Momen Peti Jenazah Ayatollah Khamenei Ditampilkan, Pelayat Menangis
Teheran — Untuk pertama kalinya, peti jenazah mantan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, diperlihatkan kepada publik dalam sebuah upacara yang sarat emosi di Grand Mosalla Teheran. Alm
Teheran — Untuk pertama kalinya, peti jenazah mantan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, diperlihatkan kepada publik dalam sebuah upacara yang sarat emosi di Grand Mosalla Teheran. Almarhum meninggal dunia pada akhir Februari lalu, dalam insiden yang oleh otoritas Iran disebut sebagai serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel. Kehadiran jenazah sang pemimpin spiritual dan politik itu memicu tangisan histeris serta pekikan slogan-slogan keagamaan dari ribuan pelayat yang memadati kompleks masjid raya tersebut.
Suasana duka mendalam menyelimuti Grand Mosalla sejak pagi hari, ketika peti jenazah yang ditutupi kain bertuliskan ayat suci Al-Quran perlahan dibawa masuk oleh para penjaga revolusi. Ribuan pelayat, sebagian besar mengenakan pakaian serba hitam, berebut mendekat untuk menyentuh peti dan melantunkan doa. Teriakan “Allahu Akbar” dan “Kematian bagi Amerika” berkumandang di sela-sela isak tangis, menciptakan atmosfer yang memadukan kesedihan dan semangat perlawanan.
Ayatollah Khamenei, yang telah memimpin Iran selama lebih dari tiga dekade sejak wafatnya Ayatollah Khomeini pada tahun 1989, meninggal dalam kondisi yang masih menjadi polemik internasional. Berdasarkan laporan yang dihimpun Terdepan.id, serangan yang menewaskan Khamenei terjadi pada sebuah fasilitas bawah tanah di pinggiran Teheran, yang diklaim sebagai pusat komando operasi proksi Iran di Timur Tengah. Baik Washington maupun Tel Aviv belum memberikan pernyataan resmi atas tuduhan tersebut, namun Teheran bersikukuh menyebutnya sebagai “aksi terorisme negara yang terencana”.
“Beliau adalah pelita umat, simbol keteguhan melawan arogansi global. Kepergiannya adalah luka bagi seluruh dunia Islam, namun darahnya akan melahirkan jutaan penerus,” ujar seorang pelayat yang mengaku berasal dari kota Qom, seraya menangis di dekat peti jenazah, sebagaimana dilaporkan tim Terdepan.id di lokasi.
Upacara penyemayaman ini menjadi rangkaian pertama dari prosesi pemakaman kenegaraan yang akan berlangsung selama beberapa hari ke depan. Pihak berwenang telah menutup sejumlah ruas jalan utama di Teheran dan memperketat keamanan di sekitar Grand Mosalla, mengantisipasi lonjakan massa yang diperkirakan terus bertambah. Para pemimpin senior Iran, termasuk presiden dan komandan Garda Revolusi, tampak hadir dan memberikan penghormatan terakhir di dekat peti jenazah.
Sementara itu, sejumlah negara sekutu Iran, seperti Suriah, Irak, dan Yaman, menyatakan belasungkawa dan mengibarkan bendera setengah tiang. Di Teheran sendiri, layar-layar besar di sejumlah alun-alun menampilkan wajah mendiang Khamenei dengan tulisan “Pemimpin Abadi Revolusi”, menandakan bahwa pengaruh almarhum akan terus dipatrikan dalam narasi resmi negara tersebut meski jasadnya telah terbujur kaku.
Analis yang dihubungi Terdepan.id menilai kematian Khamenei berpotensi menciptakan kekosongan kekuasaan sementara di puncak hierarki politik Iran, meskipun Dewan Ahli dikabarkan telah bersiap menunjuk pengganti dalam waktu dekat. Di tengah krisis regional yang memanas, transisi kepemimpinan ini akan menjadi ujian besar bagi stabilitas dalam negeri dan arah kebijakan luar negeri Republik Islam Iran di masa mendatang.
Foto: AFP PHOTO / Iranian supreme leader office
Comments (0)