Maluku Utara — Harga Batu Bacan Anjlok dari Rp250 Juta Kini Sepi Peminat

Jakarta — Ingatkah Anda dengan demam batu akik yang melanda Indonesia satu dekade silam? Di antara ratusan jenis batu mulia yang menjadi incaran, nama ba

Jul 12, 2026 - 10:44
0 0
Batu akik di Pasar Rawa Bening

Jakarta — Ingatkah Anda dengan demam batu akik yang melanda Indonesia satu dekade silam? Di antara ratusan jenis batu mulia yang menjadi incaran, nama batu Bacan dari Maluku Utara pernah bertengger di puncak sebagai primadona paling prestisius. Harganya kala itu bisa menembus Rp250 juta untuk sebongkah cincin berkualitas tinggi. Namun, seiring meredupnya tren, batu yang dulu dielu-elukan bak harta karun itu kini mengalami nasib yang jauh berbeda.

Kini, di sudut-sudut Pasar Rawa Bening, Jakarta, yang dulu menjadi pusat transaksi batu akik paling semarak, batu Bacan hanya dipajang tanpa banyak peminat. Harganya anjlok drastis, bahkan pedagang rela melepas koleksi mereka dengan diskon besar-besaran. Lantas, apa yang sebenarnya terjadi hingga aset investasi yang dulu dianggap menggiurkan ini berubah menjadi barang yang nyaris terlupakan?

Masa Kejayaan yang Melampaui Akal Sehat

Fenomena batu akik Bacan mencapai puncaknya pada periode 2014–2015. Batu berwarna hijau kebiruan yang dikenal dengan istilah “Bacan Doko” dan “Bacan Palamea” ini menjadi simbol status baru di kalangan masyarakat, dari pejabat hingga artis. Konon, pada masa itu, sebuah batu Bacan Doko berukuran jempol tangan dengan tingkat kejernihan sempurna bisa laku di harga Rp100 juta hingga Rp250 juta, bahkan lebih.

“Waktu itu, orang tidak peduli lagi dengan logika ekonomi. Semua berlomba-lomba mengoleksi batu Bacan karena percaya harganya akan terus naik. Saya sendiri pernah menjual satu cincin seharga Rp150 juta hanya dalam hitungan jam,” ujar Hasan, salah satu pedagang senior di Pasar Rawa Bening yang sudah berjualan sejak 2010.

Kenaikan harga yang meroket itu didorong oleh beberapa faktor. Pertama, kelangkaan alami batu Bacan asli yang hanya ditemukan di Pulau Kasiruta, Halmahera Selatan. Kedua, tren sosial yang masif, di mana hampir setiap pria dewasa merasa perlu memakai cincin batu akik sebagai bagian dari identitas. Ketiga, spekulasi investasi yang menggelembungkan harga hingga ke tingkat yang tidak rasional. Para pelaku pasar, dari penambang, pengrajin, hingga tengkulak, sama-sama menuai untung besar.

Awal Keruntuhan: Ketika Gelembung Mulai Pecah

Namun, setiap gelembung spekulatif pasti memiliki batasnya. Memasuki tahun 2016, tanda-tanda penurunan mulai terlihat. Pasokan batu Bacan yang kian melimpah di pasar—akibat maraknya penambangan besar-besaran—mulai menggerus nilai kelangkaannya. Selain itu, pergeseran tren gaya hidup membuat masyarakat perlahan meninggalkan aksesori batu akik dan beralih ke mode lain, seperti jam tangan pintar atau perhiasan logam mulia konvensional.

Faktor paling mematikan adalah masuknya batu sintetis dan olahan yang dijual dengan kedok Bacan asli. Beragam teknik pewarnaan dan pemanasan membuat konsumen awam sulit membedakan mana batu alam dan mana yang palsu. Ketidakpercayaan pasar pun merebak, dan harga mulai jatuh secara perlahan tapi pasti.

“Sekarang, batu dengan kualitas yang dulu bisa laku Rp50 juta, paling hanya dihargai Rp5 juta. Itu pun kalau ada yang mau beli. Banyak pedagang yang sudah beralih ke jenis perhiasan lain atau tutup toko sama sekali,” jelas Rina, seorang pengrajin batu akik yang kini lebih banyak mengerjakan pesanan custom berbahan perak.

Kondisi Pasar Terkini: Sepi dan Penuh Diskon

Jika menyusuri Pasar Rawa Bening hari ini, Anda akan disambut pemandangan yang kontras dengan kejayaan masa lalu. Lapak-lapak yang dulu penuh dengan etalase kristal dan lampu sorot, kini banyak yang kosong atau berganti fungsi. Beberapa pedagang yang bertahan terpaksa memberikan potongan harga hingga 70%–90% dari harga puncak.

Data dari asosiasi pedagang setempat menunjukkan volume transaksi batu akik secara keseluruhan merosot lebih dari 80% dibandingkan tahun 2015. Khusus batu Bacan, penurunannya bahkan lebih curam. Jenis Bacan Palamea yang dulu menjadi buruan kolektor serius, kini bisa didapat dengan harga di bawah Rp1 juta untuk bongkahan yang dulu dihargai puluhan juta.

Dampak sosial ekonominya cukup memprihatinkan. Banyak penambang di Pulau Kasiruta kini kembali menjadi petani atau nelayan karena pendapatan dari tambang batu Bacan tidak lagi mencukupi. Generasi muda yang dulu berbondong-bondong menjadi perantau penjual batu akik di kota-kota besar, kini mencari peruntungan di sektor lain. Di kalangan kolektor, hanya segelintir orang yang masih aktif membeli, itupun sebatas untuk kenangan atau koleksi personal dengan nilai emosional tinggi, bukan lagi sebagai ladang investasi.

Pelajaran dari Gelembung Batu Akik

Fenomena boom and bust batu Bacan menjadi cermin klasik dari gelembung spekulatif yang kerap muncul di berbagai komoditas alternatif. Tanpa dukungan fundamental nilai yang jelas, seperti utilitas industri atau permintaan institusional yang stabil, harga aset mengandalkan sekadar tren dan persepsi publik yang rentan berubah.

Para ekonom menyebut kasus ini mirip dengan gelembung tanaman hias atau koin kripto pada era tertentu, di mana FOMO (fear of missing out) mendorong masuknya pemain ritel yang tidak memiliki pengetahuan cukup. Ketika gairah pasar mereda, kerugian pun bertumpuk di tangan mereka yang terlambat sadar.

Meski begitu, bukan berarti batu Bacan kehilangan seluruh nilainya. Batu dengan kualitas kelas museum—yang benar-benar langka, alami, dan tanpa olahan—masih menyimpan harga di kisaran belasan hingga puluhan juta rupiah. Hanya saja, pasarnya kini sangat terbatas; hanya pembeli serius dari kalangan kolektor murni atau investor perhiasan tradisional yang masih melirik.

Bagi para mantan “pemain” batu akik, cerita ini menyisakan dua sisi: manisnya cuan instan di masa lalu, dan pahitnya menyaksikan aset yang dulu dianggap warisan budaya berubah menjadi pajangan statis di etalase yang berdebu.

Sebagai informasi tambahan bagi pembaca yang penasaran, berikut 3 FAQ esensial seputar topik ini:

[SOCIAL_TWEET]: Dulu dibanderol Rp250 juta, kini batu Bacan sepi peminat. Harga anjlok hingga 90%, pedagang gigit jari. Gelembung batu akik memang telah pecah. #BatuAkik #Bacan #Investasi [SOCIAL_TG]: Dulu harga sebongkah cincin batu Bacan bisa capai Rp250 juta. Sekarang, di Pasar Rawa Bening, harga jualnya anjlok drastis dan banyak pedagang gulung tikar. Apa yang sebenarnya terjadi? Simak ulasan lengkapnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User