BPBD Sumsel Catat 306 Karhutla, PALI Jadi Wilayah Tertinggi
Palembang, Terdepan.id — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Selatan mencatat sebanyak 306 kejadian kebakaran hutan dan lahan (kar
Palembang, Terdepan.id — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Selatan mencatat sebanyak 306 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah terjadi di wilayah tersebut hingga 9 Juli 2026. Angka ini menempatkan Sumsel sebagai salah satu provinsi dengan risiko karhutla tertinggi di Indonesia sepanjang paruh pertama tahun ini, seiring dengan menguatnya fenomena musim kemarau yang memicu eskalasi titik api di berbagai kabupaten.
Data yang dirilis oleh Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Sumsel menunjukkan bahwa distribusi kejadian karhutla tidak merata. Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) muncul sebagai episentrum dengan jumlah kasus paling signifikan, menggeser wilayah-wilayah yang sebelumnya menjadi langganan kebakaran seperti Ogan Komering Ilir (OKI) dan Musi Banyuasin. Lonjakan di PALI ini dikaitkan dengan dominasi lahan gambut kering yang mudah terbakar serta praktik pembukaan lahan oleh masyarakat yang belum sepenuhnya terkendali.
Faktor Pemicu dan Kondisi Lapangan
Kepala Pelaksana BPBD Sumsel menjelaskan bahwa peningkatan frekuensi karhutla pada tahun 2026 dipengaruhi oleh beberapa faktor yang saling bertautan. Musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih panjang dari tahun sebelumnya menjadi katalis utama. Selain itu, rendahnya kesadaran sebagian masyarakat mengenai bahaya membakar lahan untuk kegiatan pertanian dan perkebunan masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas.
“Kami melihat adanya korelasi kuat antara puncak musim kemarau dengan lonjakan titik api. PALI menjadi perhatian khusus karena karakteristik tanah gambutnya yang sangat rentan. Begitu tersulut, api di lahan gambut sulit dipadamkan dan bisa bertahan berminggu-minggu di bawah permukaan tanah,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Sumsel.
Selain PALI, sejumlah kabupaten lain juga melaporkan peningkatan kasus, antara lain Musi Banyuasin, Ogan Komering Ilir, dan Banyuasin. Namun, tingkat keparahan dan luas lahan yang terdampak di PALI jauh melampaui wilayah lainnya, sehingga menuntut pengerahan sumber daya pemadaman yang lebih besar.
Dampak Lingkungan dan Kesehatan Masyarakat
Meluasnya karhutla di Sumsel tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga membawa konsekuensi serius bagi kesehatan publik. Kabut asap yang dihasilkan dari kebakaran lahan gambut mengandung partikel halus (PM2.5) yang berbahaya bagi saluran pernapasan. Dinas Kesehatan setempat melaporkan adanya peningkatan kunjungan pasien dengan keluhan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di beberapa puskesmas yang berada di sekitar area terdampak.
Dari sisi ekologis, karhutla menghancurkan habitat satwa liar, mengurangi keanekaragaman hayati, serta melepaskan emisi karbon dalam jumlah besar ke atmosfer. Lahan gambut yang terbakar dapat melepaskan karbon yang tersimpan selama ribuan tahun, memperparah krisis iklim global. Para pegiat lingkungan menyebut Sumsel sebagai salah satu kontributor emisi gas rumah kaca terbesar di Indonesia saat musim karhutla mencapai puncaknya.
Langkah Penanggulangan dan Strategi Pencegahan
BPBD Sumsel telah mengerahkan tim gabungan yang terdiri dari personel TNI, Polri, Manggala Agni, dan relawan masyarakat untuk melakukan operasi pemadaman darat maupun udara. Operasi water bombing menggunakan helikopter dikerahkan secara intensif di titik-titik yang sulit dijangkau oleh tim darat, khususnya di wilayah PALI yang memiliki kontur lahan menantang.
Selain upaya reaktif, pemerintah provinsi juga memperkuat strategi pencegahan melalui:
- Pembentukan Masyarakat Peduli Api (MPA) di desa-desa rawan karhutla sebagai garda terdepan deteksi dini
- Pemasangan papan peringatan dan sosialisasi mengenai sanksi hukum bagi pelaku pembakaran lahan, yang dapat dikenai pidana berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
- Pembangunan sekat kanal untuk menjaga kelembapan lahan gambut agar tidak mengering selama musim kemarau
- Operasi penegakan hukum oleh kepolisian terhadap pelaku pembakaran lahan, dengan beberapa kasus yang telah masuk tahap penyidikan
Belajar dari Tren Karhutla 2026
Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025, angka 306 kejadian karhutla di Sumsel menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Tahun lalu, jumlah kejadian pada kuartal kedua masih berada di bawah 250 kasus. Kenaikan ini menjadi alarm bagi seluruh pemangku kepentingan bahwa upaya pencegahan yang ada saat ini belum cukup efektif untuk menekan angka karhutla secara signifikan.
Pengamat lingkungan dari Universitas Sriwijaya menilai bahwa solusi jangka panjang harus menyentuh akar masalah, yaitu ketergantungan ekonomi masyarakat pada praktik pembukaan lahan dengan metode tebang-bakar. Tanpa adanya alternatif mata pencaharian yang layak dan terjangkau, masyarakat akan terus kembali pada cara-cara konvensional yang berisiko memicu karhutla.
“Pendekatan kesejahteraan harus berjalan seiring dengan pendekatan hukum. Masyarakat butuh insentif ekonomi untuk beralih ke metode pembukaan lahan tanpa bakar. Program pertanian berkelanjutan dan akses alat berat dengan biaya murah harus menjadi prioritas pemerintah,” tegasnya.
Memasuki bulan Juli yang merupakan puncak musim kemarau, BPBD Sumsel memprediksi potensi karhutla masih akan terus meningkat. Masyarakat diminta untuk meningkatkan kewaspadaan dan segera melaporkan titik api melalui call center darurat BPBD. Kolaborasi semua pihak — pemerintah, swasta, akademisi, dan masyarakat — menjadi kunci utama dalam memutus siklus karhutla yang terus berulang setiap tahun di Bumi Sriwijaya.
[SOCIAL_TWEET]: 306 kejadian karhutla landa Sumsel hingga Juli 2026. PALI jadi wilayah paling parah terdampak. Musim kemarau belum usai, risiko makin mengintai. Waspada ISPA dan kabut asap! #Karhutla #SumselSiaga #BPBDSumsel[SOCIAL_TG]: 🔥 BPBD Sumsel catat 306 karhutla hingga Juli 2026! PALI jadi wilayah paling parah. Musim kemarau belum puncak, risiko masih tinggi. Yuk, pantau terus info terbaru dan jangan lengah! 🚁💧
Comments (0)