Lampung Timur — Warga Tambal Jalan Rusak Pakai Cangkang Kerang Gemilang

Ratusan butir cangkang kerang berserakan di atas aspal yang mengelupas. Di bawah terik matahari pesisir yang menggigit, tangan-tangan cokelat lelaki paruh

Jul 08, 2026 - 10:04
0 0
Lampung Timur — Warga Tambal Jalan Rusak Pakai Cangkang Kerang Gemilang

Ratusan butir cangkang kerang berserakan di atas aspal yang mengelupas. Di bawah terik matahari pesisir yang menggigit, tangan-tangan cokelat lelaki paruh baya menyusun serpihan cangkang putih kehijauan itu ke dalam lubang seukuran telapak kaki. Tak ada alat berat, tak ada hotmix pekat beraroma petroleum. Hanya sekop, ember, dan semangat yang sudah lama menunggu. Pemandangan inilah yang merekam getir hati sekaligus daya cipta warga Kecamatan Labuhan Maringgai, Lampung Timur, dalam video viral yang menyebar cepat di media sosial. Mereka menambal jalan berlubang menggunakan cangkang kerang—limbah laut yang selama ini teronggok di sudut pasar ikan.

Limbah Pesisir yang Menjadi Aspal Darurat

Bagi sebagian orang, cangkang kerang hanyalah sisa konsumsi yang berakhir di tempat sampah. Namun bagi masyarakat pesisir yang sehari-hari bergulat dengan debu dan lumpur, tumpukan cangkang itu menjelma solusi yang tak terduga. Cangkang kerang memiliki struktur padat dan tajam yang dapat saling mengunci saat dipadatkan, menciptakan lapisan bawah yang cukup solid menahan beban kendaraan ringan. Kandungan kalsium karbonatnya yang tinggi juga membuatnya tahan terhadap air sehingga tak cepat hancur saat hujan menggenang. Ibarat membangun jalan mini dari kepingan beton alami, warga memanfaatkan karakter fisika sederhana ini untuk meredam ketidaknyamanan setiap melintas.

"Kami capek menunggu aspal datang. Kerang ini melimpah, kuat, dan gratis. Setiap hujan, jalan jadi kubangan. Kalau cangkang bisa bikin anak-anak tidak kepleset jatuh, kenapa tidak?" ujar Hendra, salah satu warga yang turut gotong royong, dengan nada setengah pasrah namun penuh makna.

Gotong Royong ala Pesisir: Dari Pasar Ikan ke Jalan Berlumpur

Inisiatif ini lahir bukan dari ruang rapat desa, melainkan dari obrolan warung kopi dan kepedulian leluhur pesisir. Setiap usai panen ikan, nelayan dan pedagang mengumpulkan cangkang kerang yang sudah tidak terpakai. Biasanya, limbah itu dijual sebagai campuran pakan ternak atau dibuang begitu saja. Kini, karung-karung cangkang dikumpulkan, diangkut dengan motor gerobak, lalu ditata rapi di titik-titik jalan paling parah. Proses pemadatan dilakukan bergiliran: laki-laki, remaja, bahkan ibu-ibu ikut menginjak-injak agar lapisan cangkang merata. Tak ada suara bising proyek, hanya derap langkah serempak yang menjadi doa agar truk pengangkut pasir tak lagi tersangkut.

Yang mengharukan adalah alasan mereka yang begitu rendah hati. Warga tidak meminta pujian. Mereka hanya ingin jalan desa kembali bisa dilalui tanpa harus menahan rasa sakit di tulang setelah terpental motor. Jalan penghubung Pasar Maringgai dengan dusun ini adalah urat nadi ekonomi, dilewati pedagang udang, pengumpul ikan asin, hingga anak sekolah. Jika lumpur menenggelamkan akses, harga pangan ikut anjlok, dan anak-anak terpaksa bolos. Cangkang kerang bukanlah jalan ideal, namun ia simbol betapa warga memilih bertindak alih-alih menunggu. Solusi sementara ini, kata mereka, lebih baik daripada mengutuki lubang yang semakin menganga.

Video aksi tambal jalan ini sontak memicu reaksi warganet. Banyak yang mengapresiasi kepedulian, namun tak sedikit yang menyorot ironi: daerah yang kaya hasil laut dan pajak bumi, warganya harus memungut cangkang untuk menambal infrastruktur. Meski demikian, senyum dan tawa warga yang terdengar dalam rekaman amatir itu seolah menegaskan bahwa kebersamaan masih lebih awet daripada aspal sekali jadi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User