Jakarta — Lantai Bursa kembali diwarnai tekanan pada awal sesi perdagangan. Kamis
Berdasarkan data real-time RTI, IHSG membuka perdagangan dengan catatan 5.846 atau turun 27 poin, setara dengan pelemahan 0,46%. Angka ini menjadi pukulan
Berdasarkan data real-time RTI, IHSG membuka perdagangan dengan catatan 5.846 atau turun 27 poin, setara dengan pelemahan 0,46%. Angka ini menjadi pukulan awal di sesi reguler, memperpanjang tren negatif yang telah terlihat dalam beberapa hari terakhir. Sesaat setelah pembukaan, indeks sempat berusaha mendaki menyentuh level tertinggi harian di 5.870, namun tekanan jual yang cukup signifikan kembali menyeretnya hingga menyentuh titik terendah di 5.839 sebelum akhirnya bergerak fluktuatif.
Bayang-bayang Pelemahan Beruntun
Pembukaan di zona merah ini bukanlah kejutan yang terisolasi. Sehari sebelumnya, IHSG telah menutup perdagangan dengan koreksi cukup dalam sebesar 1,89%, mendarat di level 5.873. Artinya, indeks kini bergerak semakin menjauh dari level psikologis 6.000 yang sempat diharapkan menjadi bantalan pemulihan. Momentum negatif ini menunjukkan bahwa pasar belum menemukan katalis yang cukup ampuh untuk membalikkan arah.
"Kami melihat tekanan ini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan internal. Kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global serta aksi ambil untung pasca beberapa saham unggulan mencapai resistensinya menjadi pemicu utama terkoreksinya indeks komposit pagi ini," ujar seorang analis pasar modal di Jakarta.
Pergerakan di kisaran 5.800-an ini bak pedang bermata dua. Di satu sisi, level ini berpotensi menjadi support psikologis yang mengundang aksi borong saham murah (buy on weakness). Namun di sisi lain, jika tidak mampu bertahan, bukan tidak mungkin IHSG akan menguji level support selanjutnya yang berpotensi menimbulkan kepanikan lebih luas.
Sektor Teknologi dan Perbankan Jadi Sorotan
Meskipun data per sektor masih bergerak dinamis, tekanan pagi ini diduga kuat berasal dari saham-saham berkapitalisasi besar di sektor perbankan dan teknologi. Koreksi pada saham-saham "big cap" memang kerap menjadi dalang utama tersungkurnya IHSG mengingat bobotnya yang dominan dalam indeks. Investor asing yang masih mencatatkan aksi jual bersih juga turut memperburuk sentimen di lantai bursa.
Pasar kini menanti rilis data ekonomi terbaru yang diharapkan mampu menjadi penawar bagi lesunya gairah perdagangan. Hingga katalis positif tersebut muncul, pergerakan IHSG diprediksi masih akan cenderung volatil dengan bias pelemahan.
Comments (0)