CIO DBS: Emas dan Komoditas Pilihan Aman Investasi 3Q26

JAKARTA – Chief Investment Officer (CIO) DBS Group mendorong para investor untuk segera meninjau kembali komposisi portofolio di tengah meningkatnya ketega

Jul 12, 2026 - 10:29
0 0

JAKARTA – Chief Investment Officer (CIO) DBS Group mendorong para investor untuk segera meninjau kembali komposisi portofolio di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global dan inflasi yang masih bertahan di atas target bank sentral utama dunia. Dalam paparan bertajuk "Navigating Global Volatility: Investment Strategies for Q3 2026", pejabat utama investasi bank terbesar di Asia Tenggara itu menggarisbawahi emas, komoditas energi, serta produk pertanian sebagai lindung nilai paling handal menghadapi ketidakpastian kuartal ketiga tahun ini.

Kronologi Geopolitik dan Ancaman Inflasi

Mengawali presentasi di DBS Tower, Jakarta, Selasa (7/7/2026), CIO DBS – yang lazim diwakili oleh Hou Wey Fook – memaparkan sejumlah peristiwa yang menekan pasar keuangan sepanjang Juni hingga awal Juli:

  1. Eskalasi di Laut China Selatan: Insiden pelanggaran zona ekonomi eksklusif Indonesia oleh kapal militer asing mendorong peningkatan belanja pertahanan, membebani anggaran domestik dan menciptakan kecemasan investor regional.
  2. Konflik Timur Tengah meluas: Gangguan parah pada rute pelayaran di Selat Hormuz memantik harga minyak mentah Brent menembus US$102 per barel, level tertinggi dalam dua tahun terakhir.
  3. Inflasi AS kembali memanas: Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat edisi Juni mencatat inflasi tahunan 4,1%, mematahkan ekspektasi penurunan suku bunga Fed dalam waktu dekat.
  4. Volatilitas obligasi: Imbal hasil obligasi pemerintah negara berkembang melonjak, dengan yield SUN 10-tahun Indonesia naik 32 basis poin hanya dalam dua pekan.

“Gabungan risiko ini bukan siklus biasa. Kita menghadapi kombinasi geopolitik dan pengetatan moneter yang terburuk dalam satu dekade. Investor harus bergerak cepat melindungi aset,” tegasnya.

Emas sebagai Jangkar Stabilitas

Dalam proyeksi terbarunya, DBS menaikkan target harga emas hingga US$2.580 per troy ounce untuk akhir September 2026, merevisi estimasi awal US$2.480. Aliran dana exchange traded fund (ETF) berbasis emas global naik 12% dibanding kuartal sebelumnya, mencerminkan pemburuan aset lindung nilai.

“Emas adalah asuransi portofolio paling murah saat kepercayaan terhadap fiat money menurun. Kami sudah mengalokasikan 18% dari model portofolio defensif ke instrumen logam mulia,” ungkap Hou Wey Fook.

DBS juga menyoroti potensi bank sentral negara berkembang yang terus mengakumulasi emas batangan, melanjutkan tren de-dolarisasi yang terlihat sejak 2024. Bank Indonesia sendiri dilaporkan telah menambah cadangan emas sebesar 9 ton sepanjang semester pertama 2026.

Peluang di Komoditas Pangan dan Energi

Selain emas, komoditas pertanian seperti gandum, jagung, dan kelapa sawit menempati urutan teratas rekomendasi DBS. Gangguan musim tanam akibat fenomena El Niño yang berkepanjangan memangkas produksi pangan global, sementara permintaan biofuel justru meningkat seiring terobosan kebijakan mandatori B50 di Indonesia.

  • Minyak sawit mentah (CPO) diperkirakan menguat ke MYR 4.500 per ton karena pengetatan pasokan dan permintaan biodiesel.
  • Gandum masih dibayangi perang Rusia-Ukraina yang belum menunjukkan tanda damai, dengan harga kontrak Chicago Board of Trade fluktuatif di kisaran US$680–720 per bushel.
  • Batu bara termal mencatat rebound permintaan dari India dan Vietnam, mendorong indeks Newcastle kembali ke US$150 per ton.

“Komoditas bukan hanya lindung nilai inflasi, tetapi juga mesin pertumbuhan baru. Investor bisa memanfaatkan saham perusahaan produsen atau reksa dana berbasis indeks komoditas,” tambah analis DBS.

Langkah Strategis Investor 3Q26

DBS menawarkan kerangka kerja tiga pilar bagi investor ritel dan institusi:

  1. Pilar Pertahanan (60% portofolio): Emas fisik, ETF logam mulia, obligasi korporasi berkualitas tinggi, dan kas dalam mata uang dolar AS.
  2. Pilar Komoditas (25% portofolio): Saham energi terintegrasi, kontrak berjangka komoditas lunak, serta unit penyertaan reksa dana agribisnis.
  3. Pilar Fleksibel (15% portofolio): Saham perbankan Indonesia yang diuntungkan suku bunga tinggi, saham infrastruktur digital, dan sekuritas terkait pertahanan.

“Rotasi sektor harus dilakukan bertahap. Lakukan rebalancing minggu ini, jangan tunggu kinerja kuartal kedua dirilis karena pasar biasanya sudah priced in,” pesan Hou Wey Fook.

Di penghujung sesi, CIO DBS mengingatkan bahwa meski berisiko, kuartal ketiga 2026 tetap menyimpan momentum bila investor cermat. “Volatilitas akan menciptakan harga salah (mispricing) di pasar saham. Mereka yang berani membeli saat ketakutan, dengan strategi yang tepat, akan menang,” pungkasnya.

[SOCIAL_TWEET]: CIO DBS soroti momentum investasi kuartal III 2026: emas dan komoditas jadi pilihan aman di tengah ketegangan geopolitik dan inflasi global. Saatnya tinjau ulang portofolio Anda! #investasi #emas #komoditas[SOCIAL_TG]: 📈 CIO DBS: Waktunya putar haluan ke emas & komoditas! Geopolitik memanas, inflasi tinggi, portofolio harus siap hadapi badai. Baca panduan lengkapnya di sini

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User