MIAMI — Hampir Dipermalukan Tanjung Verde, Lionel Messi Bongkar Kelemahan Argentina
Pertandingan fase grup yang seharusnya menjadi formalitas bagi Argentina justru berubah menjadi mimpi buruk. Tim Tango nyaris dipermalukan oleh tim underdo
Pertandingan fase grup yang seharusnya menjadi formalitas bagi Argentina justru berubah menjadi mimpi buruk. Tim Tango nyaris dipermalukan oleh tim underdog Tanjung Verde dalam laga yang berlangsung dramatis di Miami, memaksa sang kapten Lionel Messi angkat bicara soal borok serius di jantung permainan timnya.
Awal Pertandingan: Optimisme Tinggi yang Cepat Luntur
Argentina memasuki laga ini dengan status juara dunia yang difavoritkan menang telak. Namun realita di lapangan berkata lain.
- Menit ke-7: Tanjung Verde justru unggul lebih dulu melalui skema serangan balik mematikan. Lini tengah Argentina terlambat melakukan transisi bertahan.
- Menit ke-23: Enzo Fernandez kehilangan bola di area berbahaya, nyaris berujung gol kedua lawan. Beruntung Emiliano Martinez melakukan penyelamatan gemilang.
- Menit ke-35: Messi terlihat frustrasi. Ia tercatat 4 kali turun hingga sepertiga pertahanan sendiri untuk menjemput bola—sebuah indikasi betapa mandulnya koneksi lini tengah ke depan.
Babak Kedua: Keringat Darah Menuju Kemenangan Tipis
Pelatih Lionel Scaloni melakukan reshuffle taktik. Masuknya Giovani Lo Celso memberikan sedikit napas.
- Menit ke-58: Argentina akhirnya menyamakan kedudukan lewat gol Lautaro Martinez, memanfaatkan umpan terobosan satu-satunya yang sukses dari Mac Allister.
- Menit ke-74: Messi mengeksekusi tendangan bebas yang membentur tiang gawang. Statistik menunjukkan Argentina hanya menciptakan 3 shots on target dari 14 percobaan—efisiensi yang mengkhawatirkan.
- Menit ke-89: Gol kemenangan lahir dari kaki Angel Di Maria, namun sorotan justru tertuju pada Messi yang tampak kelelahan luar biasa setelah pertandingan.
Messi Bongkar Masalah
Dalam wawancara pasca laga, Messi tak lagi menutupi kekecewaannya. "Kami kehilangan kontrol di area yang seharusnya jadi kekuatan kami. Lini tengah tidak terhubung—terlalu banyak ruang antara gelandang dan penyerang," ujarnya blak-blakan. Kapten berusia 38 tahun itu secara implisit menyoroti kegagalan distribusi bola dan lemahnya pressing dari sektor gelandang. Data mendukung pernyataannya: akurasi operan Argentina di sepertiga akhir hanya 68%, terendah dalam lima tahun terakhir di turnamen mayor.
Pengamat menilai absennya Rodrigo De Paul yang cedera ringan menjadi faktor kunci, namun Messi menepis hal itu sebagai alasan. "Ini masalah sistem, bukan individu. Kami harus memperbaikinya sebelum babak 16 besar," tegas La Pulga. Dengan lolosnya Argentina ke fase gugur secara dramatis, pertanyaan besar kini menggantung: mampukah Scaloni menambal kebocoran di mesin tengah sebelum terlambat?
Comments (0)