SURABAYA — Surabaya Printing Expo 2026 Memamerkan Transformasi Digital Industri Percetakan

Lantai Grand City Convention Center bergetar oleh deru mesin-mesin cetak digital berkecepatan tinggi, Rabu (8/7) pagi. Ratusan mata berbinar menyaksikan se

Jul 08, 2026 - 23:32
0 0
SURABAYA — Surabaya Printing Expo 2026 Memamerkan Transformasi Digital Industri Percetakan

Lantai Grand City Convention Center bergetar oleh deru mesin-mesin cetak digital berkecepatan tinggi, Rabu (8/7) pagi. Ratusan mata berbinar menyaksikan selembar kertas putih berubah menjadi kemasan penuh warna dalam hitungan detik. Di sinilah Surabaya Printing Expo (SPE) 2026 resmi membuka gerbangnya—sebuah etalase yang tak sekadar memamerkan produk, melainkan juga membentangkan masa depan industri percetakan Jawa Timur. Lebih dari 150 peserta, termasuk 10 pelaku UMKM, hadir menunjukkan bahwa sektor ini tengah bergerak cepat meninggalkan bayang-bayang konvensional menuju era otomatisasi dan cetak cerdas.

Cetak Digital: Lebih Cepat, Lebih Personal

Di pojok Hall A, deretan mesin cetak UV flatbed dari berbagai merek global menjadi magnet utama. Salah satunya mencetak langsung di atas kayu, akrilik, dan kulit sintetis dengan resolusi 2.400 DPI. Kecepatan cetaknya menembus 45 meter persegi per jam—sebuah lompatan dari teknologi sebelumnya yang mentok di 20 meter persegi. Teknologi ini memungkinkan bisnis percetakan kecil menerima pesanan satuan (one-off) dengan margin lebih tebal, tanpa perlu repot menyiapkan plat cetak.

"Dulu, personalisasi stiker atau mug minimal order 500 pieces. Sekarang, dengan mesin ini, kami bisa layani satu saja, bahkan dengan nama pelanggan tertera," ujar Hendra, teknisi sebuah distributor printer asal Surabaya.

Kemudahan ini menjadi fondasi baru bagi UMKM. Tiga dari sepuluh UMKM yang hadir di SPE 2026 merupakan startup kreatif yang mengandalkan layanan print-on-demand untuk merchandise, undangan digital-ke-fisik, hingga dekorasi interior kustom. Nilai transaksi cetak berbasis web-to-print di Jawa Timur sendiri melonjak 34 persen tahun lalu, menurut catatan internal komunitas percetakan setempat.

Hijau di Atas Kertas: Tinta Ramah Lingkungan dan Substrat Daur Ulang

Bukan cuma kecepatan, keberlanjutan menjadi arus bawah yang kian deras. Beberapa stan memajang tinta berbasis air dengan sertifikasi ECO PASSPORT, menggantikan tinta solvent yang selama ini dicap sebagai biang polusi udara dalam ruang cetak. Ada pula kertas dari ampas tebu dan limbah kopi yang dipamerkan oleh pemasok bahan baku asal Malang. Produk kertas daur ulang ini diklaim mengurangi penggunaan kayu hingga 60 persen dan memiliki serat yang lebih tahan sobek.

Para pengunjung diajak menyentuh langsung tekstur kertas ramah lingkungan itu. Ada sensasi hangat dan organik yang tidak bisa didapat dari kertas bleach konvensional. Inilah daya tarik bagi brand-brand butik yang ingin menonjolkan citra eco-conscious.

UMKM Naik Kelas: Dari Mesin Bekas ke Otomasi

Kehadiran 10 UMKM di ajang ini bukan sekadar angka. Salah satunya, "Kriya Print" asal Sidoarjo, sukses mendemonstrasikan lini produksi semi-otomatis rakitan sendiri. Dengan investasi di bawah Rp200 juta, mereka mengintegrasikan mesin potong CNC kecil, printer DTG (direct-to-garment), dan conveyor mini untuk memenuhi pesanan kaos satuan dalam hitungan menit. Model ini menaikkan kapasitas produksi harian mereka dari 50 menjadi 300 potong, tanpa menambah tenaga kerja.

"Kuncinya bukan mesin mahal, tapi alur kerja yang efisien. Kami belajar dari komunitas dan Youtube, lalu terapin. SPE ini jadi ajang unjuk gigi," kata Rina, pendiri Kriya Print.

Cerita Rina menunjukkan bahwa transformasi digital di percetakan tak melulu soal modal besar, melainkan kecerdikan memadukan perangkat keras, perangkat lunak desain berbasis AI, dan strategi pemasaran online.

Lanskap Industri: Cetak 4.0 di Depan Mata

SPE 2026 juga menjadi panggung diskusi panel bertajuk "Print 4.0: Mengintegrasikan IoT dan Big Data di Lini Produksi". Para pakar memprediksi bahwa dalam dua tahun ke depan, mesin-mesin cetak di Surabaya akan dilengkapi sensor IoT yang mengirim data real-time ke cloud—mulai dari ketebalan tinta, keausan komponen, hingga estimasi selesainya pekerjaan. Data ini bisa diakses pelanggan lewat aplikasi, sama seperti kita melacak paket makanan secara online.

Dengan lebih dari 150 peserta dan ribuan pengunjung yang diharapkan hadir hingga 11 Juli nanti, SPE 2026 tak hanya menjadi pameran dagang biasa. Ia adalah cermin kebangkitan industri percetakan Jawa Timur yang siap bertarung di era digital dengan senjata baru: presisi, keberlanjutan, dan personalisasi massal.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User