Pertamina dan Boeing Tandatangani MoU Pengembangan Ekosistem SAF Indonesia
Jakarta — PT Pertamina (Persero) resmi menggandeng raksasa dirgantara Boeing untuk membuka peta jalan baru bagi energi penerbangan di Indonesia. Kedua enti
Jakarta — PT Pertamina (Persero) resmi menggandeng raksasa dirgantara Boeing untuk membuka peta jalan baru bagi energi penerbangan di Indonesia. Kedua entitas menandatangani Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) guna menjajaki peluang pengembangan ekosistem Sustainable Aviation Fuel (SAF) di dalam negeri, sebuah langkah strategis yang menyasar dekarbonisasi sektor aviasi sekaligus mempercepat transisi energi menuju target Net Zero Emission (NZE).
Bagi publik awam, SAF bisa dibayangkan sebagai "minyak goreng" untuk mesin jet, namun ia bukan berasal dari fosil yang digali dari perut bumi, melainkan dari bahan baku berkelanjutan seperti minyak jelantah, limbah pertanian, hingga alga. Secara kimiawi, SAF memiliki struktur yang sangat mirip dengan avtur konvensional, sehingga pesawat modern bisa langsung "meminumnya" tanpa perlu modifikasi mesin yang rumit. Inilah yang membuat SAF menjadi primadona dalam strategi dekarbonisasi penerbangan global, mengingat industri ini sulit dialiri listrik langsung seperti mobil.
Mengapa Indonesia Punya "Kartu As" SAF?
Kerja sama ini bukan sekadar seremoni bisnis, melainkan pertaruhan pada potensi geografis dan biologis Indonesia. Direktur Utama PT Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menegaskan bahwa langkah ini sejalan dengan visi pemerintah dalam mengurangi jejak karbon."Sejalan dengan visi Asta Cita Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, Indonesia terus mendorong pengembangan SAF sebagai salah satu solusi untuk mengurangi emisi karbon di sektor penerbangan sekaligus mendukung terciptanya industri penerbangan yang lebih berkelanjutan," kata Simon dalam keterangan tertulis, Kamis (9/7/2026).Pernyataan Simon bukan tanpa data. Ia merujuk pada laporan ASEAN 2050 SAF Outlook yang menempatkan Indonesia di jajaran elit regional. Dengan proyeksi surplus produksi yang mencapai 2,2 juta barel per hari pada tahun 2050, Indonesia digadang-gadang tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan domestik tetapi juga menjadi pemasok utama SAF di kancah Asia-Pasifik. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu dari tiga besar negara ASEAN dengan potensi produksi berlebih terbesar.
Teknologi "Drop-in": Revolusi Tanpa Ganti Mesin
Untuk memahami mengapa Boeing begitu tertarik, kita perlu menyelami istilah teknis yang menjadi kunci: drop-in fuel. Berbeda dengan inovasi energi yang menuntut infrastruktur baru, SAF dirancang untuk langsung kompatibel dengan sistem distribusi bahan bakar dan mesin pesawat yang sudah ada saat ini. Ibarat mengganti baterai remot TV biasa dengan baterai isi ulang, fungsinya tetap sama, namun dampak lingkungannya jauh lebih rendah. Kolaborasi Pertamina dan Boeing akan berkisar pada studi kelayakan teknis, analisis rantai pasok, serta penilaian ketersediaan bahan baku (feedstock) khas Indonesia. Negara kepulauan ini memiliki pasokan limbah minyak nabati yang masif, serta potensi pengembangan energi berbasis tanaman non-pangan yang bisa ditanam di lahan marjinal, sehingga tidak berkompetisi dengan sektor ketahanan pangan. Fokus penjajakan ini meliputi beberapa pilar teknis krusial:- Kesiapan Refinery: Mengidentifikasi kilang Pertamina yang bisa direvamp untuk memproduksi SAF dalam skala komersial, termasuk melalui teknologi Hydroprocessed Esters and Fatty Acids (HEFA).
- Sertifikasi ASTM: Memastikan produk SAF yang dihasilkan lolos standar ketat internasional (ASTM D7566) agar bisa digunakan oleh maskapai komersial global.
- Kebijakan Harga: Merumuskan skema insentif atau blending mandate serupa dengan biodiesel, agar harga SAF bisa kompetitif menghadapi avtur fosil yang masih disubsidi di beberapa titik.
Comments (0)