Makassar — Unhas Resmi Miliki Lima Wakil Rektor, Prof Amir Ilyas Dilantik
Universitas Hasanuddin (Unhas) mencatat babak baru dalam struktur kepemimpinannya. Pada upacara resmi di Baruga A.P. Pettarani, Kampus Unhas Tamalanrea, Se
Universitas Hasanuddin (Unhas) mencatat babak baru dalam struktur kepemimpinannya. Pada upacara resmi di Baruga A.P. Pettarani, Kampus Unhas Tamalanrea, Selasa (7/7), Rektor Unhas melantik Prof. Dr. Amir Ilyas, S.H., M.H. sebagai Wakil Rektor Bidang Inovasi dan Pengelolaan Usaha. Pelantikan ini menjadikan Unhas kini memiliki lima wakil rektor, bertambah satu dari empat posisi sebelumnya. Langkah ini bukan sekadar penyesuaian birokrasi; ia merupakan sinyal strategis bahwa universitas negeri terbesar di Indonesia Timur itu serius memacu hilirisasi riset dan kemandirian bisnis.
Prof. Amir Ilyas, kelahiran Pangkajene, 10 Juli 1980, bukanlah sosok baru di lingkungan Unhas. Sebelumnya ia menjabat Wakil Dekan Bidang Kemitraan, Riset, dan Inovasi di Sekolah Pascasarjana Unhas—posisi yang memberinya jam terbang membangun jejaring strategis dan mengawal inovasi multidisiplin. Dengan latar belakang hukum, Amir membawa perspektif unik tentang perlindungan kekayaan intelektual dan kontrak kerja sama yang selama ini menjadi titik krusial dalam jembatan antara laboratorium dan industri. “Banyak karya dan hasil penelitian Unhas yang sangat potensial, namun belum berhasil masuk ke pasar. Di sinilah tantangan sekaligus tugas besar kami untuk membangun jembatan antara laboratorium dengan dunia industri dan masyarakat,” ujar Prof. Amir, menekankan paradigma baru bahwa riset tidak berhenti di publikasi ilmiah, melainkan harus menyentuh dampak ekonomi langsung.
Penambahan wakil rektor ini lahir dari evaluasi matang atas dinamika riset dan bisnis universitas. Selama satu dekade terakhir, Unhas giat memproduksi prototipe, paten, dan produk inovasi. Namun, banyak di antaranya terhenti di tahap purwarupa karena absennya unit khusus yang mengurus model bisnis, komersialisasi, dan akses pasar. Bidang baru ini akan mengintegrasikan seluruh rantai nilai inovasi: identifikasi potensi riset, perlindungan HAKI, inkubasi startup berbasis riset, pengembangan model bisnis berkelanjutan, hingga kemitraan strategis dengan pemerintah dan investor. Dengan begitu, Unhas ingin menciptakan ekosistem yang memungkinkan setiap hasil riset terbaiknya menjadi produk yang benar-benar beredar dan dimanfaatkan masyarakat luas.
Analisis Struktural: Mengapa Bidang Kelima Menjadi Jawaban Tepat
Sebelumnya, fungsi kemitraan, inovasi, kewirausahaan, dan bisnis ditampung dalam satu wakil rektor saja. Beban rentang kendali yang gemuk membuat fokus terpecah, sering kali aspek komersialisasi kalah prioritas dibanding agenda kemitraan institusional. Dengan pemisahan ini, Unhas mengadopsi struktur yang lebih ramping dan fokus, sebagaimana lazim diterapkan oleh universitas-universitas riset terkemuka dunia yang memiliki technology transfer office dan venture arm independen. Perbandingan sederhana di bawah ini menggambarkan perubahan tersebut.
| Jabatan | Fungsi Sebelum Perubahan | Fungsi Setelah Perubahan |
|---|---|---|
| Wakil Rektor I | Bidang Akademik | Bidang Akademik |
| Wakil Rektor II | Bidang Keuangan dan Sumber Daya | Bidang Keuangan dan Sumber Daya |
| Wakil Rektor III | Bidang Kemahasiswaan | Bidang Kemahasiswaan |
| Wakil Rektor IV | Bidang Kemitraan, Inovasi, Kewirausahaan, dan Bisnis | Bidang Kemitraan dan Kewirausahaan |
| Wakil Rektor V | Tidak ada | Bidang Inovasi dan Pengelolaan Usaha |
Pemisahan ini memungkinkan Wakil Rektor V berkonsentrasi penuh pada metrik-metrik hilirisasi: jumlah lisensi paten yang terjual, pendapatan dari unit bisnis universitas, jumlah inkubator yang melahirkan startup terdanai, serta volume kontrak kerja sama komersial. Sementara itu, Wakil Rektor IV dapat menggenjot kuantitas dan kualitas kemitraan, mobilitas mahasiswa, dan pengabdian masyarakat tanpa terganggu tuntutan profitabilitas bisnis. Sinergi keduanya justru akan lebih kuat karena ada check and balance alami: satu pihak memperluas jejaring, pihak lain menangkap nilai ekonominya.
Secara lebih luas, langkah ini selaras dengan tren global perguruan tinggi yang mengarah pada entrepreneurial university. Data dari sejumlah kampus top Asia menunjukkan bahwa universitas yang memiliki lini khusus pengelola usaha cenderung mencatat pertumbuhan pendapatan non-tuition fee hingga 30–40 persen dalam lima tahun. Dengan potensi riset kelautan, pertanian, kesehatan, dan teknologi informasi yang berlimpah di Sulawesi Selatan, Unhas memiliki modal awal yang menjanjikan. Prof. Amir menyadari betul bahwa “beberapa perguruan tinggi telah lebih dahulu membangun sistem pengelolaan inovasi yang terintegrasi. Kami tidak bermaksud meniru sepenuhnya, melainkan belajar dan mengadaptasi model yang cocok dengan kekuatan lokal Unhas.”
Ke depan, keberhasilan bidang baru ini akan diukur bukan dari banyaknya kegiatan, melainkan dari berapa produk inovasi Unhas yang bisa dijangkau publik secara luas dan berapa besar sumbangan pendapatan usaha terhadap kemandirian universitas. Di tangan Prof. Amir Ilyas, rekam jejak membangun kolaborasi di Sekolah Pascasarjana menjadi fondasi yang kredibel. Kini publik tinggal menunggu gebrakan nyata dari wakil rektor kelima yang akan menjadi “jembatan” antara laboratorium Unhas dan pasar yang sesungguhnya.
Comments (0)