Kabupaten Tangerang — Pemadaman Kebakaran TPA Jatiwaringin Masuki Hari Kedelapan
Operasi pemadaman di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Banten, hari ini memasuki hari kedelapan tanpa henti sejak api perta
Operasi pemadaman di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Banten, hari ini memasuki hari kedelapan tanpa henti sejak api pertama kali muncul. Ratusan petugas pemadam kebakaran masih berjibaku menjinakkan kobaran yang membakar gunungan sampah setinggi 30 meter. Hingga Selasa (07/07/2026), total durasi operasi telah melampaui 192 jam nonstop dengan mengerahkan setidaknya 14 unit armada pemadam dan 87 personel secara bergilir.
Fase kritis ini terjadi karena sumber api yang terisolasi di lapisan dalam timbunan sampah. Tim di lapangan sempat melakukan pemadaman total pada area permukaan di hari ketiga, namun embusan gas metana dari perut tumpukan sampah kembali memicu titik api baru hanya dalam hitungan jam. Situasi ini mirip dengan efek sumbu lilin raksasa: ketika permukaan terlihat padam, inti panas di bawah terus menyalurkan bahan bakar yang siap meledak begitu kontak dengan oksigen. Meski radius api terkendali, tim belum berani menyatakan situasi kondusif.
Mengapa TPA Lebih Sulit Dipadamkan
Berbeda dari kebakaran bangunan atau lahan gambut, api di TPA memiliki karakter “under-layered combustion” yang didorong akumulasi metana hasil fermentasi anaerobik sampah organik. Di kedalaman 10–25 meter, lapisan sampah membentuk kubah-kubah kantong gas yang bisa meledak saat tekanan meningkat.
Analogi paling mendekati adalah oven bawah tanah: panas terperangkap di antara kompos, plastik, dan material organik, lalu gas dari dekomposisi bertindak sebagai aliran kontinu bahan bakar. Begitu air disemprotkan dari atas, hanya 15–20% volume air yang benar-benar mencapai zona pembakaran inti; sisanya mengalir di permukaan atau menguap akibat suhu tinggi.
Untuk menjangkau lapisan dalam, petugas mengadopsi teknik deep injection—menyuntikkan air bertekanan tinggi langsung ke bara melalui selang berdiameter kecil yang ditusukkan ke gunungan sampah. Cara ini sempat memperlambat laju api, namun volume gas yang masih terus terproduksi membuat bara tetap menyala. “Kami butuh isolasi total sumber gas, tetapi ini seperti berusaha menutup lubang di gelembung sabun. Begitu air selesai disuntikkan, gas kembali mengisi rongga baru,” jelas seorang analis risiko termal yang ikut memantau operasi.
Capaian dan Angka Kunci Operasi
Meski api belum sepenuhnya padam, sejumlah capaian tercatat. Luas area kebakaran menyusut dari 1,8 hektare pada hari pertama menjadi 0,5 hektare pada hari ketujuh. Jumlah titik asap berkurang dari 14 titik aktif ke 3 titik utama yang kini menjadi fokus pendinginan. Suhu permukaan yang semula mencapai 350°C kini telah turun ke rentang 80–120°C di zona-zona yang sudah disemprot rutin.
| Parameter | Hari Pertama | Hari Kedelapan |
|---|---|---|
| Luas area terbakar | 1,8 ha | 0,5 ha |
| Titik asap aktif | 14 | 3 |
| Suhu permukaan puncak | 350°C | 120°C |
| Personel dikerahkan | 45 | 87 |
| Unit pompa/water tank | 6 | 14 |
Dampak Lingkungan dan Kesehatan
Asap pekat dari pembakaran sampah mengandung campuran berbahaya: partikulat PM2.5, karbon monoksida (CO), hingga senyawa dioksin yang terbentuk dari pembakaran plastik. Dinas kesehatan setempat mencatat 427 warga dari permukiman berjarak satu kilometer dari TPA telah dievakuasi ke posko. Hasil pemantauan kualitas udara menunjukkan indeks ISPU sempat menyentuh angka 178—kategori “tidak sehat”—selama tiga hari berturut-turut.
Tim lingkungan juga melakukan penyiraman barrier dari air dan surfaktan di sekeliling zona terbakar untuk mencegah lompatan bara (fire spotting) yang dapat memicu area baru. Hingga kini belum ada laporan kebakaran menjalar ke luar perimeter TPA.
Langkah ke Depan: Dari Bencana ke Mitigasi
Belajar dari pengalaman ini, Dinas Lingkungan Hidup berencana memasang sistem ventilasi metana permanen di zona aktif dan mempercepat proyek penangkapan gas TPA menjadi energi listrik. Skema gasifikasi sampah ini bisa mereduksi volume sampah organik hingga 70% sekaligus mengubah metana dari ancaman menjadi sumber daya. Pembicaraan anggaran awal menyebut investasi yang dibutuhkan sekitar Rp 24 miliar untuk kapasitas 2 MW, yang mampu mengaliri listrik bagi 1.500 rumah tangga.
Sambil menanti realisasi proyek, pendekatan jangka pendek yang dilakukan adalah memperbanyak pos pemadaman statis dan menambah pasokan cairan penekan gas (foam inhibitor) untuk menekan potensi kebakaran berulang. Pemerintah daerah juga tengah mengkaji rekayasa penutupan (capping) area yang sudah penuh dengan lapisan geo-membran guna memutus aliran oksigen ke dalam timbunan sampah.
Comments (0)