MANCHESTER — Rooney: Penalti Argentina Lawan Mesir Palsu, Sudutkan Negara Afrika
Kemarahan publik terhadap keputusan wasit di laga Argentina vs Mesir pada babak 16 besar Piala Dunia 2026 terus meluas, kini menjalar ke ikon sepak bola In
Kemarahan publik terhadap keputusan wasit di laga Argentina vs Mesir pada babak 16 besar Piala Dunia 2026 terus meluas, kini menjalar ke ikon sepak bola Inggris, Wayne Rooney. Mantan kapten Manchester United dan timnas Inggris itu secara terbuka menyebut hadiah penalti untuk Argentina di menit 90+3 sebagai “salah satu keputusan paling memalukan yang pernah saya saksikan”. Rooney menuding wasit asal Eropa, yang identitasnya belum dirilis oleh FIFA karena alasan keamanan, dengan sengaja menyudutkan tim Afrika demi mengamankan langkah Argentina ke perempat final. Pertandingan yang berakhir 2-1 untuk kemenangan Argentina itu semula dikuasai Mesir melalui gol cepat Mohamed Salah pada menit ke-11, sebelum Lionel Messi menyamakan skor di babak kedua. Kontroversi meletus ketika penyerang Argentina terjatuh di kotak penalti setelah kontak minimal dengan bek Mesir—sebuah insiden yang oleh tayangan ulang berbagai sudut kamera justru menunjukkan pemain Argentina menginjak kaki bek terlebih dahulu.
Rooney, yang kini aktif sebagai analis di televisi Inggris, tak menahan diri di media sosial. “Hari yang menyedihkan bagi sepak bola. Bukan hanya keputusan yang keliru, tapi pola yang terus berulang. Tim Afrika selalu jadi korban di momen-momen besar,” cuitnya di akun X pribadi. Pernyataannya sontak memantik dukungan luas dari kalangan pemain dan pengamat, termasuk legenda Nigeria Jay-Jay Okocha serta mantan pelatih Ghana, Otto Addo. Federasi Sepak Bola Mesir (EFA) telah melayangkan protes resmi ke FIFA, menyebut penalti tersebut sebagai “keputusan palsu yang membunuh mimpi sebuah benua”. Sementara itu, kapten Mohamed Salah—yang terlihat menangis di akhir laga—hanya menyampaikan, “Semua orang melihat apa yang terjadi, tapi sepertinya dunia tidak ingin kami menang.”
Analisis: Pola Bias Wasit terhadap Tim Afrika yang Kian Nyata
Kecaman Rooney tidak berdiri di ruang hampa. Data historis memperlihatkan bagaimana tim Afrika hampir selalu dirugikan dalam situasi-situasi kritis di putaran gugur Piala Dunia. Dari total 12 penalti yang diberikan di empat edisi Piala Dunia terakhir sejak 2014 pada fase gugur, hanya satu yang diberikan kepada tim Afrika—itupun terjadi di laga yang tidak menentukan, saat Senegal menghadapi Inggris di babak 16 besar 2022 dan skor sudah 3-0. Sisanya, mayoritas penalti mengalir ke tim Eropa dan Amerika Selatan, termasuk tiga penalti kontroversial yang memastikan langkah tim Amerika Selatan ke babak selanjutnya.
| Tahun & Pertandingan | Keputusan Wasit | Dampak | Keputusan VAR/Ulasan |
|---|---|---|---|
| 2010, Uruguay vs Ghana (Perempat Final) | Handball Suarez tidak diganjar penalti langsung usai pelanggaran, hanya kartu merah dan tendangan bebas | Ghana gagal lolos semifinal, kalah adu penalti setelah tendangan Gyan membentur mistar | Tidak ada VAR saat itu, FIFA mengakui aturan ambigu |
| 2018, Senegal vs Kolombia (Grup) | Bek Kolombia melakukan handball di kotak, wasit tidak menunjuk titik putih setelah konsultasi VAR | Senegal tersingkir karena selisih gol | VAR dinyatakan memeriksa insiden, namun diputuskan “bukan handball yang disengaja” |
| 2022, Maroko vs Portugal (Perempat Final) | Dua klaim penalti Maroko diabaikan, termasuk tarikan terhadap striker di kotak penalti | Maroko tetap menang 1-0, namun analis menyebut wasit melakukan unconscious bias | VAR merekomendasikan on-field review, wasit menolak |
| 2026, Argentina vs Mesir (16 Besar) | Penalti diberikan untuk Argentina meski kontak minimal dan indikasi diving | Mesir tersingkir, Argentina melaju ke perempat final | VAR memanggil wasit, tetapi wasit tetap pada keputusannya |
“Kita tidak bisa lagi menyebut ini kebetulan. Ada bias struktural di kalangan wasit elite FIFA yang mengasumsikan tim Afrika lebih kasar dan kurang teknis, sehingga dalam situasi 50:50, keputusan hampir selalu menguntungkan lawan yang dianggap lebih ‘beradab’ dalam konteks sepak bola,” ujar Dr. Ibrahim Ndiaye, pengamat sepak bola Afrika dan penulis buku Whistle Politics: Race, Power and Football. Ndiaye menambahkan bahwa sistem VAR seharusnya menjadi alat untuk koreksi, tapi dalam banyak kasus justru memperkuat narasi dominan karena operator dan ruang kendali VAR seringkali diisi personel dari zona yang sama—Eropa dan Amerika Selatan.
FIFA sendiri dijadwalkan merilis pernyataan resmi dalam waktu 48 jam ke depan, namun seorang sumber internal yang enggan disebutkan namanya mengindikasikan bahwa tekanan dari sponsor besar dan pemegang hak siar di Amerika Latin bisa menjadi faktor mengapa keputusan kontroversial tetap dipertahankan. Di sisi lain, petisi daring berjudul “Justice for African Football” telah mengumpulkan lebih dari 2,3 juta tanda tangan dalam kurang dari 24 jam, menunjukkan kemarahan publik global yang menuntut investigasi independen terhadap integritas wasit di Piala Dunia 2026.
Kontroversi ini kembali membuka luka lama tentang ketidaksetaraan di panggung tertinggi sepak bola. Bukan hanya soal satu penalti, melainkan cermin dari sistem yang enggan memberi ruang bagi negara-negara di luar lingkaran elite untuk menulis sejarah mereka sendiri. Seperti yang dikatakan Rooney, “Jika ini terus terjadi, Piala Dunia hanya akan menjadi drama bisu yang sudah diketahui akhir ceritanya sebelum peluit pertama dibunyikan.”
Comments (0)