Jakarta — Toko HP Sepi Pembeli, Pedagang Makin Susah Jualan
Di lantai tiga sebuah pusat perbelanjaan elektronik di bilangan Jakarta Pusat, barisan etalase kaca memantulkan cahaya lampu neon yang redup. Puluhan ponse
Di lantai tiga sebuah pusat perbelanjaan elektronik di bilangan Jakarta Pusat, barisan etalase kaca memantulkan cahaya lampu neon yang redup. Puluhan ponsel terbaru berjajar rapi, sebagian masih terbungkus plastik segel, dengan layar yang sesekali memancarkan animasi demo ritel—namun tak satu pun tangan calon pembeli yang menyentuhnya. Senin siang itu, hanya ada empat karyawan yang duduk di bangku masing-masing, satu di antaranya asyik mengelap debu pada unit display, sementara yang lain menatap kosong ke lorong mall yang lengang.
Suasana ini bukan pemandangan sesaat. Sejak awal kuartal kedua 2026, sejumlah toko ponsel di Jakarta mengaku mengalami penurunan kunjungan pembeli yang cukup drastis. Jika biasanya satu toko bisa melayani lima hingga tujuh transaksi per hari, kini rata-rata hanya satu sampai dua unit yang laku terjual. Beberapa pedagang bahkan melaporkan hari-hari tanpa penjualan sama sekali—sesuatu yang sebelumnya hanya terjadi satu-dua kali dalam sebulan.
Kenaikan Harga yang Menahan Langkah Konsumen
Pemicu utamanya sederhana namun kompleks di rantai pasok: kelangkaan chip semikonduktor dan memori RAM secara global mendorong harga komponen melonjak tajam. Kenaikan ini langsung merembet ke harga jual perangkat di tingkat konsumen. Beberapa model ponsel kelas menengah yang sebelumnya dibanderol sekitar 3 juta rupiah, kini menyentuh angka 3,5 juta hingga 4 juta. Sementara ponsel flagship bahkan mengalami lonjakan lebih dari 20%.
Para pedagang merasakan langsung dampaknya. Konsumen yang biasanya datang dengan niat membeli mendadak mundur begitu melihat label harga baru. Tidak sedikit yang kemudian beralih ke platform daring untuk mencari alternatif, atau menunda pembelian sama sekali.
“Dulu, orang datang sabtu-minggu itu bisa langsung bawa pulang barang. Sekarang mereka lihat harga, tanya-tanya, terus bilang ‘nanti dulu’. Rasanya berat, mas,” ungkap Andi (35), seorang pemilik konter di lantai yang sama. “Stok yang saya beli bulan lalu saja belum laku semua, padahal modal sudah jalan terus.”
Teknologi Canggih, Pasar yang Lesu
Ironisnya, perlambatan ini terjadi justru di tengah gencarnya produsen merilis model-model baru dengan spesifikasi mumpuni. Chipset AI generasi terbaru, kemampuan fotografi komputasional, hingga pengisian daya super cepat menjadi fitur standar yang dipamerkan di setiap stan. Namun, fitur-fitur canggih itu ibarat jamuan mewah di hadapan tamu yang tak punya selera.
Analis memperkirakan kondisi ini akan bertahan setidaknya hingga akhir tahun. Selain faktor suplai chip, melemahnya daya beli masyarakat dan inflasi turut memperlambat pemulihan sektor ritel gawai. Pedagang yang bertahan kini mengandalkan penjualan aksesori, casing, dan tempered glass sebagai tambahan pendapatan, meskipun margin di segmen itu tipis.
Di sudut toko yang sepi, seorang karyawan wanita tampak merapikan kabel pengaman pada unit display dengan gerakan lambat. Seperti menunggu hujan di musim kering, harapan hanya disandarkan pada loyalitas pelanggan lama—atau datangnya momentum diskon besar yang mungkin bisa menggeliatkan kembali denyut pembelian.
Data Asosiasi Ponsel Seluruh Indonesia (APSI) menunjukkan volume penjualan ponsel ritel di Jakarta pada Mei-Juni 2026 turun lebih dari 30% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Para pelaku usaha kecil seperti Andi pun mengambil langkah efisiensi, mulai dari mengurangi jam kerja karyawan hingga menunda pembaruan stok dari distributor.
“Kami terpaksa buka lebih siang dan tutup lebih cepat karena listrik dan operasional tetap jalan walau barang enggak bergerak. Kalau tidak ada perubahan, mungkin sebagian teman saya bakal gulung tikar,” tambah Andi dengan nada datar.
Dengan rantai pasok global yang masih goyah dan permintaan domestik yang mendingin, para pedagang ponsel di Jakarta kini menavigasi masa sulit yang belum jelas ujungnya. Inovasi di atas meja pamer tetap cemerlang, namun denyut di bawah lantai toko kian lemah.
Comments (0)