Mantan Panglima Militer Israel Resmi Luncurkan Kampanye Gulingkan Netanyahu
Yerusalem – Panggung politik Israel semakin memanas menjelang pemilihan umum mendatang. Mantan Kepala Staf Umum Israel (IDF), Gadi Eisenkot, pada Selasa (30/6) waktu setempat secara resmi memulai k
Yerusalem – Panggung politik Israel semakin memanas menjelang pemilihan umum mendatang. Mantan Kepala Staf Umum Israel (IDF), Gadi Eisenkot, pada Selasa (30/6) waktu setempat secara resmi memulai kampanyenya untuk menantang kepemimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Pensiunan jenderal yang selama ini dipandang sebagai kandidat terdepan dari kubu oposisi itu hadir membawa pesan persatuan dan tekad untuk mengakhiri era pemerintahan yang ia sebut sebagai “kekacauan.”
Slogan “Israel Harus Menang” dan Seruan Akhiri Pemerintahan Oktober
Dengan mengusung slogan “Israel harus menang,” Eisenkot menegaskan bahwa pemilu kali ini bukan sekadar pertarungan politik biasa, melainkan pertaruhan bagi masa depan keamanan dan identitas bangsa. “Pemilu mendatang adalah momen krusial bagi keamanan, persatuan, dan jiwa Israel,” ujarnya dalam pidato peluncuran kampanye. Ia juga secara pedas merujuk pada kegagalan pemerintah Netanyahu dalam mengantisipasi dan merespons serangan mematikan Hamas pada 7 Oktober 2023.
“Oktober mendatang, pemerintahan Oktober yang mengerikan itu akan berakhir. Kita akan membuka babak baru dan jauh lebih baik dalam sejarah Israel. Kita akan menulisnya bersama,” seru Eisenkot, disambut riuh pendukungnya. Ucapannya menyiratkan tudingan bahwa pemerintahan Netanyahu – yang berkuasa saat serangan terjadi – turut bertanggung jawab atas salah satu kegagalan intelijen terparah sepanjang sejarah Israel.
Tantangan dari Dalam dan Harapan Koalisi Baru
Eisenkot bukanlah figur baru di lingkaran keamanan Israel. Sebagai mantan Kepala Staf IDF periode 2015–2019, ia dikenal sebagai perwira yang pragmatis dan tidak terjebak retorika ekstrem. Setelah pensiun, ia sempat bergabung dengan koalisi darurat, namun kemudian memilih mundur dan membangun basis dukungan sendiri. Pengamat menilai pencalonannya dapat memecah suara partai-partai kanan-tengah yang selama ini loyal pada Netanyahu, sekaligus membuka peluang terbentuknya koalisi baru pasca-pemilu.
Popularitas Eisenkot yang relatif stabil di mata publik, terutama di kalangan pemilih yang menginginkan restorasi kepercayaan terhadap militer dan birokrasi keamanan, menjadikannya ancaman serius bagi petahana. Namun jalan menuju kursi perdana menteri tidaklah mudah. Ia harus terlebih dahulu memenangi kontestasi internal yang berpotensi diikuti sejumlah mantan perwira tinggi lainnya.
Meski belum ada tanggal pasti pemilu, mosi tidak percaya dan tekanan publik terus mendorong percepatan pemilihan, yang kemungkinan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan. Dengan narasi pemersatu dan fokus pada pemulihan keamanan, Eisenkot mencoba merangkul segmen pemilih yang lelah dengan polarisasi dan konflik internal yang justru dinilai melemahkan posisi tawar Israel di kancah internasional. Dari balkon kampanyenya di Yerusalem, Eisenkot menegaskan, “Ini bukan hanya soal mengganti pemimpin, tetapi menyelamatkan masa depan Israel dari krisis berkepanjangan.”
Sumber yang dihimpun Terdepan.id dari laporan media setempat menyebutkan bahwa pidato pembukaan kampanye tersebut dihadiri ribuan simpatisan dan akan diikuti oleh serangkaian pertemuan terbuka di berbagai kota besar Israel, menandai dimulainya secara resmi pertarungan elektoral yang diprediksi akan berlangsung sengit dan menentukan arah politik negara itu dalam satu dekade mendatang.
Comments (0)