Richa Novisha Trauma Dengar Sirine Ambulans Usai Ditinggal Gary Iskak
Jakarta - Duka belum juga usai bagi aktris Richa Novisha. Hampir dua bulan setelah kepergian suaminya, Gary Iskak, ia masih bergulat dengan luka batin yang dalam. Bahkan, suara yang biasa terdengar d
Jakarta - Duka belum juga usai bagi aktris Richa Novisha. Hampir dua bulan setelah kepergian suaminya, Gary Iskak, ia masih bergulat dengan luka batin yang dalam. Bahkan, suara yang biasa terdengar di jalanan kini mampu membangkitkan kembali seluruh memorinya tentang hari-hari terakhir sang suami.
Suara yang Menusuk Hati
Melalui akun media sosial pribadinya, Richa mengungkapkan bahwa dirinya kini memiliki trauma spesifik: suara sirine ambulans. Setiap kali mendengar lolongan khas kendaraan darurat itu, tubuhnya bereaksi lebih dulu sebelum pikirannya sempat memproses. "Aku langsung menangis," tulisnya dalam unggahan yang dikutip Terdepan.id, Sabtu (12/4/2026).
Trauma ini, menurut Richa, berakar dari pengalamannya mendampingi Gary selama menjalani perawatan intensif. Suara sirine ambulans menjadi penanda dari rangkaian situasi genting yang berulang—saat suami tercintanya harus dilarikan ke rumah sakit, saat kondisi kesehatannya menurun drastis, dan saat momen-momen penuh kecemasan yang tak terhitung jumlahnya.
Aku tidak menyangka suara ambulans bisa membuatku trauma sehebat ini. Setiap kali mobil ambulans lewat, rasanya seperti hari-hari terakhir Gary terulang kembali di depan mata. Padahal aku sedang di jalan, tapi tiba-tiba air mata jatuh begitu saja.
Bagi masyarakat umum, sirine ambulans adalah tanda bahaya atau pertolongan bagi orang lain. Namun bagi Richa, bunyi itu kini bertransformasi menjadi lonceng peringatan dari masa lalu yang belum bisa ia lepaskan. Ia mengaku sering harus menepikan kendaraan atau menunduk di kursi penumpang transportasi online hanya untuk menenangkan diri.
Berjuang Melawan Trauma Sehari-hari
Richa, yang merupakan ibu dari dua orang anak, menyadari bahwa trauma ini memengaruhi mobilitasnya sehari-hari. Pekerjaan yang menuntutnya kerap berpindah lokasi di Jakarta membuatnya sulit menghindari suara ambulans yang kian sering melintas di ibu kota. "Kadang sehari bisa dua-tiga kali aku menangis di jalan cuma karena dengar ambulans," lanjutnya.
Psikolog klinis dari Universitas Indonesia, Dr. Rina Sari (tidak berafiliasi langsung dengan kasus ini), dalam wawancara terpisah dengan Terdepan.id menjelaskan bahwa reaksi semacam ini merupakan bentuk dari response conditioning pasca-kehilangan. Otak mengasosiasikan stimulus tertentu (sirine) dengan memori traumatis (keadaan darurat orang tercinta), sehingga memicu respons emosional otomatis yang sulit dikendalikan.
Richa mengatakan bahwa ia tengah mempertimbangkan untuk menjalani konseling guna membantunya memproses trauma ini. Dukungan dari keluarga dan sahabat, termasuk dari rekan-rekan sesama artis yang turut berduka atas kepergian Gary, menjadi pegangan utamanya saat ini. Sementara itu, kedua anaknya menjadi sumber kekuatan terbesar untuk terus melangkah meski beban emosional masih terasa berat.
Gary Iskak sendiri meninggal dunia pada 18 Februari 2026 setelah berjuang melawan penyakit yang dideritanya. Kepergian sang aktor dan presenter itu meninggalkan duka mendalam tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi industri hiburan Tanah Air yang kehilangan salah satu sosok berbakatnya. Kini, perjalanan Richa untuk menyembuhkan diri dari trauma menjadi pengingat bahwa duka memiliki wujud yang tak selalu kasat mata, namun bisa menyusup ke dalam suara-suara paling sederhana di kehidupan sehari-hari.
Comments (0)