Sentilan Pedas Elite PDIP untuk AHY, Minta Tak Hasut Partai Banteng
Jakarta - Suhu politik nasional kembali menghangat. Kali ini, panggung perdebatan diramaikan oleh manuver elite PDI Perjuangan, Deddy Sitorus, yang melayangkan kritik pedas kepada Ketua Umum Partai D
Jakarta - Suhu politik nasional kembali menghangat. Kali ini, panggung perdebatan diramaikan oleh manuver elite PDI Perjuangan, Deddy Sitorus, yang melayangkan kritik pedas kepada Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
Berdasarkan laporan Terdepan.id, pernyataan AHY yang meminta PDIP tetap memberikan kritik konstruktif meski memilih posisi di luar pemerintahan, rupanya tak sepenuhnya diterima dengan tangan terbuka. Bagi Deddy Sitorus, ucapan tersebut justru dianggap sebagai bentuk provokasi berkedok nasihat. Dengan nada tinggi, Deddy meminta AHY menghormati sikap politik yang telah diambil oleh partai berlambang moncong putih itu, bukan malah memberikan ceramah yang dinilai cenderung menghasut.
Awal polemik ini bermula saat AHY berbicara di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta. Dalam pernyataannya, putra Susilo Bambang Yudhoyono itu mencoba mendorong agar iklim demokrasi tetap sehat. Ia menekankan pengalamannya sebagai mantan partai oposisi yang paham betul dinamika berada di luar lingkar kuasa.
"Saya menghormati semua partai politik yang memiliki sikap dan pandangan tertentu. Semua punya agenda, semua punya kepentingan, tapi marilah kita meletakkan kepentingan bersama dan nasional kita di atas kepentingan partisan," ujar AHY seperti dikutip Terdepan.id.
Namun, pernyataan yang sekilas terdengar diplomatis itu justru disambut dingin oleh kubu PDIP. Deddy Sitorus menilai, pesan moral yang disampaikan AHY tidak tepat sasaran. Menurutnya, PDIP memiliki rekam jejak panjang dalam membangun bangsa, termasuk saat berada di luar pemerintahan di era lampau. Deddy pun menegaskan bahwa PDIP tidak memerlukan arahan dari pihak luar mengenai bagaimana cara bersikap sebagai oposisi yang bertanggung jawab.
Ketegangan ini menambah daftar panjang dinamika politik yang dipenuhi sinyal saling gertak dan hasutan di antara elite. Di tengah upaya konsolidasi pemerintahan baru, manuver Partai Demokrat yang kini mendukung pemerintahan Prabowo-Gibran dengan PDIP yang memilih jalur berbeda, menciptakan benturan retorika yang tak terelakkan. Deddy meminta agar tidak ada pihak yang mencoba mengaburkan peran kritis parlemen dengan narasi manis tentang persatuan yang justru membungkam suara rakyat. Pesan ini sekaligus menjadi penegas bahwa sikap kritis PDIP tak akan goyah meski ada tekanan politik dari berbagai penjuru.
Konflik terbuka ini menandakan bahwa koeksistensi di antara partai penguasa dan oposisi masih akan diwarnai oleh saling sindir yang keras ke depannya.
Comments (0)