China — Mantan Karyawan Apple Ciptakan Pengganti iPhone, Raih Rp2,7 Triliun

Sebuah babak baru dalam evolusi perangkat personal tengah ditulis oleh sekelompok mantan insinyur Apple yang membawa pulang pengetahuan desain Cupertino ke

Jul 08, 2026 - 19:57
0 0

Sebuah babak baru dalam evolusi perangkat personal tengah ditulis oleh sekelompok mantan insinyur Apple yang membawa pulang pengetahuan desain Cupertino ke Shenzhen. Mereka mengembangkan perangkat yang digadang-gadang sebagai "pengganti" iPhone—bukan ponsel lipat, melainkan perangkat wearable generasi mendatang. Kabar terbaru: startup ini baru saja menyandang status unicorn setelah mengantongi pendanaan senilai Rp2,7 triliun (sekitar US$168 juta) dari investor global, menandai lompatan signifikan dalam persaingan teknologi augmented reality (AR).

Akar dari Cupertino: Melompat Keluar dari Sarang Apple

Cerita bermula ketika para pendiri, yang semuanya menghabiskan lebih dari lima tahun di divisi iPhone dan ARKit Apple, memutuskan keluar pada periode 2019-2021. Salah satu tokoh kuncinya adalah Li Xuan, mantan Principal Engineer yang pernah memimpin integrasi layar ProMotion pada iPhone 14 Pro. Bersama tiga rekannya, ia bermimpi menciptakan perangkat yang membuat orang tak perlu lagi merogoh saku 150 kali sehari. "

Kami ingin memindahkan antarmuka digital ke bidang pandang alami Anda. Jadi, alih-alih menatap layar, dunia sendirilah yang menjadi kanvas untuk informasi," ujar sumber internal perusahaan. Dengan modal awal pribadi dan jaringan alumni Apple yang kuat, mereka mendirikan perusahaan bernama Vere Optics (nama dirahasiakan dalam laporan awal, namun terkonfirmasi melalui dokumen investasi) pada awal 2022 di kawasan teknologi Shenzhen.

Pendanaan Raksasa: Jalan Menuju Status Unicorn

Perjalanan pendanaan berlangsung dalam beberapa tahap, berpuncak pada putaran Seri C yang diumumkan pekan ini. Timeline kritisnya adalah:

  1. 2023 (Pre-seed ke Seed): Mengumpulkan US$8 juta dari angel investor, termasuk mantan eksekutif Foxconn dan Huami.
  2. 2024 (Seri A): US$30 juta dipimpin oleh Sequoia Capital China, fokus pada penyempurnaan purwarupa dan uji keandalan baterai solid-state mini.
  3. 2025 (Seri B): US$50 juta dari Qiming Venture Partners dan Lenovo Capital, digunakan untuk membangun lini produksi mikro-OLED dan uji beta pada 10.000 pengguna di Asia Pasifik.
  4. Juli 2026 (Seri C): US$168 juta (sekitar Rp2,7 triliun) dari konsorsium yang mencakup Hillhouse Capital dan GGV Capital, sekaligus mengerek valuasi perusahaan menjadi US$1,2 miliar — resmi berstatus unicorn.

Teknologi di Balik "Pengganti iPhone": Bukan Sekadar Kacamata Biasa

Lalu, perangkat macam apa yang berani menyebut diri sebagai penerus iPhone? Vere Optics mengembangkan kacamata augmented reality yang bobotnya hanya 38 gram—mirip kacamata berlensa tebal biasa—namun menyimpan sistem proyeksi retina berbasis optical waveguide dengan kepadatan piksel 4.000 ppi. Analogi sederhananya: bayangkan kaca mata Anda memiliki HDMI tersembunyi yang memproyeksikan notifikasi, navigasi, atau layar virtual 100 inci tepat di bidang pandang, tanpa menutupi dunia nyata.

Perangkat ini mengandalkan chipset buatan sendiri bernama Astra Core, yang mengemas neural engine 5 TOPS untuk pemrosesan suara, gestur mikro, dan pelacakan mata—semua berjalan di atas sistem operasi berbasis mikro-kernel yang dirancang agar baterai 280 mAh bertahan hingga 10 jam penggunaan aktif. Pengguna dapat menjawab panggilan video, menerjemahkan tulisan asing secara real-time, atau melihat panduan step-by-step saat memperbaiki mesin kopi, semuanya tanpa mengeluarkan benda hitam pipih dari saku.

Persaingan Sengit dan Konteks Pasar

Vere Optics bukanlah pemain tunggal. Apple sendiri telah memiliki Vision Pro yang lebih imersif namun berbobot 600 gram. Meta terus menyempurnakan Ray-Ban Stories, sementara pemain China seperti Rokid dan Xreal juga berebut pasar. Namun, keunggulan yang diklaim oleh Vere adalah pendekatan "invisible technology" — perangkat yang tidak terlihat sebagai gadget saat dikenakan. "Kami belajar dari iPhone: revolusi terjadi ketika teknologi bersembunyi di balik desain yang manusiawi," kata Li Xuan dalam wawancara eksklusif.

Meski demikian, jalan masih terjal. Tantangan utamanya adalah adopsi aplikasi—bagaimana meyakinkan developer seperti WhatsApp dan TikTok untuk membangun versi "layar mengambang" yang intuitif—serta regulasi privasi karena sensor kamera yang terus menerus menyala. Namun, dengan pendanaan segar dan status unicorn di tangan, Vere Optics kini memiliki amunisi untuk setidaknya membuka babak baru: era di mana ponsel mungkin bukan lagi pusat gravitasi digital kita.

Berikut adalah tiga pertanyaan paling umum yang muncul dari laporan ini:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User