Denpasar Raya — Proyek Sampah Jadi Listrik Resmi Dibangun, Tarif 20 Sen Dolar/kWh

Setelah melalui perencanaan panjang, Danantara resmi memulai pembangunan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di kawasan Denpasar Raya,

Jul 08, 2026 - 19:25
0 2

Setelah melalui perencanaan panjang, Danantara resmi memulai pembangunan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di kawasan Denpasar Raya, Bali. Proyek ini menandai babak baru dalam pengelolaan sampah perkotaan di Indonesia, yang tidak lagi sekadar memindahkan sampah ke tempat pembuangan akhir, tetapi mengubahnya menjadi sumber daya energi bernilai ekonomi. Dengan tarif jual listrik disepakati 20 sen dolar Amerika Serikat per kilowatt-jam (kWh)—setara sekitar Rp3.160 per kWh pada kurs saat ini—proyek ini mengincar pengolahan lebih dari 1.200 ton sampah per hari menjadi listrik berkapasitas hingga 15 megawatt. Pembangunan fisik ditargetkan selesai dalam 30 bulan dan mulai mengalirkan listrik ke jaringan PLN pada akhir 2028.

Dari Timbunan ke Turbin: Cara Kerja Sederhana PSEL

Banyak yang membayangkan pembangkit listrik tenaga sampah seperti insinerator sederhana yang tinggal membakar sampah. Padahal, teknologi yang digunakan dalam PSEL Denpasar adalah moving grate combustion dengan sistem pembersihan gas buang berlapis. Analogi paling dekat adalah seperti mesin kopi raksasa: sampah dimasukkan ke dalam tungku bergerak yang terus mengaduk material (seperti pengaduk bubuk kopi di mesin espresso), memastikan pembakaran sempurna pada suhu di atas 850 derajat Celsius. Panas yang dihasilkan mengubah air dalam boiler menjadi uap bertekanan tinggi, yang kemudian memutar turbin dan menghasilkan listrik. Abu sisa pembakaran—yang volumenya menyusut hingga 90 persen—bisa dimanfaatkan sebagai material konstruksi ringan. Sementara itu, gas buang melewati serangkaian filter elektrostatik dan penyerap kimia sehingga emisi dioksin dan furan tetap di bawah ambang batas ketat yang diizinkan regulasi Uni Eropa.

Tarif 20 Sen Dolar/kWh: Mahal atau Wajar?

Tarif 20 sen AS per kWh menuai diskusi. Sebagai perbandingan, biaya pokok penyediaan (BPP) listrik di Bali saat ini berkisar 7–9 sen dolar AS per kWh, didominasi oleh pembangkit diesel dan gas. Artinya, listrik dari sampah ini dua kali lebih mahal. Namun, pendekatan biaya harus memperhitungkan komponen tersembunyi: tipping fee atau biaya pengelolaan sampah yang selama ini disubsidi pemerintah daerah. Menurut Dian Lestari, ekonom energi dari Universitas Udayana, “Jika kita hitung biaya penuh—termasuk ongkos lahan TPA yang semakin langka, pencemaran air tanah, dan emisi metana dari sampah yang membusuk—20 sen dolar per kWh justru sangat kompetitif. Ini seperti membayar premi asuransi lingkungan.”

Selain itu, teknologi PSEL menghasilkan pendapatan tambahan dari penjualan logam daur ulang yang dipisahkan sebelum pembakaran dan potensi kredit karbon dari pengurangan emisi metana. Proyek di Bali diperkirakan bisa mengurangi emisi setara 120.000 ton CO₂ per tahun, yang bernilai sekitar 1,2 juta dolar AS per tahun pada harga karbon saat ini.

Perbandingan Proyek PSEL di Indonesia

Bali bukan proyek PSEL pertama di Indonesia, namun menjadi yang pertama di bawah skema pendanaan campuran Danantara. Berikut perbandingan singkat dengan proyek yang sudah beroperasi:

Proyek Lokasi Kapasitas (MW) Tarif (sen USD/kWh) Status
PLTSa Bantargebang Jakarta 0,7 13,5 Operasional (pilot)
PLTSa Putri Cempo Surakarta 8 18,5 Konstruksi
PSEL Denpasar Raya Bali 15 20,0 Awal konstruksi
PLTSa Legok Nangka Bandung 20 22,0 (estimasi) Perencanaan

Tren kenaikan tarif mencerminkan kompleksitas teknologi pengendalian emisi yang semakin ketat. Proyek Bali, misalnya, wajib memenuhi standar emisi gas buang yang sama dengan fasilitas serupa di Eropa. Meski mahal, ini adalah harga yang harus dibayar untuk menjaga kualitas udara di destinasi wisata utama Indonesia.

Implikasi Masa Depan: Beyond Bali

Keberhasilan PSEL Denpasar akan menjadi bukti konsep penting bagi rencana pemerintah membangun 12 fasilitas serupa di kota-kota besar pada 2025–2029. Pendanaan dari Danantara memungkinkan struktur tarif tanpa membebani APBN secara langsung, namun konsumen listrik Bali kemungkinan akan merasakan sedikit penyesuaian harga melalui mekanisme subsidi silang. Dalam jangka panjang, saat TPA Suwung di Bali diperkirakan akan penuh dalam 3–4 tahun ke depan, proyek ini adalah jawaban paling rasional dari persimpangan antara krisis sampah, kebutuhan energi bersih, dan keterbatasan lahan pulau.

Pada akhirnya, PLTSa ini bukan sekadar mesin listrik. Ia adalah mesin daur ulang tata kota yang mengubah persepsi “sampah” menjadi “bahan bakar masa depan.”

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User