Kenapa Sulit Keluar dari Hubungan Toksik? Dokter Ungkap Fakta Trauma Bonding

Jul 06, 2026 - 03:54
0 1
Kenapa Sulit Keluar dari Hubungan Toksik? Dokter Ungkap Fakta Trauma Bonding

Banyak orang bertanya-tanya mengapa korban hubungan toksik tetap bertahan meski terus menerus disakiti. Keputusan ini sering dianggap tidak masuk akal oleh lingkungan sekitar, yang mendesak agar korban segera meninggalkan pasangan. Ternyata, jawabannya tidak sesederhana itu. Ada dinamika psikologis kuat yang membuat seseorang sulit melepaskan diri dari lingkaran kekerasan, yang dikenal dengan istilah trauma bonding.

Media kami berkesempatan mewawancarai spesialis kejiwaan, dr. Erickson Arthur S, SpKJ, yang menjelaskan bahwa trauma bonding adalah ikatan emosional tidak sehat yang terbentuk antara korban dan pelaku akibat siklus kekerasan yang berulang. Menurutnya, fase-fase dalam siklus ini justru memperkuat ikatan dan membuat korban terus berharap adanya perubahan.

Siklus Kekerasan yang Mengikat

Dr. Erick menjelaskan bahwa trauma bonding terjadi melalui rangkaian fase yang membentuk pola rumit. Fase pertama adalah tindak kekerasan itu sendiri, yang bisa berupa kekerasan fisik, verbal, atau seksual. Pengalaman ini jelas sangat tidak nyaman dan menyakitkan bagi korban.

"Yang pertama, tadi kan sudah jelas ada kekerasan. Kekerasan yang terjadi bisa fisik, verbal, atau seksual. Memang itu pasti tidak nyaman ya. Tapi ternyata fasenya tidak sampai di situ," ujar dr. Erick dalam wawancara yang dikutip oleh Terdepan.id.

Setelah fase kekerasan, pelaku biasanya memasuki fase berikutnya yang dikenal sebagai honeymoon phase atau fase bulan madu. Pada tahap ini, pelaku datang dengan permintaan maaf, menunjukkan penyesalan, dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya. Perilaku ini sering kali disertai dengan sikap romantis yang berlebihan, pemberian hadiah, atau perhatian khusus.

Fase bulan madu inilah yang menjadi kunci kekuatan trauma bonding. Korban yang sebelumnya terluka fisik dan emosional, tiba-tiba dihadapkan pada kelembutan pasangan yang membuat mereka merasa dicintai dan dihargai. Otak korban merespons positif perlakuan semacam ini karena adanya pelepasan hormon dopamine dan oxytocin, sehingga menciptakan harapan bahwa pasangan benar-benar akan berubah. Harapan ini sangat candu, mirip dengan kecanduan zat adiktif.

Dr. Erick menegaskan bahwa pola siklus ini tidak mudah diputus. Seiring berjalannya waktu, fase kekerasan bisa semakin parah, tetapi korban tetap bertahan karena meyakini bahwa fase penyesalan akan kembali terjadi dan hubungan bisa normal kembali. "Ini yang membuat korban terus berputar-putar dalam lingkaran yang sama," jelasnya.

Selain itu, trauma bonding diperburuk oleh rasa ketergantungan emosional dan ekonomi, serta isolasi sosial yang sering kali dibangun oleh pelaku. Korban mungkin merasa tidak memiliki pilihan lain atau tidak percaya diri untuk hidup sendiri. Perasaan malu dan menyalahkan diri sendiri juga kerap menghalangi mereka untuk mencari bantuan.

Memahami trauma bonding sangat penting bagi keluarga dan teman korban untuk tidak menghakimi, melainkan memberikan dukungan penuh. Konseling profesional dan intervensi yang tepat dapat membantu korban mengenali pola tidak sehat ini dan secara bertahap membangun kekuatan untuk keluar dari hubungan toksik.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User