SHENZHEN — OnePlus Terpuruk, Begini Kronologi Runtuhnya Ikon Android Kesayangan Penggemar

Di sebuah kafe kecil di bilangan Senayan, Jakarta, seorang pria paruh baya mengeluarkan ponsel dari sakunya. Layar ponsel itu retak di sudut kiri atas, tet

Jul 12, 2026 - 10:51
0 0
SHENZHEN — OnePlus Terpuruk, Begini Kronologi Runtuhnya Ikon Android Kesayangan Penggemar

Di sebuah kafe kecil di bilangan Senayan, Jakarta, seorang pria paruh baya mengeluarkan ponsel dari sakunya. Layar ponsel itu retak di sudut kiri atas, tetapi casing belakangnya yang bertekstur batu pasir hitam masih memancarkan aura nostalgia. Itu adalah OnePlus One, ponsel yang lebih dari satu dekade lalu mengguncang industri smartphone global dengan jargon "Flagship Killer". Pria itu, sebut saja Bagus, adalah satu dari ribuan penggemar garis keras yang dulu harus berburu undangan agar bisa membeli ponsel tersebut. Kini, ponsel itu menjadi saksi bisu perjalanan sebuah merek yang meluncur dari puncak angan-angan menuju lembah ketidakrelevanan. Dari primadona era awal Android yang dipuja komunitas, OnePlus berubah menjadi entitas yang nyaris kehilangan ruh. Pertanyaannya sederhana: apa sebenarnya yang salah?

Lahir dari Pemberontakan yang Brilian

Untuk memahami kejatuhan, kita harus kembali ke akar pendiriannya. OnePlus didirikan pada Desember 2013 oleh Pete Lau dan Carl Pei. Keduanya adalah mantan petinggi Oppo yang bermimpi menciptakan ponsel dengan spesifikasi kelas atas namun banderol harga separuh dari kompetitor premium. Strategi awal mereka jenius: spesifikasi gila, harga miring, dan eksklusivitas melalui sistem undangan. Pada April 2014, OnePlus One meluncur dengan banderol 299 dolar AS—jauh di bawah Samsung Galaxy S5 atau iPhone 5s yang menembus 600 dolar lebih—namun membawa prosesor Snapdragon 801, RAM 3 GB, dan layar 5,5 inci full HD.

"Kami tidak ingin menjadi sekadar pabrikan ponsel. Kami ingin menjadi gaya hidup, simbol perlawanan terhadap industri yang serakah," ujar Carl Pei dalam wawancaranya dengan media teknologi saat itu, mengenang masa-masa awal.

Sistem undangan yang kontroversial justru memicu kelangkaan buatan. Permintaan meroket. Forum daring OnePlus penuh sesak oleh pengguna yang meminta undangan, menciptakan pemasaran dari mulut ke mulut secara organik yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam tempo singkat, OnePlus menjadi poster boy dari segmen antusias—pengguna yang paham teknologi, peduli pada spesifikasi, dan enggan membayar mahal untuk sekadar nama besar. OnePlus adalah jawaban atas doa kaum geek.

Titik Balik: Ketika “Never Settle” Mulai Luntur

Namun, seperti kata pepatah, "semua yang naik pasti turun." Perubahan mulai terasa sekitar 2017-2018, ketika OnePlus perlahan meninggalkan akar "flagship killer"-nya. Peluncuran OnePlus 5 dan 5T masih menggunakan pendekatan harga yang kompetitif, tetapi OnePlus 6 hingga OnePlus 8 Pro membawa ponsel-ponsel ini ke wilayah harga yang semakin mendekati para raksasa. Pada saat OnePlus 9 Pro dirilis pada 2021 dengan harga tembus 999 dolar AS, banyak penggemar setia mulai bertanya-tanya: di mana the "killer" yang dulu dijanjikan?

"Saya merasakan pengkhianatan yang pelan. Dulu OnePlus itu ibarat teman seperjuangan. Sekarang mereka seperti pindah ke apartemen mewah dan melupakan kawan lamanya," keluh Bagus, pengguna OnePlus One yang kini beralih ke ponsel lain.

Kenaikan harga itu beriringan dengan integrasi yang semakin dalam dengan Oppo. ColorOS, sistem operasi Oppo yang kerap dikritik karena tampilannya yang norak dan penuh bloatware, perlahan menyusup ke OxygenOS—antarmuka bersih khas OnePlus yang dulu menjadi salah satu favorit pengguna Android murni. Penggabungan basis kode antara OxygenOS dan ColorOS diumumkan secara resmi pada 2021, dan meskipun perusahaan berdalih demi efisiensi pengembangan, komunitas melihatnya sebagai kematian identitas. OnePlus bukan lagi OnePlus.

Merger Diam-diam yang Menghancurkan Jiwa

Pada akhir 2021, OnePlus resmi menjadi sub-merek di bawah ekosistem Oppo. Pete Lau, yang sebelumnya menjadi wajah OnePlus, bergeser peran sebagai Chief Product Officer untuk Oppo dan OnePlus sekaligus. Carl Pei telah lebih dulu hengkang pada 2020 untuk mendirikan Nothing. Kehilangan dua tokoh visioner ini membuat OnePlus kehilangan arah. Model bisnisnya tak lagi unik: ponsel-ponsel OnePlus semakin sulit dibedakan dari lini Oppo Find atau Realme GT. Bahkan, dalam beberapa kasus, perangkat yang dirilis hanyalah rebadge dari ponsel Oppo dengan stiker harga berbeda.

"Ketika kamu sudah menjadi bayang-bayang perusahaan induk, kreativitas dan keberanian untuk berbeda akan mati perlahan," tulis seorang analis teknologi independen, Rahman Aditya, dalam buletin Substack-nya yang membahas dinamika pasar ponsel Tiongkok.

Strategi ini bukannya tanpa alasan bisnis. Oppo membutuhkan efisiensi rantai pasok dan biaya riset. Namun, yang dikorbankan adalah koneksi emosional antara OnePlus dan komunitasnya. Dulu, forum resmi OnePlus adalah ruang sakral tempat para insinyur berinteraksi langsung dengan pengguna, menyerap masukan untuk iterasi perangkat lunak selanjutnya. Kini, forum itu sunyi. Semangat "bersama kita ciptakan ponsel ideal" telah terkubur di bawah arahan korporasi yang hanya mengejar angka penjualan kuartalan.

Terjepit di Pasar yang Makin Brutal

Di saat yang sama, lanskap pasar ponsel berubah drastis. Xiaomi melalui sub-merek Poco dan Redmi semakin agresif menawarkan spesifikasi gila dengan harga yang kembali ke era "flagship killer" sejati. Samsung memperkuat lini Galaxy A-nya dengan fitur-fitur premium di kelas menengah. Apple bahkan mulai merambah segmen harga lebih rendah dengan iPhone SE. Di India—pasar terbesar OnePlus dulu—merek ini tergusur dari lima besar penjualan ponsel pintar, dilindas oleh Xiaomi, Samsung, Vivo, Oppo, dan Realme. Menurut laporan IDC kuartal keempat 2025, pangsa pasar OnePlus di India menyusut di bawah 2 persen, turun dari puncak sekitar 8 persen pada 2019.

Ironisnya, seri Nord yang diluncurkan sebagai upaya kembali ke akar justru semakin memperkeruh situasi. Dengan terlalu banyak varian—Nord CE, Nord 2T, Nord N300, Nord Buds—OnePlus justru menciptakan kebingungan di benak konsumen. Alih-alih menjadi penyelamat, Nord menjadi bukti bahwa OnePlus sudah kehabisan ide dan hanya mengekor formula yang dilakukan kompetitor dengan lebih baik.

Harapan yang Tersisa di Tengah Reruntuhan

Meski begitu, belum semua harapan lenyap. Masih ada ceruk pengguna yang setia, terutama di Eropa dan sebagian kecil India, yang tetap rela membeli OnePlus 11 atau OnePlus 12 karena kualitas build dan kelancaran pengisian daya Warp Charge. Namun, jumlah mereka sudah tidak cukup untuk membalikkan keadaan. Kesetiaan tak akan bertahan tanpa inovasi dan identitas yang jelas. OnePlus kini berjalan di atas tali tipis, di antara menjadi sekadar perpanjangan tangan Oppo atau mencari kembali nyali yang dulu membuatnya dikenang.

"OnePlus adalah kisah klasik tentang bagaimana sebuah merek disruptif bisa kehilangan arah ketika mencoba menjadi sesuatu yang bukan dirinya. Ini pelajaran berharga bagi startup teknologi mana pun," pungkas Rahman Aditya.

Ketika Bagus akhirnya menyimpan OnePlus One-nya kembali ke saku, ia menghela napas. Mungkin bukan OnePlus yang salah, melainkan ia dan jutaan penggemar lain yang berharap terlalu tinggi. Namun, harapan itu dulu dinyalakan oleh OnePlus sendiri. Kini, bara api itu hampir padam. Dan mungkin, ketika benar-benar redup, tak akan ada lagi yang mengingat bagaimana dulu mereka mengobarkan revolusi.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Apa penyebab utama kemunduran OnePlus?
Penyebab utamanya adalah hilangnya identitas setelah merger dengan Oppo, kenaikan harga yang meninggalkan akar "flagship killer", dan kepergian tokoh pendiri visioner seperti Carl Pei. Integrasi ColorOS juga mengikis keunikan OxygenOS yang disukai penggemar.
Apakah OnePlus masih memproduksi ponsel flagship?
Ya, OnePlus masih merilis ponsel flagship seperti OnePlus 11 dan OnePlus 12, tetapi perangkat ini semakin sulit dibedakan dari lini Oppo Find dan harga jualnya telah menyamai kompetitor premium, sehingga kehilangan daya saing khasnya.
Bagaimana masa depan OnePlus setelah sepenuhnya di bawah Oppo?
Masa depan OnePlus sangat bergantung pada strategi Oppo. Jika hanya menjadi sub-merek tanpa diferensiasi yang jelas, relevansinya akan terus menurun. Namun, jika berani kembali ke filosofi awal dengan harga kompetitif dan identitas tegas, masih ada peluang meski sempit.
[SOCIAL_FB]: OnePlus pernah menjadi lambang perlawanan di industri ponsel. Dengan harga miring dan spesifikasi gila, ia merebut hati komunitas. Namun, merger dengan Oppo, kenaikan harga, dan kepergian sang pendiri justru mengantarkannya ke jurang ketidakrelevanan. Inilah kronologi lengkap kemunduran OnePlus.[SOCIAL_THREADS]: OnePlus dulu adalah jawaban untuk semua doa kaum geek. Sekarang? Hampir tak terdengar. Kisah tentang bagaimana kehilangan jati diri bisa menghancurkan sebuah merek dalam hitungan tahun. #OnePlus #TechNews

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User