Makassar — Sulsel Gelar HUT Dekranas ke-46, Targetkan Wastra-Kriya Mendunia
Tepat di jantung kota, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan merancang panggung ekonomi kreatif berskala nasional. Dua hajatan besar—HUT Dewan Kerajinan Nas
Tepat di jantung kota, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan merancang panggung ekonomi kreatif berskala nasional. Dua hajatan besar—HUT Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) ke-46 dan Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK ke-54—dijadwalkan berlangsung pada 9–12 Juli 2026 dengan pusat kegiatan di Trans Studio Mall (TSM) Makassar. Berbeda dari edisi-edisi sebelumnya, perhelatan kali ini sengaja menanggalkan gedung konvensi demi menyasar denyut alami pusat perbelanjaan modern. Ini cara panitia mendekatkan produk wastra dan kriya ke arus trafik publik yang lebih cair: seperti menempatkan etalase perajin di tengah “etalase digital” raksasa yang setiap hari dikunjungi ribuan orang.
Inovasi Venue: Mal Sebagai Panggung Kolektif
Ketua Panitia Harian HUT Dekranas, Sukarniaty Kondolele, menjelaskan bahwa pemilihan TSM bukan semata soal lokasi, melainkan strategi distribusi audiens. “Pameran di pusat perbelanjaan adalah yang pertama dalam sejarah HUT Dekranas. Kami ingin produk UMKM benar-benar menyapa pengunjung, terutama kalangan muda yang mungkin belum terbiasa bersentuhan langsung dengan wastra Nusantara,” ujarnya dalam jumpa pers di Hotel Claro, Selasa (7/7). Data trafik TSM menunjukkan potensi kunjungan harian 5.000–7.000 orang yang melonjak hingga 20.000–40.000 orang saat akhir pekan. Angka ini menjadi dasar optimisme panitia untuk melipatgandakan transaksi UMKM.
Rangkaian Acara: Dari Kemitraan Hingga Panggung Budaya
Gelaran akan dibuka secara resmi oleh Ketua Umum Dekranas, Selvi Gibran, pada 10 Juli 2026. Sebelum seremoni, ia dijadwalkan meninjau salah satu titik pemberdayaan ekonomi masyarakat di Makassar—sebuah langkah yang menggarisbawahi bahwa perayaan ini tidak berhenti pada seremoni, tetapi menyentuh lini akar rumput. Berikut urutan kejadian kunci selama empat hari:
- 9 Juli: Kedatangan perwakilan 38 provinsi dan 548 kabupaten/kota; pra-pembukaan pameran wirausaha dan kriya.
- 10 Juli: Peninjauan lokasi pemberdayaan oleh Selvi Gibran, dilanjutkan pembukaan resmi di TSM yang dirangkaikan dengan penabuhan Ganrang Pakajara, penandatanganan nota kesepahaman Bank Indonesia – Dekranas, pemotongan tumpeng, dan pertunjukan budaya.
- 10–12 Juli: Pameran produk wastra dan kriya dari 24 kabupaten/kota Sulsel yang telah melalui kurasi; talkshow ekonomi kreatif, lokakarya, peragaan busana, serta permainan interaktif.
- 12 Juli: Penutupan dan peluang kerja sama antardaerah difasilitasi lewat forum bisnis.
Wastra-Kriya Naik Kelas, Target Pasar Internasional
Mengusung tema “Cipta Kriya Berkelanjutan, Perajin Mendunia”, panitia tidak hanya memajang produk, tetapi membangun ekosistem. Setiap paviliun daerah menjadi inkubator mini: menampilkan produk unggulan sekaligus mempertemukan perajin dengan calon mitra dari provinsi lain dan jaringan distribusi nasional. Langkah ini senafas dengan semangat omnichannel di dunia ritel modern—wastra tak hanya tersaji secara fisik, tetapi mulai diperkenalkan melalui narasi digital yang akan terus bergulir pasca-acara. Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Sulsel, Muhammad Saleh, menyatakan bahwa hingga awal Juli seluruh perwakilan daerah telah mengonfirmasi kehadiran, menjadikan Makassar sebagai titik temu paling lengkap bagi pemangku kepentingan ekonomi kreatif berbasis komunitas.
Melalui momen ini, Sulsel tidak hanya membukukan diri sebagai tuan rumah, tetapi menguji model promosi wastra-kriya berbasis trafik mal yang efisien dan scalable. Jika sukses, prototipe ini bisa direplikasi di pusat perbelanjaan lain—mengubah koridor belanja menjadi galeri budaya berdaya ekonomi tinggi.
Comments (0)