Bandung — Pertamina Berdayakan Difabel di Kampung Rajut

Kota Bandung — Kampung Rajut Binong Jati telah lama dikenal sebagai pusat rajutan kreatif di Indonesia. Berdiri sejak era 1970-an, kawasan ini kini bukan s

Jul 09, 2026 - 14:31
0 0
Bandung — Pertamina Berdayakan Difabel di Kampung Rajut

Kota Bandung — Kampung Rajut Binong Jati telah lama dikenal sebagai pusat rajutan kreatif di Indonesia. Berdiri sejak era 1970-an, kawasan ini kini bukan sekadar sentra produksi rajutan konvensional, melainkan juga menjadi laboratorium hidup bagi inovasi pengelolaan limbah tekstil yang inklusif. Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), PT Pertamina (Persero) memperluas dampak positif tersebut dengan memberdayakan penyandang disabilitas yang tergabung dalam Komunitas Fable.

Green Warrior: Ketika Merajut Bertemu Keberlanjutan

Program Green Warrior yang diinisiasi Pertamina mengusung filosofi bahwa kegiatan merajut bisa menjadi alat perjuangan lingkungan. Konsep ini mengintegrasikan keterampilan tradisional dengan prinsip ekonomi sirkular. Limbah tekstil yang sebelumnya hanya menjadi sampah, diolah kembali menjadi produk bernilai tinggi oleh tangan-tangan kreatif para perajin, termasuk kaum difabel.

Pendekatan ini layaknya transformasi alkemis modern: serpihan kain dan benang sisa produksi yang tidak terpakai disulap menjadi tas, dompet, aksesori fesyen, hingga dekorasi rumah yang unik. Prosesnya tidak hanya mengurangi volume sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru yang ramah lingkungan.

Pemberdayaan Komunitas Fable: Merajut Kemandirian Difabel

Komunitas Fable merupakan wadah bagi penyandang disabilitas di sekitar Bandung untuk mengembangkan keterampilan dan kemandirian ekonomi. Dengan dukungan Pertamina, mereka mendapatkan pelatihan intensif mulai dari teknik dasar merajut, pemilahan limbah tekstil, hingga pengemasan produk yang siap dipasarkan.

“Kami ingin membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk berkarya dan ikut menjaga lingkungan. Program ini memberi mereka panggung untuk menunjukkan bahwa kreativitas tidak mengenal batas,” ujar Retno Wulandari, perwakilan TJSL Pertamina.

Beberapa poin kunci dari pemberdayaan ini meliputi:

  • Pelatihan keterampilan merajut dan daur ulang limbah tekstil bagi lebih dari 30 penyandang disabilitas.
  • Pendampingan bisnis dan akses pemasaran digital agar produk hasil rajutan bisa menjangkau pasar yang lebih luas.
  • Penyediaan alat dan bahan ramah lingkungan untuk menunjang produksi.
  • Edukasi lingkungan tentang pentingnya mengurangi sampah tekstil dan menerapkan gaya hidup zero waste.
“Dulu saya pikir keterbatasan saya hanya jadi beban. Sekarang saya bisa bantu keluarga dan bahkan mentor bagi teman-teman baru,” ujar Iwan Setiawan, peserta program yang telah bergabung sejak 2023.

Dampak Lingkungan dan Ekonomi

Dari sisi lingkungan, program Green Warrior telah berhasil mendaur ulang ratusan kilogram limbah kain per bulan. Limbah yang sebelumnya mencemari lingkungan kini bertransformasi menjadi produk dengan nilai jual mulai dari Rp50.000 hingga Rp300.000 per item, tergantung kerumitan dan ukuran.

Menurut data Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung, setiap harinya kota ini menghasilkan sekitar 150 ton limbah tekstil. Program ini mampu mengalihkan setidaknya 5 ton per bulan dari aliran sampah—sebuah langkah kecil yang memberi dampak signifikan bagi pengurangan timbunan sampah perkotaan.

Secara ekonomi, para difabel peserta program kini mampu memperoleh penghasilan mandiri yang sebelumnya sulit mereka dapatkan. Data internal menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan per bulan peserta meningkat hingga 2,5 kali lipat setelah bergabung dalam program. Hal ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan individu, tetapi juga menguatkan ekonomi keluarga.

Masa Depan Kolaborasi Inklusif

Pertamina berencana mereplikasi model Green Warrior di sentra-sentra rajut lain di Indonesia. Dukungan juga akan diperkuat ke pelatihan desain produk berbasis tren pasar dan pemanfaatan platform e-commerce agar produk difabel Kampung Rajut semakin dikenal secara nasional bahkan internasional.

Program ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara korporasi, komunitas, dan kelompok rentan mampu menciptakan dampak sosial yang berkelanjutan. Seperti benang yang saling terjalin membentuk kain yang kuat, kolaborasi ini menghasilkan perubahan yang kokoh dan tahan lama.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User