Harapan Damai AS-Iran Buyar, Harga Minyak Dunia Naik Lagi

Jakarta, Terdepan.id – Pasar minyak global kembali bergejolak setelah harapan akan perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pupus. Harga minyak mentah melonjak pada perdagangan Jumat (19/6/2

Jul 08, 2026 - 00:44
0 0
Harapan Damai AS-Iran Buyar, Harga Minyak Dunia Naik Lagi

Jakarta, Terdepan.id – Pasar minyak global kembali bergejolak setelah harapan akan perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pupus. Harga minyak mentah melonjak pada perdagangan Jumat (19/6/2026) setelah pembicaraan damai yang berlangsung di Swiss terpaksa dihentikan akibat meningkatnya eskalasi militer Israel di Lebanon.

Berdasarkan data perdagangan pukul 13.45 WIB, harga minyak mentah Brent yang menjadi acuan internasional naik sebesar 51 sen atau 0,64 persen, bertengger di level US$80,36 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman AS melejit lebih tajam, naik US$1,28 atau 1,7 persen ke posisi US$77,88 per barel.

Ketegangan Geopolitik Kembali Memanas

Kenaikan harga ini menjadi pukulan telak bagi pasar yang sebelumnya sempat optimistis dengan prospek gencatan senjata dan pemulihan pasokan minyak. Sebelumnya, kedua kontrak acuan ini justru mengalami pelemahan signifikan sepanjang pekan, bahkan diprediksi akan membukukan penurunan mingguan sekitar 8 persen. Anjloknya harga itu didorong oleh meredanya kekhawatiran pasokan setelah AS dan Iran menunjukkan kemajuan dalam perundingan rahasia di Swiss.

Namun, situasi berbalik drastis ketika Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Lebanon, yang menyebabkan delegasi Iran mundur dari meja perundingan. Serangan itu dinilai sebagai bentuk provokasi yang mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah, dan langsung memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap gangguan pasokan minyak dari wilayah tersebut.

"Kegagalan perundingan AS-Iran dan meningkatnya eskalasi militer di Lebanon telah menghidupkan kembali premi risiko geopolitik pada harga minyak. Pasar kini khawatir bahwa pintu diplomasi akan tertutup rapat, sehingga sanksi terhadap ekspor minyak Iran akan tetap berlaku," ujar analis energi yang dikutip Terdepan.id.

Situasi ini menggarisbawahi betapa rentannya harga minyak terhadap dinamika politik global. Para trader kini menanti langkah selanjutnya dari kedua belah pihak, namun prospek jangka pendek tampak suram. Ketidakpastian pasokan membuat harga minyak kemungkinan besar akan terus berfluktuasi dalam kisaran tinggi, terutama jika konflik di Lebanon semakin meluas dan melibatkan lebih banyak aktor regional.

Dengan gagalnya perundingan damai, harapan akan penurunan harga minyak lebih lanjut pun sirna. Sebaliknya, tekanan inflasi global akibat kenaikan biaya energi dikhawatirkan akan kembali menghantui banyak negara, termasuk Indonesia, yang masih bergelut dengan pemulihan ekonomi pascapandemi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
fahmi-reza

Reporter Startup. Reporter startup dan ekosistem pendanaan.

Comments (0)

User