London — Studi Ungkap Antartika Membeku 30 Juta Tahun Lebih Awal Berkat Mantel Bumi
Bayangkan sebuah benua yang kini tertutup es setebal 2 kilometer, dahulu hanyalah hamparan batu tandus. Antartika bukan selalu seperti kulkas raksasa di uj
Bayangkan sebuah benua yang kini tertutup es setebal 2 kilometer, dahulu hanyalah hamparan batu tandus. Antartika bukan selalu seperti kulkas raksasa di ujung selatan Bumi. Sekitar 34 juta tahun lalu, planet kita mengalami pendinginan dramatis yang mengubah benua itu menjadi laboratorium alami es abadi. Tapi mengapa proses ini terjadi jauh lebih awal dibandingkan pembekuan Kutub Utara yang baru dimulai 2,7 juta tahun silam? Sebuah riset internasional yang melibatkan para ahli dari University of Leicester akhirnya mengungkap kunci rahasianya—dan jawabannya ada di kedalaman mantel Bumi, bukan sekadar atmosfer.
Tabrakan Lempeng dan Kelahiran Arus Sirkumpolar
Penelitian yang terbit di Nature Communications ini memetakan rekonstruksi pergerakan lempeng tektonik sejak 100 juta tahun lalu. Ketika Lempeng Pasifik dan Lempeng Australia saling menjauh, aliran mantel di bawahnya menciptakan cekungan laut dalam yang kelak menjadi fondasi sistem pendingin Antartika. Cekungan ini membuka jalan bagi Arus Sirkumpolar Antartika (ACC)—satu-satunya arus laut yang mengelilingi seluruh benua tanpa hambatan daratan.
“Tanpa parit laut yang terbentuk akibat dinamika mantel, Antartika mungkin tidak akan pernah menjadi seperti sekarang. Arus Sirkumpolar itu seperti selimut termal yang membungkus benua dan memantulkan air hangat dari khatulistiwa,” ujar Dr. David Hutchinson, pemimpin studi, dalam rilis resmi yang dikutip Nature.
ACC inilah yang mengisolasi Antartika secara termal. Ketika suhu global turun pada batas Eosen-Oligosen akibat penurunan CO₂, benua itu sudah memiliki “benteng lautan” yang mencegah intrusi panas, sehingga glasiasi meluas dengan cepat.
Ketika Kutub Utara Tertinggal 30 Juta Tahun
Nasib Kutub Utara sangat kontras. Arktik adalah lautan yang dikelilingi benua—Kanada, Rusia, Greenland. Tanpa aliran sirkumpolar yang mampu memblokir transfer panas dari selatan, es masif baru bisa terbentuk saat Bumi sudah cukup dingin secara global. Artinya, perbedaan letak geografis dan geometri cekungan laut menjadi faktor penentu, bukan hanya konsentrasi gas rumah kaca. Data inti sedimen dari Samudra Pasifik Selatan menunjukkan bahwa begitu ACC mencapai kekuatan arusnya hari ini, lapisan es Antartika tak lagi bisa mencair sepenuhnya—sebuah kestabilan mekanis yang tidak dimiliki Arktik.
Mengapa Narasi “Kiamat” Perlu Diluruskan
Beberapa pemberitaan buru-buru mengaitkan temuan ini dengan “tanda kiamat baru.” Padahal, proses pendinginan Antartika adalah fenomena geologis alami yang berlangsung jutaan tahun, bukan ancaman seketika. Fakta kunci: ini bukan prediksi doomsday, melainkan penjelasan masa lalu. Namun, ada pelajaran penting untuk krisis iklim saat ini: memahami mekanisme yang menjaga kestabilan lapisan es purba membantu para ilmuwan memodelkan ambang batas keruntuhan es di masa depan. Jika emisi CO₂ terus memanaskan atmosfer, ACC bisa melemah dan “selimut beku” Antartika perlahan terbuka, melepaskan air yang cukup untuk menaikkan permukaan laut global hingga 58 meter.
Dengan demikian, riset mantel bumi ini justru menjadi pengingat: sistem Bumi memiliki saklar-saklar alami yang, sekali diaktifkan atau dimatikan, dampaknya bisa berlangsung ribuan tahun. Antartika membeku lebih dulu karena Bumi memberinya kunci isolasi. Kini, giliran kita memastikan kunci itu tidak lepas oleh ulah manusia.
Comments (0)