JAKARTA — Istri mendiang Gary Iskak, Richa Novisha, mengungkapkan pengalaman emosional yang

Fenomena yang dialami Richa ini dikenal dalam dunia psikologi sebagai “trigger trauma” atau pemicu ingatan traumatis. Ibarat sebuah tombol darurat yang ter

Jul 09, 2026 - 01:04
0 0
JAKARTA — Istri mendiang Gary Iskak, Richa Novisha, mengungkapkan pengalaman emosional yang

Fenomena yang dialami Richa ini dikenal dalam dunia psikologi sebagai “trigger trauma” atau pemicu ingatan traumatis. Ibarat sebuah tombol darurat yang tertanam di dalam otak, suara tertentu bisa langsung mengaktifkan respons stres tanpa kita kehendaki. Ketika seseorang mengalami kehilangan besar, otak mencatat semua detail sensorik di sekitar peristiwa tersebut — termasuk bunyi sirene ambulans yang mungkin terkait dengan momen kritis saat nyawa orang tercinta mulai tak tertolong. Tak heran jika kemudian suara yang sama menjadi pemicu yang begitu kuat.

Mengapa Suara Bisa Jadi Pemicu Trauma?

Secara neurosains, suara sirene yang memiliki frekuensi tinggi dan ritme mendesak langsung menggugah amigdala, bagian otak yang berfungsi sebagai pusat kewaspadaan dan emosi. Amigdala inilah yang bertugas menyimpan memori emosional, terutama yang berkaitan dengan rasa takut dan kehilangan. Ketika Richa mendengar sirene ambulans, amigdalanya langsung “mengirim sinyal bahaya” ke seluruh tubuh, mengaktifkan sistem saraf simpatik dan memicu respons lawan-atau-lari (fight-or-flight).

Bayangkan sebuah lagu nostalgia yang tiba-tiba membuat Anda merasa sedih karena mengingatkan pada mantan kekasih. Suara sirene bekerja dengan cara yang sama, hanya saja emosi yang dibangkitkan jauh lebih intens dan menyakitkan. Ini bukan sekadar rindu, melainkan guncangan psikologis yang membawa kembali beban kehilangan secara seketika.

“Saya seperti tersedot kembali ke hari itu. Dada saya sesak, pandangan mulai kabur. Padahal saya sedang di rumah atau di jalan biasa,” ujar Richa saat berbagi kisahnya.

Beberapa studi tentang complicated grief menunjukkan bahwa pemicu sensorik — terutama suara dan aroma — adalah salah satu penyebab utama munculnya intrusi ingatan (intrusive memories) pada seseorang yang sedang berduka. Intrusi ini bisa berupa kilas balik, mimpi buruk, hingga reaksi fisik yang nyata seperti gemetar atau keringat dingin.

Strategi Menghadapi Suara Pemicu

Meskipun tidak mudah, ada sejumlah langkah konkret yang bisa ditempuh untuk meredakan efek trigger suara sirene. Teknik-teknik berikut direkomendasikan oleh para psikolog klinis untuk membantu otak “menulis ulang” asosiasi suara tersebut:

  • Kenali dan terima perasaan yang muncul. Jangan melawan atau menyalahkan diri sendiri ketika tubuh bereaksi terhadap suara sirene. Akui bahwa ini adalah respons alami dari luka yang masih dalam proses penyembuhan.
  • Lakukan teknik pernapasan 4-7-8. Tarik napas selama 4 detik, tahan selama 7 detik, lalu embuskan perlahan dalam 8 detik. Pola ini membantu menenangkan sistem saraf parasimpatik dan menghentikan alarm internal.
  • Gunakan grounding technique 5-4-3-2-1. Saat sirene mulai memicu panik, segera sebutkan 5 hal yang bisa dilihat, 4 hal yang bisa disentuh, 3 hal yang bisa didengar selain sirene, 2 hal yang bisa dicium, dan 1 rasa di mulut. Ini akan membawa pikiran kembali ke masa kini.
  • Cari dukungan profesional atau teman berempati. Terapi seperti grief counseling atau cognitive behavioral therapy (CBT) khusus trauma dapat membantu mengurai asosiasi negatif antara suara sirene dan rasa kehilangan.
  • Rancang rencana mandiri saat menghadapi suara ambulans. Misalnya, jika Anda sedang dalam perjalanan dan mendengar sirene, segera pasang earphone dan dengarkan rekaman afirmasi positif atau musik favorit.

Kisah Richa Novisha mengingatkan kita bahwa proses berduka tidak hanya melibatkan emosi, tetapi juga melibatkan tubuh dan indra secara menyeluruh. Reaksi seperti terpicu suara ambulans adalah bukti betapa dalamnya cinta dan kehilangan yang dirasakan. Semakin kita memahami mekanisme di balik pemicu ini, semakin besar peluang kita untuk menjalaninya dengan lebih sadar dan tidak lagi terbebani secara berlebihan. Sementara waktu mungkin tidak sepenuhnya menghapus rasa sakit, strategi tepat dapat mengubah suara sirene dari jeritan ketakutan menjadi sekadar bunyi lalu lintas yang netral di kemudian hari.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User