Mitra MBG Surabaya Bagikan Sayuran Gratis, Desak Perbaikan Tata Kelola

SURABAYA — Ratusan pegawai dan mitra dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menggelar aksi damai di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, pada Rabu

Jul 09, 2026 - 01:01
0 0
Mitra MBG Surabaya Bagikan Sayuran Gratis, Desak Perbaikan Tata Kelola

SURABAYA — Ratusan pegawai dan mitra dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menggelar aksi damai di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, pada Rabu (8/7). Mereka membagikan sayuran gratis kepada masyarakat sambil menyuarakan desakan agar pemerintah melanjutkan program Makan Bergizi Gratis (MBG), sekaligus membenahi tata kelola pelaksanaannya yang dinilai karut-marut. Aksi ini menjadi sinyal kuat bahwa sistem distribusi bantuan pangan nasional perlu segera diperbarui — layaknya sistem operasi yang membutuhkan patch keamanan dan pembaruan fitur agar tidak terus-menerus crash.

Mengapa Mitra Dapur Turun ke Jalan?

Para peserta aksi — yang terdiri dari pegawai dapur, pemasok bahan pangan, dan petani dari berbagai daerah di Jawa Timur — mengaku frustrasi dengan ketidakpastian kelanjutan program MBG. Program ini sempat menjadi andalan pemerintah untuk mengatasi masalah gizi sekaligus menggerakkan ekonomi kerakyatan. Namun, birokrasi yang lamban dan minimnya transparansi dalam penyaluran anggaran membuat rantai pasok tersendat. Ibarat jaringan internet yang latency-nya tinggi, data gizi dan distribusi pangan tidak sampai tepat waktu ke penerima manfaat.

"Kami ingin program ini tetap berjalan, tapi jangan setengah hati. Tata kelola harus diperbaiki, mulai dari pencatatan stok, penjadwalan distribusi, hingga audit keuangan yang bisa diakses publik," ujar salah satu perwakilan mitra dapur.

Mereka menekankan bahwa teknologi sederhana seperti aplikasi inventory management berbasis cloud sebenarnya bisa menjadi solusi murah untuk memonitor pergerakan bahan pangan dari petani hingga ke piring penerima. Tanpa sistem terpadu, program MBG berisiko menjadi sekadar proyek yang menghabiskan anggaran tanpa dampak signifikan.

Tuntutan Konkret yang Dibawa

Dalam aksinya, para demonstran membentangkan poster dan menyampaikan empat tuntutan utama:

  • Kejelasan jadwal dan anggaran program MBG untuk 12 bulan ke depan agar rantai pasok tidak terputus.
  • Penerapan sistem digital terpadu yang menghubungkan petani, pemasok, dapur SPPG, dan sekolah penerima — mirip dengan supply chain control tower di industri logistik modern.
  • Audit dan transparansi dana secara berkala yang hasilnya dipublikasikan melalui kanal resmi yang mudah diakses.
  • Pelibatan aktif petani dan UMKM lokal dalam ekosistem MBG, bukan hanya perusahaan besar, agar manfaat ekonomi benar-benar berputar di daerah.

Menariknya, para peserta aksi tidak hanya berorasi. Mereka membawa puluhan kilogram sayuran segar — mulai dari bayam, kangkung, wortel, hingga tomat — untuk dibagikan secara cuma-cuma kepada pejalan kaki dan pengendara yang melintas di depan Grahadi. Aksi bagi-bagi sayuran ini adalah metafora langsung dari misi MBG: pangan sehat untuk semua. Namun, juga menjadi ironi karena bahan pangan tersebut seharusnya sudah masuk ke dapur-dapur penerima jika rantai distribusi berjalan mulus.

Belajar dari Rantai Pasok Modern

Bila kita menengok sektor swasta, perusahaan logistik dan foodtech telah lama menggunakan sistem just-in-time dan sensor Internet of Things (IoT) untuk menjaga kesegaran produk dan memangkas pemborosan. Program MBG sejatinya bisa mengadopsi pendekatan serupa dengan biaya yang semakin terjangkau. Sensor suhu dan kelembapan murah yang terkoneksi ke smartphone, misalnya, dapat memastikan sayuran tetap segar selama perjalanan dari lahan petani ke dapur SPPG. Data itu kemudian bisa dianalisis untuk memprediksi kebutuhan stok harian, sehingga tidak ada lagi kasus kelebihan bahan di satu tempat dan kekurangan di tempat lain.

Transformasi digital tata kelola MBG bukan sekadar wacana, melainkan kebutuhan mendesak. Tanpa perbaikan fundamental, program ini hanya akan menjadi daftar panjang inisiatif pemerintah yang gagal mencapai tujuannya. Aksi di depan Grahadi hari ini adalah pengingat bahwa para pelaku di lapangan — mereka yang setiap hari menyiapkan makanan bergizi — sudah lelah berjalan dalam ketidakpastian.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User