Mengapa Jumlah Penduduk Tak Jamin Negara Bisa Sukses Tembus Piala Dunia?

Jul 06, 2026 - 03:54
0 1
Mengapa Jumlah Penduduk Tak Jamin Negara Bisa Sukses Tembus Piala Dunia?

Keramaian penuh semangat meletup di tengah acara nonton bareng di Dhaka, Bangladesh, pada 17 Juni lalu. Ribuan penduduk lokal melompat kegirangan saat megabintang Argentina, Lionel Messi, mencetak gol pertamanya di Piala Dunia FIFA 2026 ke gawang Aljazair. Ironisnya, tak satu pun warga Argentina hadir di antara lautan manusia yang sebagian besar mengenakan jersey bergaris biru-putih khas Albiceleste itu. Fenomena serupa juga terjadi di sejumlah kota besar di India dan Indonesia, tempat para penggemar mengadopsi timnas Argentina sebagai "negara mereka sendiri" di ajang sepak bola terakbar dunia.

Realitas ini mengungkap potret pahit: negara-negara berpenduduk raksasa terus-menerus gagal membawa tim nasionalnya ke putaran final Piala Dunia. Dari 10 negara dengan populasi terbesar di dunia, hanya Amerika Serikat dan Brasil yang berhasil tampil di turnamen 2026. Rusia dan Nigeria memang pernah menjadi peserta reguler di edisi-edisi sebelumnya, namun mayoritas negara lain seperti China, India, Indonesia, Pakistan, dan Bangladesh masih bergulat dengan mimpi yang tak kunjung terwujud. China dan Indonesia bahkan baru sekali mencicipi atmosfer Piala Dunia—China pada 2002 dan Indonesia (saat itu Hindia Belanda) pada 1938.

Paradoks Populasi dan Prestasi

Banyak pihak kerap mengaitkan jumlah penduduk besar dengan potensi melahirkan talenta-talenta kelas dunia. Logika sederhananya: semakin luas kolam pemain, semakin besar peluang menemukan "berlian" di antara jutaan anak muda. Namun sejarah membuktikan bahwa formula itu tidak berlaku otomatis di sepak bola. Negara-negara kecil seperti Uruguay (3,5 juta jiwa) dan Kroasia (4 juta jiwa) justru mampu menembus semifinal bahkan final Piala Dunia, sementara India (1,4 miliar) dan China (1,4 miliar) bergelut di papan bawah kualifikasi.

“Kuncinya bukan berapa banyak orang yang Anda miliki, melainkan bagaimana Anda membangun ekosistem yang dapat mengubah bakat mentah menjadi pesepak bola elit.”

Para analis sepak bola menunjuk sejumlah faktor penentu yang luput dari negara-negara berpopulasi besar. Pertama, minimnya infrastruktur dan kompetisi akar rumput yang terstruktur. Lapangan berkualitas, pelatih berlisensi, serta turnamen usia muda yang berjenjang menjadi fondasi yang sering diabaikan. Kedua, kultur dan tradisi sepak bola yang belum mengakar kuat. Di banyak negara Asia Selatan dan Tenggara, kriket atau bulu tangkis lebih mendominasi perhatian publik dan alokasi dana. Ketiga, tata kelola federasi yang kerap diwarnai konflik internal, korupsi, atau perencanaan jangka pendek, menghambat pembinaan berkelanjutan.

Jalan Panjang Menuju Panggung Dunia

Lalu, apa yang bisa dilakukan para raksasa populasi ini untuk mengubah nasib di lapangan hijau? Para pengamat menekankan perlunya revolusi sistemik, bukan sekadar proyek instan. Investasi besar-besaran pada akademi sepak bola modern, kerja sama dengan klub-klub Eropa, serta liga domestik yang kompetitif dan berkelanjutan menjadi syarat mutlak.

Indonesia, misalnya, telah menunjukkan geliat positif dengan pembangunan pusat pelatihan nasional di Ibu Kota Nusantara serta peningkatan level Liga 1. Namun, konsistensi menjadi tantangan terbesar di tengah dinamika politik sepak bola Tanah Air. Sementara itu, China sempat menggelontorkan dana fantastis untuk mendatangkan bintang asing dan pelatih top, tetapi hasilnya belum sepadan karena pembangunan fondasi usia dini masih timpang.

Fenomena nonton bareng di Dhaka, Jakarta, dan kota-kota lainnya adalah bukti bahwa gairah sepak bola sudah menyala. Kini tinggal bagaimana nyala itu diterjemahkan menjadi cetak biru pembinaan yang mampu membawa tim nasional sendiri ke panggung tertinggi. Sebelum itu terjadi, Argentina, Brasil, dan negara-negara mapan lainnya akan terus menjadi "rumah kedua" bagi ratusan juta pencinta si kulit bundar yang merindukan bendera sendiri berkibar di Piala Dunia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User