Prabowo Sebut Nahdliyin Ada di Semua Partai: Belajar Politik dari NU
Bangkalan, Terdepan.id – Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa warga Nahdlatul Ulama (NU) tersebar di seluruh partai politik Tanah Air. Menurutnya, fenomena ini bukan sekadar kenyataan politik
Bangkalan, Terdepan.id – Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa warga Nahdlatul Ulama (NU) tersebar di seluruh partai politik Tanah Air. Menurutnya, fenomena ini bukan sekadar kenyataan politik, melainkan pelajaran berharga yang seharusnya dipelajari oleh semua pihak. Hal itu disampaikan Prabowo dalam acara penutupan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU di kampus IAI Syaichona Mohammad Cholil, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, Selasa (23/6/2026).
Di hadapan ribuan peserta Munas dan Konbes yang memadati aula utama, Prabowo tampak akrab menyapa satu per satu tokoh penting yang duduk di deretan kehormatan. Sapaan hangatnya kepada Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sekaligus Ketua Umum PP Muslimat NU, Arifatul Choiri, langsung disambut tepuk tangan meriah. Momen itu menjadi isyarat bahwa sinergi antara pemerintah dan organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia itu kian solid.
Dalam pidatonya yang berlangsung sekitar 40 menit, Prabowo mengangkat hikmah di balik tradisi politik warga NU yang lintas warna. “Saya selalu kagum pada NU. Mereka ada di semua partai, tapi tidak pernah pecah. Masjid-masjid tetap penuh, pengajian terus jalan, dan silaturahmi antar mereka tetap erat. Dari NU kita bisa belajar politik yang bermartabat,” ujarnya, yang segera dikutip secara luas di kalangan nahdliyin melalui berbagai kanal media sosial.
Belajar Politik ala NU
Prabowo tidak sekadar melontarkan pujian. Ia menguraikan sejumlah prinsip politik ala NU yang ia anggap jarang dimiliki oleh komunitas lain. Pertama, kemandirian berpikir yang membuat warga NU tak mudah terkotak-kotak oleh kepentingan sesaat. Kedua, kekuatan jaringan ulama yang menjaga kohesi sosial dari tingkat ranting hingga pusat. Ketiga, falsafah tawassuth (moderat) yang menjadikan persatuan umat di atas kepentingan golongan.
"Seharusnya seluruh partai belajar dari NU. Bukan berdebat tentang siapa yang paling benar, tetapi soal bagaimana tetap bersaudara meski berbeda pilihan. Ini warisan para kiai yang harus dijaga," tegas Prabowo.
Pernyataan itu disambut dengan isyarat kepala dan senyum dari para kiai sepuh yang hadir, termasuk Rais Aam PBNU dan sejumlah pengasuh pesantren besar. Mereka mengapresiasi pengakuan jujur seorang Presiden yang hobi menunggang kuda itu terhadap peran perekat yang dimainkan NU dalam demokrasi Indonesia.
Suasana semakin hangat ketika Prabowo menyinggung pengalamannya langsung berinteraksi dengan kiai-kiai kampung saat musim pemilihan. “Saya pernah ditanya kiai, ‘Pak Prabowo milih partai apa?’ Saya jawab, ‘Kiai, yang penting istiqomah di jalan NU.’ Beliau tertawa, lalu bilang, ‘Sudah, pokoknya jangan lupa jamaah,’” kisah Prabowo yang disambut gelak tawa hadirin.
Respons Pimpinan NU
Menanggapi pernyataan Presiden, Sekretaris Jenderal PBNU menyampaikan bahwa sikap inklusif warga NU memang sudah menjadi karakter sejak berdiri pada 1926. “Kami tidak mengarahkan pilihan politik jamaah, tapi kami mendidik agar pilihan apa pun tetap dibingkai akhlak dan cinta Tanah Air. Kalau ini dipelajari banyak pihak, Indonesia akan jauh lebih damai,” tuturnya saat ditemui Terdepan.id usai sesi penutupan.
Sementara itu, Arifatul Choiri menambahkan bahwa Muslimat NU secara khusus terus mengedepankan pendidikan politik yang sehat bagi kaum perempuan. “Perempuan nahdliyin juga ada di mana-mana: ada yang jadi kader partai A, B, atau C. Tapi yang kami tekankan adalah komitmen pada bangsa. Ini relevan dengan ajaran NU tentang ukhuwah wathaniyah,” jelasnya.
Kehadiran Prabowo dalam Munas Alim Ulama dan Konbes NU tahun ini memang sarat makna. Di tengah meningkatnya polarisasi menjelang pemilu 2029, pesan belajar politik dari NU menjadi obat penenang yang menggugah. Presiden tidak hanya mengapresiasi pluralitas politik di tubuh warga nahdliyin, tetapi sekaligus mengajak seluruh elite untuk kembali pada politik yang mengedepankan persaudaraan dan substansi, bukan sekadar kompetisi pasar.
Acara kemudian diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin oleh Rais Aam PBNU. Prabowo pun turut menundukkan kepala dalam-dalam, mengamini setiap untaian doa untuk negeri. Dari Bangkalan, pesan politik dari NU itu kini menggema: berbeda pilihan itu biasa, yang penting tetap rukun dan saling menghormati.
Comments (0)