Dispar Kukar Pastikan Event Pariwisata 2026 Tetap Hidup Meski Anggaran Diperketat

KUTAI KARTANEGARA – Kebijakan efisiensi fiskal yang diterapkan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) tidak memadamkan denyut promosi dan atraksi w

Jul 09, 2026 - 06:28
0 0
Dispar Kukar Pastikan Event Pariwisata 2026 Tetap Hidup Meski Anggaran Diperketat

KUTAI KARTANEGARA – Kebijakan efisiensi fiskal yang diterapkan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) tidak memadamkan denyut promosi dan atraksi wisata. Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar memastikan kalender event 2026 tetap bergulir, meski harus menyesuaikan desain pembiayaan dan skala pelaksanaan. Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dispar Kukar, Awang Ivan Akhmad, menyatakan bahwa seluruh event unggulan—termasuk Festival Erau, Tenggarong International Folk Art Festival, hingga lomba perahu naga—akan dipertahankan sebagai motor kedatangan wisatawan. “Kami bergerak dari paradigma spending ke investing. Setiap rupiah harus punya dampak terukur terhadap lama tinggal dan belanja wisatawan,” tegasnya.

Berdasarkan data sementara yang dihimpun Terdepan, pagu anggaran promosi dan penyelenggaraan event pariwisata Kukar pada 2025 mencapai Rp45,2 miliar. Tahun depan, angka itu diproyeksikan menyusut menjadi Rp34,8 miliar, atau terpangkas sekitar 23 persen. Dari 14 event besar yang mewarnai kalender 2025, Dispar memangkas menjadi 9 event prioritas di 2026, dengan empat di antaranya akan mengadopsi format hybrid yang mengandalkan siaran langsung dan interaksi digital. Kemitraan dengan pelaku usaha lokal dan sponsor korporat juga digenjot melalui skema cost-sharing, menargetkan partisipasi swasta naik dari rata-rata 15% menjadi 35% dari total kebutuhan dana setiap event.

Dari Panggung Fisik ke Ekosistem Digital: Efisiensi tanpa Mengorbankan Jejak

Pergeseran strategi ini tidak hanya soal mengurangi jumlah panggung, tetapi juga memanfaatkan teknologi untuk memperlebar jangkauan dengan biaya operasional yang lebih rendah. Dispar Kukar menggandeng sejumlah platform konten lokal untuk memproduksi liputan mendalam dan tur virtual, yang diharapkan bisa menyentuh audiens di luar Kukar tanpa harus menanggung ongkos mobilitas wartawan atau agen perjalanan. Analisis sementara menunjukkan bahwa biaya promosi per seribu tayangan (CPM) melalui kanal digital—seperti kampanye media sosial terarah dan influencer nano—jauh lebih efisien ketimbang baliho dan iklan cetak. Tabel di bawah ini merangkum perbandingan beberapa pos belanja utama.

Perbandingan Strategi Promosi Event Wisata Kukar (2025 vs 2026)
AspekPendekatan 2025 (Konvensional)Pendekatan 2026 (Efisiensi Digital)
Alokasi media promosi70% cetak/luar ruang, 30% digital25% cetak/luar ruang, 75% digital
Keterlibatan sponsor15% dari total biaya eventTarget 35% melalui cost-sharing
Jumlah event prioritas14 event besar9 event (4 hybrid)
Belanja mobilitas tamu VIPRp5,1 miliarRp2,4 miliar (efisiensi 53%)

Pendekatan ini sejalan dengan hasil riset internal Dispar yang menemukan bahwa 78% wisatawan nusantara ke Kukar pada 2025 mengaku mencari informasi acara melalui media sosial, bukan brosur atau pameran konvensional. Oleh karena itu, produksi konten video pendek dan fitur live streaming di platform seperti TikTok dan YouTube akan menjadi tulang punggung baru yang memangkas ketergantungan pada agensi event besar. Sementara itu, keterlibatan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) di tingkat desa diperkuat agar setiap kecamatan mampu menggelar atraksi pendamping dengan biaya mandiri yang lebih kecil.

“Ini bukan sekedar soal memotong jadwal, tetapi memfokuskan kembali portofolio event pada aset yang memiliki branding paling kuat. Erau dan TIFF, misalnya, punya ekuitas yang sulit ditandingi. Dispar justru harus memproteksi event tersebut dengan kemasan yang lebih efisien,” ujar Reza Mahendra, pengamat ekonomi kreatif dari Universitas Mulawarman, saat dihubungi via telepon. Ia menilai efisiensi ini bisa menjadi momentum bagi Kukar untuk membangun fondasi data wisatawan yang lebih rapi—misalnya dengan mewajibkan pendaftaran digital di setiap festival—sehingga pemasaran berikutnya lebih presisi.

Pada akhirnya, yang ingin ditekankan Dispar adalah bahwa “hidup” tidak identik dengan “mewah secara fiskal”. Selama pengalaman wisatawan tetap autentik, terintegrasi dengan teknologi, dan melibatkan komunitas, event pariwisata Kukar diyakini tidak kehilangan daya pikat. Bahkan, dengan pendekatan baru ini, pengelola berharap tingkat kunjungan bisa bertahan di angka 2,1 juta wisatawan seperti yang tercatat sepanjang 2025. Langkah adaptif ini akan terus dimonitor secara triwulanan untuk mengukur efektivitas setiap rupiah yang dibelanjakan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User