Dolar AS Makin Dekat ke Rp 18.000!

Jakarta — Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) kian mendekati level psikologis Rp 18.000 pada perdagangan awal pekan ini. Berdasarkan data Bloomberg yang dirangkum Terdepan.id, Senin (6/7/2026)

Jul 06, 2026 - 11:21
0 0
Dolar AS Makin Dekat ke Rp 18.000!

Jakarta — Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) kian mendekati level psikologis Rp 18.000 pada perdagangan awal pekan ini. Berdasarkan data Bloomberg yang dirangkum Terdepan.id, Senin (6/7/2026) pukul 10.16 WIB, mata uang Paman Sam berada di posisi Rp 17.993, menguat 30 poin atau 0,17% dibandingkan penutupan akhir pekan lalu.

Penguatan dolar AS ini membuat rupiah hanya terpaut sekitar 7 poin dari batas psikologis Rp 18.000 per dolar. Sepanjang sesi pagi, dolar AS sempat menyentuh level tertinggi harian di Rp 17.996 sebelum sedikit mereda. Pergerakan tersebut menandai tekanan lanjutan bagi rupiah yang telah melemah dalam beberapa hari terakhir.

Sentimen Global dan Domestik

Pelaku pasar menilai penguatan dolar AS kali ini terutama dipicu oleh ekspektasi pasar terhadap sikap hawkish Federal Reserve. Pernyataan terbaru pejabat The Fed yang mengisyaratkan kenaikan suku bunga lebih agresif untuk meredam inflasi membuat imbal hasil obligasi AS kembali naik, menarik aliran modal keluar dari pasar negara berkembang termasuk Indonesia.

Dari sisi domestik, surplus neraca perdagangan Indonesia yang menyempit pada Mei lalu juga turut membebani rupiah. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekspor tumbuh melambat sementara impor bahan baku tetap tinggi, memperkecil pasokan dolar di dalam negeri. Kondisi ini diperparah oleh aksi jual investor asing di pasar obligasi pemerintah yang mencatatkan net outflow signifikan sepekan terakhir.

"Pelemahan rupiah hari ini lebih didorong oleh faktor eksternal, terutama ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan kekhawatiran perang dagang yang kembali memanas. Jika Bank Indonesia tidak melakukan intervensi yang cukup agresif, level Rp 18.000 bisa ditembus dalam waktu dekat," ujar seorang analis senior pasar uang yang dihubungi Terdepan.id.

Bank Indonesia (BI) sendiri menyatakan terus memantau pergerakan nilai tukar dan siap melakukan langkah stabilisasi. Gubernur BI dalam beberapa kesempatan menegaskan bahwa bank sentral memiliki amunisi cadangan devisa yang cukup untuk meredam gejolak melalui operasi moneter di pasar valuta asing serta pembelian obligasi negara di pasar sekunder. Meski demikian, beberapa importir bahan baku mulai mengeluhkan kenaikan biaya produksi yang berpotensi mendorong lonjakan inflasi dalam negeri.

Dengan sentimen global yang masih belum kondusif dan data ekonomi domestik yang belum sepenuhnya solid, pasar kini menanti langkah lanjutan BI pada rapat dewan gubernur mendatang untuk meredam pelemahan mata uang Garuda.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User