Jombang – Teka-teki kematian Choiriyah (47), seorang perempuan penyandang tunagrahita di Dusun Jogoroto, Desa Jogoroto
Berdasarkan rilis yang diterima media kami, Terdepan.id, pada Senin, motif pembunuhan ini terungkap setelah penyidik melakukan serangkaian pemeriksaan mendalam terhadap tersangka. Suparni, yang tingg
Berdasarkan rilis yang diterima media kami, Terdepan.id, pada Senin, motif pembunuhan ini terungkap setelah penyidik melakukan serangkaian pemeriksaan mendalam terhadap tersangka. Suparni, yang tinggal sekamar kos bersama adiknya, mengaku kesal karena bumbu pecel yang telah ia siapkan justru dihabiskan oleh Choiriyah tanpa izin.
Pertengkaran di Dapur hingga Berujung Maut
Rangkaian peristiwa nahas itu bermula dari sebuah pertengkaran kecil di dapur area kos. Suparni memergoki adiknya tengah menghabiskan bumbu pecel yang rencananya akan ia gunakan untuk makan bersama. Emosi tersangka sontak terpancing. Pertengkaran mulut yang semula terjadi di dapur itu lantas berlanjut ke dalam kamar kos yang mereka tempati bersama.
Di dalam kamar itulah aksi kekerasan berlangsung selama berjam-jam. Suparni yang dikuasai amarah melakukan penganiayaan terhadap Choiriyah. Korban yang memiliki keterbatasan intelektual itu tidak mampu melawan atau melarikan diri dari kekejaman kakaknya. Penganiayaan tersebut berakhir dengan hilangnya nyawa korban di tempat kejadian.
Setelah menyadari adiknya sudah tidak bernyawa, Suparni tidak langsung menyerahkan diri. Untuk menghilangkan jejak dan mengelabui warga sekitar, ia menyusun skenario palsu. Tersangka sengaja memindahkan tubuh korban ke area kamar mandi dan membuat alibi seakan-akan Choiriyah meninggal dunia karena terpeleset atau terjatuh di lantai basah.
"Pelaku mengaku sakit hati karena bumbu pecelnya habis dimakan korban. Emosi yang tak terkendali itu kemudian mendorong pelaku melakukan penganiayaan hingga menyebabkan kematian korban. Setelah itu, ia mengatur posisi jenazah di kamar mandi untuk menciptakan kesan kecelakaan," ujar seorang penyidik yang menangani kasus ini.
Kepolisian tidak serta-merta percaya pada keterangan awal tersangka. Kecurigaan mulai muncul setelah petugas melakukan olah tempat kejadian perkara dan menemukan sejumlah kejanggalan pada luka serta posisi jenazah korban. Hasil visum dan interogasi intensif akhirnya membongkar kebohongan Suparni. Di hadapan penyidik, perempuan paruh baya itu tak mampu lagi mengelak dan mengakui seluruh perbuatannya.
Saat ini, Suparni telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di Mapolres Jombang. Ia dijerat dengan pasal berlapis terkait penganiayaan yang mengakibatkan kematian. Sementara itu, warga sekitar masih terkejut karena selama ini mereka mengenal kedua kakak beradik itu hidup rukun dalam satu bilik kos yang sempit.
Kasus ini menjadi pengingat betapa bahayanya emosi yang tidak terkendali. Perkara sepele, yang dalam kondisi normal bisa diselesaikan dengan komunikasi sederhana, justru berubah menjadi tragedi kemanusiaan yang memilukan. Terdepan.id akan terus memantau perkembangan proses hukum dari kasus pembunuhan sadis ini.
Comments (0)