Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur resmi mengajukan permohonan bantuan helikopter water bombing menyusul kondisi kebakaran hutan dan lahan yang kian meluas hingga ke area-area yang sulit dijangkau tim darat. Titik api yang semula terkonsentrasi di lahan gambut dangkal kini merambat ke zona dengan aksesibilitas rendah—rawa-rawa terpencil, semak belukar tanpa jalur kendaraan, dan kantong-kantong vegetasi yang hanya bisa diintervensi dari udara. Langkah ini diambil setelah pemadaman konvensional melalui jalur darat dinilai tidak lagi efektif. Regu pemadam menghadapi medan berlumpur dengan kedalaman mencapai lebih dari
70 sentimeter, sementara radius titik api terus bertambah rata-rata
2,3 kilometer per hari berdasarkan data satelit Terra/MODIS yang diterima pusdalops daerah. Situasi ini, menurut BPBD, menuntut eskalasi metode ke operasi udara agar krisis tidak berubah menjadi bencana asap lintas provinsi seperti yang pernah terjadi pada musim kemarau 2019 lalu.
Mengapa Water Bombing Jadi Opsi Niscaya: Logika Akses dan Waktu
Keputusan mengajukan helikopter bukan semata soal gengsi teknologi, melainkan perhitungan matematis antara laju api dan kecepatan respons manusia. Untuk dipahami secara sederhana, bayangkan mencoba mengisi kolam bocor menggunakan sendok teh sambil berdiri di atas perahu karet yang terus bergoyang—itulah yang dialami tim darat saat ini. Setiap liter air harus diangkut manual melintasi jalur setapak, sementara angin di permukaan terus mendorong bara ke titik baru. Dengan helikopter, satu siklus pengeboman bisa menjatuhkan
4.000 liter air dalam sekali lintasan, setara dengan kapasitas 8 mobil tangki pemadam yang sulit masuk ke lokasi.
Alasan utama yang memperkuat urgensi ini dirangkum dalam tiga pilar:
1. Fragmentasi Titik Api. Satelit mendeteksi 47 titik panas kategori high-confidence yang tersebar tidak merata. Jarak antar titik bisa mencapai 12 kilometer dengan kontur lahan yang berbeda-beda, membuat distribusi personel darat menjadi tidak optimal.
2. Durasi Respon Kritis. Waktu terbaik memadamkan api di lahan gambut adalah 90 menit sejak titik api terdeteksi. Lewat dari itu, api sudah menjalar ke lapisan bawah tanah yang sulit dideteksi secara visual, menciptakan fenomena ground fire yang bisa bertahan berminggu-minggu. Helikopter memangkas waktu respons ini secara drastis karena tidak terikat medan.
3. Efektivitas Biaya Darurat. Analisis perbandingan menunjukkan bahwa meskipun biaya operasional helikopter tampak tinggi secara nominal—sekitar
Rp35 juta hingga Rp45 juta per jam terbang—biaya ini seringkali lebih rendah dibanding akumulasi biaya kesehatan, kerugian ekonomi, dan operasi darat berkepanjangan jika kebakaran tak terkendali.
Perbandingan Kapasitas: Darat vs Udara
Untuk melihat gambaran besar perbedaan pendekatan ini, tabel berikut merangkum variabel kunci di lapangan:
| Parameter Operasional |
Tim Darat (Saat Ini) |
Helikopter Water Bombing |
| Volume Air per Siklus |
500–1.000 liter (tergantung jarak sumber air) |
4.000 liter per drop |
| Waktu Tempuh ke Titik Api Terjauh |
1,5–3 jam (jalan kaki/perahu) |
8–15 menit |
| Cakupan Area per Hari |
2–3 hektar (kondisi ideal) |
8–12 hektar |
| Ketergantungan pada Infrastruktur Jalan |
Sangat tinggi |
Tidak ada |
| Kemampuan Jangkau Vertikal |
Tidak bisa menjangkau kanopi tinggi |
Bisa langsung menyasar titik api di tajuk |
Data di atas memperjelas bahwa intervensi udara bukan menggantikan kerja tim darat, melainkan melengkapi pada spektrum yang tidak bisa mereka jangkau.
“Ini bukan soal memilih satu metode di atas lainnya, tapi tentang menutup celah antara apa yang bisa dilakukan manusia dan apa yang diminta oleh skala bencana,” ujar seorang analis mitigasi kebakaran dari Pusat Studi Bencana Universitas Lambung Mangkurat. Operasi udara membuka jendela kesempatan emas di 2–3 jam pertama yang sangat krusial.
Saat ini, BPBD Kotim menunggu respons dari BNPB dan Kementerian Lingkungan Hidup mengenai ketersediaan unit helikopter. Jika disetujui, helikopter akan dioperasikan dari posko utama dengan sumber air dari waduk dan kanal terdekat yang telah disurvei sebelumnya. Penggunaan bambi bucket berkapasitas besar diharapkan mampu menekan laju perluasan kebakaran hingga
60 persen dalam satu pekan operasi intensif.
Comments (0)