Gunung Anak Krakatau Erupsi, Muntahkan Abu Vulkanik 150 Meter
Gunung Anak Krakatau (GAK) yang terletak di perairan Selat Sunda, Lampung Selatan, kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya. Berdasarkan laporan yang diterima Terdepan.id, gunung yang saat ini berst
Gunung Anak Krakatau (GAK) yang terletak di perairan Selat Sunda, Lampung Selatan, kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya. Berdasarkan laporan yang diterima Terdepan.id, gunung yang saat ini berstatus level III siaga itu memuntahkan kolom abu vulkanik setinggi 150 meter dari puncak. Peristiwa ini terekam jelas oleh Pos Pengamatan GAK dalam periode pemantauan pukul 12.00 hingga 18.00 WIB.
Petugas Pos Pengamatan GAK, Muhammad Dika Nurzaman, melaporkan bahwa asap dari kawah utama terlihat berwarna putih dengan intensitas tipis, sedang, hingga tebal. Ketinggian asap bervariasi antara 10 hingga 150 meter di atas puncak. Visualisasi gunung kadang tertutup kabut, namun erupsi tetap terpantau secara visual. Kondisi cuaca di sekitar gunung didominasi cerah hingga mendung, dengan angin bertiup lemah ke arah barat laut.
Status dan Imbauan Keselamatan
Gunung Anak Krakatau masih berada pada status Siaga (Level III), yang berarti aktivitas vulkanik masih tinggi dan berpotensi menyebabkan erupsi susulan. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus merekomendasikan agar masyarakat dan wisatawan tidak mendekati kawasan dalam radius 5 kilometer dari kawah aktif. Hal ini mengingat potensi lontaran material pijar dan aliran lava dapat terjadi sewaktu-waktu.
"Asap kawah utama teramati berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal. Tinggi asap berkisar 10-150 meter di atas puncak. Cuaca cerah hingga mendung, angin bertiup lemah ke arah barat laut," ujar Muhammad Dika Nurzaman dalam laporan resminya yang dikutip Terdepan.id.
Rekaman seismograf dari pos pengamatan menunjukkan adanya tremor menerus dengan amplitudo yang fluktuatif, menandakan suplai magma dari dalam perut bumi masih terus berlangsung. Meski demikian, tidak ada laporan hujan abu di pemukiman penduduk karena arah angin dominan menuju wilayah barat laut yang cenderung mengarah ke laut lepas. Erupsi kali ini tergolong kecil jika dibandingkan dengan letusan besar pada tahun 2018 yang memicu tsunami di Selat Sunda.
Sejarah mencatat, Gunung Anak Krakatau merupakan salah satu gunung api paling aktif di Indonesia, terus tumbuh pasca letusan dahsyat Krakatau pada 1883. Kesiagaan terus ditingkatkan untuk mengantisipasi perubahan aktivitas yang bisa terjadi secara mendadak. "Kami mengimbau nelayan dan pelaku wisata bahari untuk selalu mematuhi rekomendasi jarak aman dan memantau informasi resmi dari pihak berwenang," tambah Dika. Hingga berita ini diturunkan, aktivitas Gunung Anak Krakatau masih terus dipantau secara intensif oleh tim PVMBG dari Pos Pengamatan GAK.
Comments (0)