Polemik Intervensi Trump terhadap Kartu Merah Folarin Balogun
Washington DC – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka mengakui bahwa dirinya telah meminta Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA) untuk meninjau ulang keputusan kartu merah yang diteri
Washington DC – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka mengakui bahwa dirinya telah meminta Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA) untuk meninjau ulang keputusan kartu merah yang diterima penyerang Tim Nasional Amerika Serikat, Folarin Balogun. Tindakan kontroversial ini langsung memicu polemik di kalangan pengamat sepak bola dan diplomatik, mempertanyakan batas antara politik dan olahraga.
Berdasarkan laporan yang dihimpun Terdepan.id dari sumber AFP, Trump mengonfirmasi telah menghubungi Presiden FIFA, Gianni Infantino, guna meminta peninjauan atas insiden pengusiran Balogun dalam sebuah pertandingan internasional. Meski demikian, Trump menegaskan bahwa dirinya tidak meminta pembatalan hukuman tersebut. Pernyataan ini disampaikan saat berbincang dengan awak media di Gedung Putih pada Selasa (7/6/2026), hanya beberapa jam setelah kabar intervensi itu merebak.
Dorongan Moral atau Tekanan Politik?
Dalam keterangannya, Trump menyebut keputusan wasit sebagai sesuatu yang "mengerikan". Ia merasa perlu turun tangan karena menilai tidak ada pelanggaran berarti yang dilakukan Balogun. "Saya meminta peninjauan karena saya tidak berpikir itu pelanggaran," ujar Trump. Pernyataan ini kemudian dikemas dalam kutipan langsung.
"Saya meminta peninjauan karena saya tidak berpikir itu pelanggaran," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih.
Sikap Trump tersebut menuai beragam reaksi. Di satu sisi, ada yang memuji kepedulian presiden terhadap nasib atlet negaranya. Namun, lebih banyak pihak yang mengecam tindakan itu sebagai bentuk intervensi kekuasaan yang tidak pantas dalam ranah olahraga independen. FIFA sebagai badan tertinggi sepak bola dunia memiliki mekanisme sendiri dalam meninjau keputusan wasit melalui panel disiplin dan Komite Wasit, tanpa perlu tekanan dari kepala negara.
Polemik ini semakin memanas mengingat hubungan Trump dengan FIFA sebelumnya yang kerap diwarnai pernyataan-pernyataan keras terkait kebijakan rotasi tuan rumah Piala Dunia. "Sepak bola harus bersih dari politik praktis. Jika setiap presiden menelepon Infantino setiap kali timnya dirugikan, maka independensi FIFA runtuh," tulis salah satu pengamat olahraga internasional.
Hingga berita ini diturunkan, pihak FIFA belum memberikan tanggapan resmi atas permintaan Trump. Juru bicara Gedung Putih hanya menegaskan bahwa presiden berhak menyuarakan pendapat sebagai warga negara yang mencintai olahraga. Namun, para diplomat memperingatkan bahwa budaya intervensi semacam ini dapat merusak integritas kompetisi global di masa depan.
Comments (0)