran dirinya sebagai Perdana Menteri Inggris pada Senin (22/06). Keputusan ini datang di tengah merosotnya popularitas Partai Buruh di dalam negeri, terutama setelah serangkaian kebijakan domestik yang kontroversial dan tekanan ekonomi yang tak kunjung mereda. Namun, di luar batas negara, warisan Starmer justru mencuat dari arah yang berbeda: keamanan Eropa.

Pemimpin yang naik ke tampuk kekuasaan dengan janji memulihkan stabilitas pasca-Brexit itu meninggalkan jejak diplomatik yang mendapat pujian dari para mitra utama Inggris. Respons dari para pemimpin Uni Eropa langsung mengalir deras, sebuah sinyal langka bahwa London di bawah Starmer berhasil memposisikan diri sebagai pilar penting dalam arsitektur pertahanan kawasan.

"Keamanan Eropa dan Ukraina menjadi lebih kuat berkat Anda. Terima kasih, Keir."

Pernyataan itu ditulis Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen melalui akun resminya. Kalimat singkat itu merangkum persepsi di benua biru tentang peran Inggris dalam dua tahun terakhir. Starmer tidak sekadar meneruskan dukungan militer ke Kyiv yang telah dirintis pendahulunya, tetapi juga memperluasnya menjadi komitmen jangka panjang, termasuk pengiriman sistem pertahanan udara canggih dan program pelatihan bagi ribuan tentara Ukraina di dalam negeri Inggris.

Jembatan yang Diperbaiki

Tak hanya soal Ukraina, Starmer juga dipandang berhasil merajut kembali hubungan dengan Uni Eropa yang sempat renggang akibat drama Brexit. Presiden Prancis Emmanuel Macron secara khusus menyoroti upaya London mempererat hubungan bilateral dan kontribusinya dalam forum-forum multilateral. "Dukungan tak tergoyahkan untuk Ukraina dan dedikasi memperkuat koneksi antara UE dan Inggris adalah warisan yang patut diapresiasi," tulis Macron dalam pesan singkat.

Bagi banyak pengamat, langkah Starmer dalam membentuk "kesepakatan keamanan dan pertahanan" dengan Brussel serta memimpin inisiatif pengiriman bantuan artileri ke garis depan Ukraina menjadi tonggak pemulihan kepercayaan. Inggris kembali menjadi mitra yang diandalkan, bukan sekadar pulau skeptis di pinggiran Eropa.

Ketidakpastian Baru

Namun, mundurnya Starmer memunculkan pertanyaan yang tak terelakkan: akankah arah kebijakan luar negeri Inggris berubah? Meskipun Partai Buruh masih memegang kendali, transisi kekuasaan selalu membawa ketidakpastian. Calon pengganti dari sayap kiri partai telah menyuarakan keinginan meninjau ulang belanja pertahanan, sementara oposisi Konservatif menekan agar fokus domestik didahulukan. Jika komitmen London ke Ukraina terganggu, maka Eropa kehilangan salah satu kontributor keamanan paling aktif di luar struktur NATO.

Di tengah kondisi geopolitik yang masih labil, posisi Inggris memiliki bobot simbolis dan operasional. Ketiadaan Starmer di panggung Eropa bisa meninggalkan kekosongan yang tidak mudah diisi oleh perdana menteri baru yang harus bergulat dengan krisis biaya hidup dan fragmentasi politik dalam negeri. Apakah Eropa akan kehilangan momentum? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi untuk saat ini, satu hal yang pasti: von der Leyen dan Macron tidak akan menjadi satu-satunya pemimpin yang melepas Starmer dengan ucapan terima kasih.

Mundurnya seorang perdana menteri acap hanya menjadi catatan kaki sejarah. Namun di seberang Selat Inggris, perginya Starmer mungkin akan terasa lebih lama daripada sisa kebijakan domestiknya yang pudar. Eropa menanti langkah selanjutnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
toni-kurniadi

Reporter Fintech. Reporter fintech dan pembayaran digital.

Comments (0)

User